Abdul Gafur Masud Tarik Cuan dari Pengerjaan Proyek di Penajam Paser Utara?

Bupati Nonaktif Penajam Paser Utara Abdul Gafur Masud memungut cuan dari pengerjaan proyek di pemkab setempat? Itulah yang ditelisik KPK.

Abdul Gafur Masud Tarik Cuan dari Pengerjaan Proyek di Penajam Paser Utara?
Bupati Penajam Paser Utara nonaktif Abdul Gafur Mas'ud (kanan) berjalan keluar ruangan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (16/2/2022). Penyidik KPK melakukan pemeriksaan lanjutan terhadap Abdul Gafur Mas'ud dalam kasus tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji terkait kegiatan pekerjaan pengadaan barang dan jasa serta perizinan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur tahun 2021-2022. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/YU

INILAHKORAN, Jakarta – Bupati Nonaktif Penajam Paser Utara Abdul Gafur Masud memungut cuan dari pengerjaan proyek di pemerintahan kabupaten setempat? Itulah yang ditelisik KPK.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi alias KPK mendalami dugaan adanya permintaan uang oleh Bupati nonaktif Penajam Paser Utara Abdul Gafur Masud (AGM) kepada pihak-pihak yang terlibat pekerjaan proyek di Pemerintahan Kabupaten PPU dengan memeriksa tiga saksi.

“Senin (7/3), di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, tim penyidik memeriksa tiga saksi untuk mendalami dugaan adanya permintaan uang oleh tersangka AGM kepada pihak yang memiliki pekerjaan proyek di Pemerintahan Kabupaten PPU, baik secara langsung kepada para kontraktor maupun melalui pihak-pihak tertentu di Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Pemerintah Kabupaten PPU,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Juru Bicara KPK Ali Fikri di Jakarta, Selasa, 8 Maret 2022.

Tiga saksi tersebut, lanjut Ali, adalah Direktur Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Danum Taka Abdul Rasyid, Direktur Perumda Benua Taka Heriyanto, dan Direktur Perumda Benua Taka Energi Bahrun Genda.

Baca Juga: Gegara Kasus Abdul Gafur Masud, Makin Banyak Direktur Perusahaan di Penajam Paser Utara Dipanggil KPK

Sebelumnya pada Kamis (13/1), KPK menetapkan enam tersangka terkait dengan kasus dugaan korupsi pengadaan barang dan jasa serta perizinan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada tahun 2021-2022. Mereka terdiri atas lima penerima suap dan satu pemberi suap.

Penerima suap adalah Abdul Gafur Mas'ud (AGM), Plt. Sekretaris Daerah Kabupaten Penajam Paser Utara Mulyadi (MI), Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Penajam Paser Utara Edi Hasmoro (EH), Kepala Bidang Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara Jusman (JM), serta Nur Afifah Balqis (NAB) dari pihak swasta/Bendahara Umum DPC Partai Demokrat Balikpapan, sedangkan pemberi suap adalah Achmad Zuhdi alias Yudi (AZ) dari pihak swasta.

Dalam konstruksi perkara, KPK menjelaskan pada tahun 2021, Kabupaten Penajam Paser Utara mengagendakan beberapa proyek pekerjaan di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang serta Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Penajam Paser Utara.

Baca Juga: Empat Direktur Perusahaan Ternama Penajam Paser Utara Jadi Saksi Abdul Gafur Masud, Ini Nama-namanya

Nilai kontrak proyek itu berkisar Rp112 miliar di antaranya proyek multiyears peningkatan Jalan Sotek-Bukit Subur dengan nilai kontrak Rp58 miliar dan pembangunan Gedung Perpustakaan bernilai kontrak Rp9,9 miliar.

Atas adanya beberapa proyek tersebut, Abdul Gafur Mas'ud diduga memerintahkan Mulyadi, Edi, dan Jusman untuk mengumpulkan sejumlah uang dari para rekanan yang sudah mengerjakan beberapa proyek fisik di Kabupaten Penajam Paser Utara.

Selain itu, tersangka Abdul Gafur diduga menerima sejumlah uang atas penerbitan izin hak guna usaha (HGU) lahan sawit dan izin pemecah batu di Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Penajam Paser Utara.

KPK menduga Mulyadi, Edi, serta Jusman merupakan orang pilihan dan kepercayaan Abdul Gafur untuk dijadikan sebagai representasi dalam menerima atau mengelola uang dari berbagai proyek. Kemudian, uang itu digunakan untuk keperluan Abdul Gafur.

Baca Juga: Satu Lagi Pejabat Penajam Paser Utara Dipanggil KPK dalam Kasus Abdul Gafur Masud, Kali Ini Pejabat Lelang

Di samping itu, Abdul Gafur diduga bekerja sama dengan Nur Afifah. Mereka menerima, menyimpan, serta mengelola uang-uang yang diterima dari para rekanan ke dalam rekening bank milik Nur Afifah dan dipergunakan untuk keperluan Abdul Gafur.

KPK menduga tersangka Abdul Gafur telah menerima uang tunai Rp1 miliar dari Achmad Zuhdi yang mengerjakan proyek jalan di Kabupaten Penajam Paser Utara dengan nilai kontrak Rp64 miliar.


Editor : inilahkoran