INILAH, Bandung - Pada Januari 2019 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar mencatat neraca perdagangan Jabar surplus dari sisi nilai sebesar US$1,54 miliar.
Angka positif tersebut ditunjang surplus komoditas nonmigas sebesar US$1,58 miliar sedangkan komoditas migas defisit sebesar US$39,51 juta.
Kepala BPS Jabar Dody Herlando mengatakan, dari sisi volume perdagangan luar negeri pun terjadi surplus sebesar 358,82 ribu ton. Kontribusi itu berasal dari komoditas nonmigas surplus sebesar 433,13 ribu ton. Sedangkan, volume komoditas migas defisit sebesar 74,30 ribu ton.
“Dilihat dari transaksi perdagangan nonmigas dengan 14 negara mitra dagang utama pada periode Januari lalu Jabar mengalami defisit neraca perdagangan dengan tiga negara senilai US$291,49 juta. Yang berasal dari transaksi dengan Tiongkok, Korea Selatan, dan Taiwan,” kata Dody, Jumat (1/3/2019).
Menurutnya, masing-masing defisit dari tiga negara itu sebesar US$197,33 juta, US$67,09 juta, dan US$27,07 juta. Sedangkan, perdagangan nonmigas dengan negara utama lainnya menunjukkan surplus. Dengan total surplus dari 14 mitra dagang utama mencapai US$849,92 juta, dan total surplus nonmigas Januari 2019 mencapai US$1,58 miliar.
Dia merinci, dari sisi ekspor Januari itu nilainya mencapai US$2,58 miliar. Realisasi ini naik 9,01% dibandingkan bulan sebelumnya. Nilai ekspor nonmigas mencapai US$2,57 miliar atau naik 9,70% dibandingkan bulan lalu. Sedangkan, ekspor migas turun 49,90% menjadi US$13,84 juta.
“Secara year-on-year, ekspor nonmigas naik 0,27% total ekspor naik 0,25%. Ekspor migas (yoy) turun 4,37% dari tahun 2018,” sebutnya.
Terkait pangsa pasar, empat negara terbesar tujuan ekspor nonmigas itu yakni Amerika Serikat, Jepang, Thailand, dan Filipina.
Secara berurutan, nilainya sebesar US$0,46 miliar (18,03%), US$0,28 miliar (10,88%), US$0,21 miliar (8,11%), dan US$0,18 miliar (7,00%) dengan peranan gabungannya mencapai 44,02%.
“Filipina sejak lonjakan ekspor pada 2017 menjadi mitra dagang yang sangat penting untuk Jabar dengan komoditas utama kendaraan dan bagiannya. Dengan negara tetangga itu, pada 2018 tercatat senilai US$1,25 miliar mengungguli Thailand yang hanya senilai US$0,80 miliar,” jelasnya.
Sedangkan, dari sisi impor nilainya mencapai US$1,04 miliar atau naik 8,01% dibandingkan Desember 2018. Impor nonmigas senilai US$0,99 miliar atau naik 14,92%.Impor migas justru turun hampir separuhnya sekitar 48,97%. Angkanya, dari US$104,56 juta menjadi US$53,36 juta.
“Meski secara total nilai impor naik, namun volume impor Januari 2019 itu dari ketiga aspek justru menurun. Hal ini disebabkan turunnya volume impor migas,” tambahnya.