Ngamandian Munding Terancam Punah, Pemkab KBB Dorong Regenerasi Budaya

Ngamandian Munding di Cililin, KBB, menuju penetapan WBTb. Pemkab menyoroti krisis regenerasi dan pentingnya pelestarian di masyarakat.

Ngamandian Munding Terancam Punah, Pemkab KBB Dorong Regenerasi Budaya
Ngamandian Munding di Cililin, KBB, menuju penetapan WBTb. Pemkab menyoroti krisis regenerasi dan pentingnya pelestarian di masyarakat.

INILAHKORAN.ID- Tradisi Ngamandian Munding di Kampung Poponcol, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), kini tengah menjalani proses penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Proses tersebut menjadi momentum untuk memperkuat upaya pelestarian tradisi lokal. Sebab, pengakuan dan pencatatan sebagai warisan budaya dinilai belum cukup jika tidak diikuti upaya menjaga agar tradisi tetap hidup di tengah masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan KBB, Taufik Kurnaefi, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, bukan sekadar tercatat dalam dokumen inventarisasi.

"Pelestarian budaya tidak cukup hanya dicatat dalam dokumen atau diinventarisir data tetapi harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat," kata Taufik saat dihubungi, Kamis (5/11/2026).

Ia mengatakan, pemerintah daerah terus berupaya menyediakan ruang kreasi, memberikan perlindungan terhadap cagar budaya, serta memfasilitasi regenerasi agar generasi muda tetap mengenal dan memahami akar budayanya.

"Kami terus berupaya menyediakan ruang kreasi perlindungan cagar budaya serta memfasilitasi regenerasi agar generasi muda tidak kehilangan akar budayanya," ujarnya.

Krisis Regenerasi Jadi Tantangan Pelestarian

Taufik tidak memungkiri bahwa regenerasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menjaga keberlangsungan tradisi Ngamandian Munding.

Menurutnya, semakin sedikit generasi muda yang memahami filosofi di balik ritual memandikan kerbau tersebut. Kondisi ini dikhawatirkan membuat tradisi yang diwariskan secara turun-temurun itu kehilangan penerus.

"Karena semakin sedikit anak muda yang memahami makna filosofi di balik ritual memandikan kerbau tersebut," ujarnya.

"Tanpa penerus yang memahami dan mempraktikkannya, kekayaan budaya ini bisa lenyap begitu saja tergerus zaman," imbuhnya.

Tradisi Budaya Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Warga

Di sisi lain, Taufik menilai pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan. Salah satunya melalui pengembangan potensi wisata budaya yang tetap menjaga keaslian tradisi.

Menurutnya, tradisi lokal yang dikelola dengan tepat dapat menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.

"Ketika tradisi dipadukan dengan daya tarik pariwisata kita tidak hanya menyelamatkan warisan leluhur tetapi juga menggerakkan roda ekonomi warga lokal," jelasnya.

Ia menambahkan, sinergi pemerintah dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi Ngamandian Munding.

Pemerintah memiliki peran dalam memberikan fasilitasi dan perlindungan, sedangkan masyarakat menjadi pihak yang menjaga serta mempraktikkan tradisi tersebut dalam kehidupan nyata.

"Keduanya tidak bisa berjalan sendiri jika ingin warisan ini tetap hidup untuk generasi mendatang," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana