Mengenal Ngamandian Munding, Tradisi Warga Cililin untuk Menghormati Kerbau

Tradisi Ngamandian Munding di Kampung Poponcol, KBB, mengandung pesan moral tentang menghargai jasa kerbau dan meminta maaf atas perlakuan selama bekerja.

Mengenal Ngamandian Munding, Tradisi Warga Cililin untuk Menghormati Kerbau
Tradisi Ngamandian Munding di Kampung Poponcol, KBB, mengandung pesan moral tentang menghargai jasa kerbau dan meminta maaf atas perlakuan selama bekerja.

INILAHKORAN.ID-Kampung Poponcol, Desa Mukapayung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), menyimpan tradisi unik bernama Ngamandian Munding atau memandikan kerbau.

Tradisi yang diwariskan secara turun-temurun ini bukan sekadar ritual membersihkan hewan ternak. Di balik prosesi tersebut, tersimpan pesan moral tentang rasa terima kasih, penghormatan, dan permintaan maaf manusia kepada makhluk hidup yang telah membantu kehidupannya.

Tokoh sekaligus budayawan Bandung Barat, Hernandi Tismara, menjelaskan bahwa tradisi Ngamandian Munding berkaitan erat dengan situs cagar budaya Eyang Munding Laya yang berada di kawasan Mukapayung.

Menurut Hernandi, filosofi tradisi ini lahir dari kesadaran para petani terhadap jasa kerbau. Bagi masyarakat agraris pada masa lalu, kerbau bukan sekadar hewan ternak atau alat produksi, melainkan rekan yang bekerja keras membantu mengolah lahan sepanjang musim tanam.

"Selama kerbau bekerja kan ia dipukul dicambuk dan dimarahi. Setelah masa panen selesai dan hasilnya baik warga memandikan kerbau itu artinya meminta maaf," jelas Hernandi, Kamis (5/11/2026).

"Seolah membelah jantung mengakui bahwa selama bekerja mungkin ada perlakuan yang berlebihan," sambungnya.

Prosesi Ngamandian Munding Penuh Kelembutan

Hernandi menerangkan, prosesi Ngamandian Munding dilakukan dengan penuh kelembutan. Kerbau terlebih dahulu dibawa ke tempat yang telah disiapkan, kemudian dibersihkan dan diurut dari bagian kepala hingga kaki menggunakan air abu hangat.

Pada masa ketika layanan dokter hewan belum mudah dijangkau, para sesepuh kampung memiliki pengetahuan tradisional untuk mengenali bagian tubuh kerbau yang sakit. Mereka kemudian memberikan pijatan, perawatan menggunakan ramuan, serta doa-doa tertentu.

Kerbau juga diberi makanan khusus dan telur sebagai bentuk penghargaan atas tenaga yang telah dikeluarkan selama membantu pekerjaan petani.

"Ini bukan kepercayaan kosong semata. Di dalamnya ada pengetahuan tradisional yang luar biasa mulai dari teknik mengurut hingga mantra yang ternyata berisi petunjuk pengobatan hewan," terangnya.

"Leluhur kita sudah mempraktikkan perlindungan hewan jauh sebelum ada undang-undang yang mengaturnya," sebutnya.

Tergerus Perkembangan Zaman

Seiring perkembangan teknologi pertanian dan semakin banyaknya petani yang menggunakan traktor, tradisi Ngamandian Munding perlahan mulai jarang dilaksanakan.

Meski demikian, tradisi tersebut belum sepenuhnya hilang. Di sejumlah kawasan seperti Cipada dan Gunung Halu, warga yang masih memelihara kerbau tetap menjalankan ritual tersebut secara sederhana.

Hernandi menilai, tantangan terbesar dalam melestarikan tradisi ini bukan semata-mata berkurangnya pelaksanaan ritual, melainkan semakin sedikitnya orang yang memahami nilai dan filosofi di baliknya.

"Tantangannya bukan pada keinginan warga, tapi karena semakin sedikitnya orang yang memahami makna sebenarnya di balik ritual tersebut," ungkapnya.

Ngamandian Munding Menuju Warisan Budaya Takbenda

Upaya pelestarian tradisi Ngamandian Munding kini mendapat perkembangan positif. Tradisi asal Kampung Poponcol tersebut disebut telah lolos tahap verifikasi dan sedang menjalani proses penetapan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia.

Hernandi berharap pengakuan tersebut nantinya tidak hanya mengangkat tradisi masyarakat Mukapayung ke tingkat nasional, tetapi juga menjadi sarana untuk mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi muda.

"Dengan disahkannya sebagai WBTb, kami berharap tradisi Ngamandian Munding bukan sekadar mengangkat nama adat ke panggung nasional, tapi menjadi pengingat bagi generasi muda tentang satu hal yang sering dilupakan," ucapnya.

"Karena di dunia ini kita tidak hidup sendirian dan setiap makhluk yang membantu kita berhak dihargai dan dimintai maaf," pungkasnya.***


Editor : JakaPermana