Kapolsek Cililin Ungkap Kronologis Kasus Dugaan Penyekapan TKW di Dubai
Kasus dugaan penyekapan warga Desa Cililin yang bekerja di luar negeri menjadi sorotan publik setelah berita tersebut viral di media sosial TikTok dan Facebook.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Kasus dugaan penyekapan warga Desa Cililin yang bekerja di luar negeri menjadi sorotan publik setelah berita tersebut viral di media sosial TikTok dan Facebook.
Kapolsek Cililin Iptu Isman Rusmandijanto mengaku pihaknya telah mendatangi keluarga korban untuk menelusuri fakta di lapangan dan menyusun kronologi lengkap peristiwa yang menimpa Sri Nurhaida Pratiwi (35), warga Kampung Sukatani RT 03 RW 05, Desa Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB).
Dia menjelaskan, Sri berangkat ke Dubai pada 13 September 2026 melalui penyalur yang diduga berbasis di Ciranjang, Kabupaten Cianjur dan kini keberadaannya belum dapat dipastikan secara langsung oleh keluarga.
"Berdasarkan hasil pendataan Polsek Cililin, Sri Nurhaida Pratiwi berangkat pada 13 September 2026 pukul 17.30 WIB dengan alasan akan bekerja ke Dubai melalui sponsor bernama Hj. Yeti yang berdomisili di Ciranjang, Cianjur dan disalurkan melalui PT. Buana di Jakarta Timur," kata Isman dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).
Isman mengungkapkan, Sri berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pada 14 September 2026 pukul 05.00 WIB dan tiba di Dubai pada 15 September 2026 pukul 14.20 WIB.
"Selama sekitar 15 hari pertama, Sri bekerja sebagai asisten rumah tangga di wilayah Abu Dhabi," ungkapnya.
Namun karena merasa tidak betah dan tidak cocok dengan tempat kerjanya, Sri meminta dipulangkan namun tidak mendapat tanggapan dari pihak penyalur, hingga akhirnya ia memutuskan kabur dari rumah majikan.
Saat melarikan diri, Sri diduga bertemu seorang perempuan warga negara Indonesia yang dikenal dengan panggilan "Bunda", yang diduga berasal dari Cianjur.
"Setelah itu, Sri kabarnya bekerja pada seorang warga Bangladesh namun lokasinya tidak diketahui pasti," ucapnya.
Kekhawatiran keluarga memuncak pada 3 Oktober 2026, ketika Sri mengirim pesan singkat melalui WhatsApp menggunakan nomor asing dan menyampaikan bahwa ia sedang disekap serta meminta keluarga melaporkan kondisinya ke KJRI Dubai atau pihak berwenang.
"Tak lama setelah berita viral, keluarga menerima pesan suara yang diklaim berasal dari Sri, menyatakan dirinya dalam keadaan baik dan sudah bekerja, serta meminta keluarga menghapus postingan di media sosial," ujarnya.
Namun, permintaan untuk melakukan panggilan video atau menerima foto terbaru selalu diabaikan. Perilaku ini yang justru membuat keluarga semakin khawatir, karena Sri yang dikenal aktif dan responsif tiba-tiba hanya mau berkomunikasi melalui pesan suara saja.
"Keluarga menduga bahwa apa yang dikatakan Sri kemungkinan besar berada di bawah tekanan, karena bukan kebiasaan dirinya menolak video call," paparnya.
Hingga saat ini, terang Isman, keluarga telah mengirimkan permohonan bantuan kepada setidaknya 16 lembaga dan pejabat terkait, mulai dari KJRI Dubai, Kementerian Luar Negeri, BP2MI, kepolisian, pemerintah daerah hingga organisasi pendamping pekerja migran.
"Upaya tersebut juga dilakukan melalui organisasi AMAN (Anyam Manfaat Nusantara)," terangnya.
Editor : Doni Ramdhani
