Optimalkan Angkutan Barang, Strategi Jitu KAI Siasati Pandemi
Pandemi yang diikuti aturan PPKM memukul bisnis angkutan penumpang. Untuk itu, KAI kini mengoptimalkan kereta angkutan barang.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pandemi yang diikuti aturan pembatasan mobilitas masyarakat otomatis memukul bisnis angkutan penumpang kereta. Untuk itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuat strategi khusus.
Pembatasan mobilitas membuat sejumlah KA jarak menengah dan jauh harus dihentikan operasinya. Dampaknya, angkutan penumpang KA menurun untuk berbagai kelas. Pada 2020 lalu, angka penurunan itu berkisar antara 62,89% hingga 77,45%.
Memang, seiring berjalannya program vaksinasi serta tren berkurangnya kasus Covid-19 diikuti pelonggaran pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) angkutan penumpang KA mulai naik. Meskipun belum kembali pulih seperti sebelum pandemi.
Baca Juga: KAI Cirebon Larang Anak di Bawah 12 Tahun Naik Kereta
Menghadapi pandemi berkepanjangan ini, KAI tidak berdiam diri. Melalui rilis resmi, Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo menegaskan pihaknya kini terus melakukan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi agar tetap bertumbuh di situasi krisis.
Adalah bisnis angkutan barang yang diyakini sebagai salah satu kunci menjaga performa bisnis selama pandemi. Kerja keras yang dilakukan membuahkan hasil gemilang yakni kinerja angkutan barang KAI menunjukkan tren positif.
Pada semester I 2021 ini, sebanyak 28,2 juta ton dilayani dengan angkutan barang. Volume tersebut naik 8,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 25,9 juta ton.
Baca Juga: KAI Services Tambah Pembayaran Dompet Digital
KAI mengoperasikan KAI Logistik Exspress untuk angkutan barang. Layanan ini dikelola anak perusahaan yakni PT KAI Logistik. Angkutan barang ini mencakup layanan kurir dan logistik, serta terminal logistik baik untuk angkutan barang retail maupun korporat.
Optimalisasi angkutan barang KAI itu direspons positif Ketua Jaringan Pengusaha Nasional (Japnas) Jawa Barat Iwan Gunawan.
“Di era digitalisasi, jasa logistik berperan penting. Digitalisasi tidak optimal bilamana tidak didukung jasa logistik yang baik. Oleh karenanya, jasa logistik, jasa kurir pasti terus tumbuh,” kata Iwan kepada InilahKoran, belum lama ini.
Seiring bertumbuhnya jasa logistik bermunculan operator jasa logistik hingga memperketat persaingan. Menurutnya, operator logistik yang mampu memenuhi kebutuhan konsumen-lah yang dipastikan bisa menguasai pasar.
Baca Juga: Hadirkan Pembayaran QRIS di Kereta, KAI Services Gandeng ShopeePay
Kebutuhan konsumen terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), jelas Iwan, menyebutkan menyangkut kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman, jaminan keamanan barang yang dikirim serta tarif kompetitif. Iwan berpendapatan, KAI memiliki nilai tambah untuk bisa memenuhi kebutuhan konsumen jasa logistik tersebut.
“Dengan sarana KA yang memiliki jalur (rel) sendiri, kebutuhan kecepatan dan ketepatan waktu kirim bisa dipenuhi. Jasa logistik KA tidak terjebak kemacetan di jalan raya. Belum lagi risiko keamanan bisa lebih diminimalisir. Dari sisi tarif menjadi lebih kompetitif dibanding operator jasa logistik lainnya,” terang Iwan.
Dengan semua nilai tambah tersebut, lanjut Iwan, KAI hanya tinggal menggencarkan promosi serta sosialisasi untuk menggaet pelanggan. Khususnya pelanggan UMKM yang di Jawa Barat saja jumlahnya cukup banyak. UMKM inilah yang disebut Iwan bisa menjadi pasar potensial bagi jasa logistik KAI.
Segmen pasar UMKM yang bisa disasar bukan hanya yang memiliki volume produksi besar. Segmen ritel maupun reseller dengan volume kecil pun merupakan pasar potensial seiring meningkatnya pemanfaatan e-commerce saat ini.
Pelaku usaha mikro di Kota Bandung, Agus Hermawan, mengakui dirinya memang membutuhkan operator jasa logistik yang bisa menjamin kecepatan, ketepatan, keamanan kiriman barangnya maupun tarif kompetitif.
“Soal tarif memang harus kompetitif, terutama bagi pelaku usaha mikro yang jumlah kirimannya masih sedikit sebatas ritel,” harap Agus.
Dari pengalamannya, ongkos kirim yang ditanggung konsumennya bisa lebih tinggi dibandingkan harga produk kicimpring buatannya. Hal ini terjadi karena operator jasa logistik mengenakan beaya berdasarkan volume. Jadi, panjang, tinggi serta lebar produk yang dikemas ikut dihitung.
Jika KAI bisa memberikan tarif lebih kompetitif, tentu saja hal itu bisa menjadi solusinya. Menurut Agus layanan angkutan barang KAI bisa menjadi alternatif bagi usaha mikro kecil yang konsumennya masih sedikit.
“Terutama untuk kiriman jarak menengah dan jarak jauh,” imbuhnya.
Agus mengaku, selama ini belum menggunakan jasa logistik KAI karena ketidaktahuannya. Itulah sebabnya senada dengan Iwan, Agus berpendapat perlunya sosialisasi dan promosi secara masif mengenai layanan angkutan barang, logistik maupun kurir yang disediakan BUMN bidang transportasi massal itu.
Baca Juga: KAI Resmikan KA Baturraden Ekspres Rute Purwekerto-Bandung
Selain itu, dia menyarankan KAI memperbanyak mitra-mitra sebagai ujung tombak layanan. Hal itu dianggap Agus supaya konsumen tidak harus selalu ke stasiun KA untuk berkirim barang.
“Syukur-syukur bisa seperti operator jasa logistik lain yang layanannya dimana-mana ada. Konsumen kan bisa semakin mudah menggunakan jasa logistik KAI,” tandasnya.
Lain halnya dengan Vianti yang mengaku pernah menggunakan jasa KAI Logistik Express untuk berkirim barang dari Bandung ke Nganjuk. Vianti mengaku puas dengan layanan yang diberikan KAI tersebut.
“Barang yang saya kirim tidak banyak. Tapi, tarifnya jauh lebih murah dibandingkan kalau saya berkirim lewat jasa kiriman lainnya. Tidak sampai 24 jam, kiriman itu sudah sampai ke tangan orang yang dituju di Nganjuk,” terang Vianti yang tidak mempermasalahkan meski harus ke stasiun untuk berkirim maupun mengambil barang kiriman.
Komitmen menyediakan layanan kurir dan logistik terbaik melalui KAI Logistik Express terus dilakukan. Terbaru, itu berupa layanan premium KALOG+ yang merupakan layanan premium yang menawarkan pengantaran paket hingga ke alamat tujuan.
Tarif yang diberlakukan layanan KALOG+ ini sudah termasuk pengantaran melalui ojek daring hingga ke alamat penerima dalam kota dengan radius 10 km. Layanan ini bisa dinikmati bagi pengiriman barang hingga 10 kg.
“Kami berkomitmen menawarkan kemudahan dan kenyamanan bagi pelanggan. Dengan tarif kompetitif,” kata Plt Direktur Utama KAI Logistik TLN Ahmad Malik Syah dalam keterangan resminya, belum lama ini.
Dia menyebutkan, saat ini ada 125 titik outlet yang tersebar di Jawa, Sumatera, dan Bali. Ke depan, layanan itu akan terus diperluas hingga Kalimantan dan Sulawesi.
Selain untuk kebutuhan pelanggan, layanan KALOG+ diharapkan berkontribusi terhadap pengemudi ojek daring. Dengan kata lain, layanan ini bisa menjadi salah satu solusi pemulihan ekonomi bagi yang terdampak pandemi Covid-19.
Pandemi memang belum berakhir. Namun, dengan strategi jitu mengoptimalkan angkutan barang, KAI layak optimistis mampu terus tumbuh di tengah krisis akibat pandemi Covid-19 ini. (doni ramdhani)
Editor : inilahkoran


