Paguyuban Asep Dunia Dorong Pemberdayaan Ekonomi Anggota Lewat KAA ke-7
Paguyuban Asep Dunia mendorong pemberdayaan ekonomi dan kemandirian anggota melalui KAA ke-7 di Bandung, sekaligus memperkuat solidaritas dan budaya Sunda.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Paguyuban Asep Dunia (PAD) mendorong pemberdayaan ekonomi, sebagai salah satu agenda utama pengembangan organisasi. Melalui Konferensi Asep-Asep (KAA) ke-7, paguyuban pemilik nama Asep itu ingin memperluas manfaat organisasi sekaligus meningkatkan kemandirian anggotanya.
Ketua Umum Paguyuban Asep Dunia, Asep Jaelani mengatakan, PAD tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul dan mempererat persaudaraan. Organisasi harus mampu mengoptimalkan potensi kolektif anggota, agar menghasilkan kegiatan produktif yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan.
"Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpul dan bersilaturahmi, tetapi juga harus mampu menghadirkan kegiatan yang memberikan nilai tambah, membuka peluang dan meningkatkan kesejahteraan anggotanya," kata Asep Jaelani dalam KAA ke-7, Sabtu (7/11/2026).
Menurutnya, pemberdayaan ekonomi menjadi salah satu prioritas yang perlu dikembangkan melalui program nyata. PAD diharapkan mampu mendorong profesionalitas anggota, memperluas peluang usaha dan membangun kemandirian ekonomi melalui potensi yang dimiliki masing-masing anggota.
Dalam upaya mengembangkan sektor ekonomi, PAD juga mendapat dukungan yang menyatakan kesiapannya membina organisasi. Pendampingan itu, diharapkan menjadi langkah awal dalam mengembangkan potensi ekonomi anggota sekaligus memperkuat kemampuan organisasi menjalankan program pemberdayaan.
Asep menjelaskan, pengembangan ekonomi menjadi bagian dari empat pesan utama yang disampaikan kepada seluruh anggota dalam KAA ke-7. Selain pemberdayaan dan kemandirian, organisasi juga menekankan penguatan silaturahmi dan solidaritas, pelestarian budaya serta pemahaman terhadap anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART).
Penguatan solidaritas, dinilai menjadi modal penting dalam mengembangkan organisasi. Anggota diharapkan saling mendukung tanpa membedakan profesi, usia maupun latar belakang sosial. Dengan jaringan persaudaraan yang kuat, berbagai potensi anggota dapat dikembangkan melalui kerja sama.
"Sesama anggota harus saling mendukung, saling menjaga dan saling memajukan. Jangan sampai perbedaan latar belakang menjadi penghalang bagi kita untuk membangun kebersamaan," ucapnya.
Dari sisi kelembagaan, PAD telah berkembang selama 16 tahun sejak didirikan pada 1 Agustus 2010. Saat ini organisasi memiliki 24 Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan 17 Dewan Perwakilan Wilayah (DPW) yang tersebar di berbagai daerah.
Sebaran kepengurusan DPD, mencakup sejumlah wilayah di Jawa Barat. Beberapa daerah menggabungkan wilayah administrasi dalam satu kepengurusan, seperti Bogor Raya yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Tasikmalaya Raya serta Bekasi Raya.
Jaringan organisasi juga berkembang hingga luar Pulau Jawa, mulai dari Aceh sampai Papua. PAD bahkan telah memiliki Dewan Perwakilan Luar Negeri (DPLN). Jangkauan itu, menjadi modal sosial yang dapat dimanfaatkan dalam memperluas kerja sama dan mengembangkan potensi anggota.
Ketua Panitia Pengarah KAA ke-7, Asep Ruslan MS menjelaskan, PAD sejak awal dibentuk sebagai gerakan sosial yang mempertemukan para pemilik nama Asep di berbagai wilayah. Organisasi didirikan oleh Asep Iwan Gunawan, Asep Kambali, Asep Bambang Fauzi, Asep RS dan Asep Dudi di Jakarta pada 1 Agustus 2010.
"Paguyuban Asep Dunia adalah gerakan sosial yang bertujuan mempertemukan para pemilik nama Asep di seluruh dunia untuk bersilaturahmi, dan mengaktualisasikan diri secara konkret agar berdaya dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan negara," kata Asep Ruslan.
Dia berharap, KAA ke-7 mampu melahirkan gagasan positif sekaligus memperkuat solidaritas seluruh anggota. Keberadaan organisasi harus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga persatuan, kesatuan dan keharmonisan masyarakat.
Sementara itu, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengapresiasi keberadaan komunitas Asep Sedunia yang dinilai memiliki keunikan sekaligus menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat Sunda.
Dia menilai, komunitas yang terbentuk sejak 2010 itu telah berkembang menjadi kelompok dengan identitas dan eksistensi tersendiri. Nama Asep memiliki kekhasan yang berkaitan erat dengan budaya Sunda, sehingga keberadaan paguyuban turut memberikan warna dalam kehidupan sosial masyarakat.
"Tentu harapnnya penyelenggaraan KAA ke-7 di Kota Bandung dapat memberikan manfaat lebih luas. Tidak hanya bagi keluarga besar Asep, tetapi juga masyarakat Indonesia," kata Farhan.
Editor : Ahmad Sayuti

