Pemkot Tasik Gandeng Seven Barber Layani ODGJ, Diky Soroti Kebutuhan Rumah Singgah
Pemkot Tasikmalaya dan Seven Barber menggelar bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan cukur rambut bagi warga binaan Yayasan Mentari Hati.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Kepedulian terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) diwujudkan melalui kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Kota (Pemkot) Tasikmalaya dan seven barber.
Kolaborasi tersebut diwujudkan dalam kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis dan cukur rambut bagi warga binaan Yayasan Mentari Hati, Jalan Letjen Mashudi, Kecamatan Tamansari, Kota Tasikmalaya, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan yang turut dihadiri Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra itu menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan kesehatan dan perawatan diri ODGJ. Selain pelayanan langsung, kegiatan tersebut juga membuka ruang komunikasi mengenai kebutuhan yayasan dalam mendampingi ratusan warga binaannya.
Ketua Yayasan Mentari Hati, Dadang Heryadi, menyambut baik kunjungan dan perhatian yang diberikan Pemkot Tasikmalaya bersama Seven Barber. Menurutnya, kehadiran pemerintah menjadi bentuk kepedulian yang berarti bagi warga binaan maupun pengelola yayasan.
"Tanggapannya sangat bahagia, sangat berterima kasih, alhamdulillah sekarang bapak wakil mewakili pak wali kota telah datang bersilaturahmi ke tempat kami. Bener-bener bahagia, telah ditengok sama bapak kita semua," kata Dadang.
Dadang menyebutkan, saat ini Yayasan Mentari Hati menampung sebanyak 264 ODGJ. Ia menjelaskan, akses pelayanan kesehatan bagi warga binaan juga semakin terbantu melalui dukungan puskesmas dan kepemilikan dokumen administrasi kependudukan.
"Ya, kalau cek kesehatan gratis kan sudah sering, rutin, kita juga kalau ada sobat jiwa yang sakit sudah tidak ragu untuk datang ke puskesmas, puskesmas juga sudah welcome," ujarnya.
Ia menambahkan, warga binaan kini telah memiliki KTP dan kartu keluarga (KK) masing-masing, tidak lagi menumpang pada dokumen miliknya. Menurut Dadang, mereka juga telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan masuk dalam kelompok desil lima ke bawah.
"Seven barber juga sudah rutin untuk merapihkan rambut sobat jiwa yang ada disini," katanya.
Manager Seven Barber, M. Zulfikar Syarif, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kepedulian sosial sekaligus rangkaian peringatan Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya.
"Jadi kita ini lebih ke sosial, memperingati hari jadi kota tasik juga, berkunjung ke sahabat-sahabat kita yang ada diaini," ujar Zulfikar.
Selain memberikan layanan cukur rambut, Seven Barber turut menyerahkan alat cukur baru untuk mendukung kegiatan tersebut. Ia menilai, proses pelayanan kepada warga binaan berjalan dengan baik karena mereka sudah terbiasa berinteraksi dengan tim Seven Barber.
"Gak susah kalau cukur mereka, sobat jiwa disini sudah biasa, sudah kenal juga, gak ada yang aneh aneh," ucapnya.
"Kita harus saling suport sesama manusia," tambah Zulfikar.
Diky Chandra Dorong Sinergi dan Dukungan untuk Yayasan
Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra menegaskan, pemerintah daerah membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menjawab persoalan sosial di masyarakat. Menurutnya, keterbatasan kemampuan pemerintah membuat sinergi dengan komunitas, pelaku usaha, dan elemen masyarakat lainnya menjadi penting.
"Semua sudah tahu kondisi pemerintahan di seluruh Indonesia termasuk kota Tasikmalaya tidak mungkin mengerjakan sendiri, maka butuh sekali sinergitas sektor dan elemen lain," kata Diky.
Ia mengapresiasi upaya Yayasan Mentari Hati yang selama ini mendampingi warga dengan gangguan jiwa. Diky juga menyoroti kebutuhan fasilitas penanganan sosial, termasuk rumah singgah bagi lansia dan ODGJ.
"Mentari hati ini luar biasa, pemkot hari ini belum punya rumah singgah buat orang jompo maupun ODGJ dan lain-lain," ujarnya.
Diky menyebut, pengelolaan yayasan membutuhkan dukungan berkelanjutan. Salah satu kebutuhan yang disampaikan pengelola, kata dia, berkaitan dengan rencana pengelolaan sampah yang memerlukan biaya.
"Saya tidak menjanjikan apa-apa tapi akan berusaha maksimal untuk apa yang disampaikan, apakah itu dari pusat atau CSR, insyaAllah saya akan berikhtiar semaksimal mungkin," tuturnya.
Ia juga mengajak para agnia atau kalangan yang memiliki kemampuan ekonomi di Kota Tasikmalaya untuk turut membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Berikutnya sinergitas lainnya yaitu diharapkan para agnia di kota Tasikmalaya yuk kita juga sama-sama berbagi sebelum kita mati yang pada akhirnya kita juga akan mati, sebelum kita mati diisi hari-hari kita berbagi dan mereka sangat butuh uluran tangan," katanya.
Menurut Diky, pola pembinaan yang dilakukan Yayasan Mentari Hati juga berkontribusi dalam membantu penanganan persoalan sosial. Ia menyebut sejumlah warga dari berbagai daerah mendapat pendampingan di yayasan tersebut. "Kami terima kasih, tanpa PHP saya akan ikhtiar," ucapnya.
Dinkes Fokus pada Penyakit Umum
Sementara itu, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, Suryaningsih, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut melibatkan tim Puskesmas Tamansari untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga binaan Yayasan Mentari Hati.
"Hari ini kita melakukan kegiatan bareng seven barber memberikan intervensi pelayanan terhadap warga ODGJ mentari hati," kata Suryaningsih.
Ia menyebut pemeriksaan difokuskan pada keluhan kesehatan yang umum dialami warga binaan, seperti penyakit kulit, batuk, dan flu.
"Fokus biasanya terhadap penyakit umum terjadi warga ODGJ seperti penyakit kulit, dan batuk flu yang ada di mentari hati," ujarnya.
Suryaningsih mengungkapkan, berdasarkan data Dinas Kesehatan, jumlah ODGJ berat (Skizofren) di Kota Tasikmalaya sampai dengan Oktober 2026 tercatat sekitar 26 orang usia 15 sampai 19 tahun, 839 orang usia 20 sampai dengan 44 tahun, 341 orang 45 sampai dengan 59 tahun, 82 orang 60 sampai 69 tahun, diatas 70 tahun sebanyak 38 orang, dengan total sekitar 1.335 orang. Mereka tersebar di 10 kecamatan, mulai dari wilayah perkotaan hingga pelosok.
Menurutnya, persoalan sosial dan ekonomi menjadi salah satu faktor yang dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan jiwa. Faktor pemicunya beragam, mulai dari persoalan keluarga hingga tekanan keuangan.
Untuk mendukung penanganan, Pemkot Tasikmalaya memiliki layanan kesehatan jiwa melalui fasilitas rumah sakit dan puskesmas. Pendampingan juga dilakukan oleh tim Sahabat Jiwa yang secara rutin menjalankan skrining serta membantu warga dalam menjalani pengobatan.
Suryaningsih menjelaskan, pemulihan ODGJ memerlukan pendampingan berkelanjutan, termasuk kepatuhan terhadap pengobatan yang diberikan tenaga kesehatan setelah pasien menjalani perawatan di rumah sakit.
Melalui kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, dan yayasan sosial, pelayanan bagi ODGJ diharapkan tidak hanya mencakup penanganan medis, tetapi juga perhatian terhadap kebutuhan sehari-hari, perawatan diri, serta dukungan sosial yang berkelanjutan.
Editor : Ahmad Sayuti
