Pemprov Jabar Tengah Gundah, Deflasi Mengancam di Akhir 2024

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman Suryatman menuturkan, deflasi sudah terjadi selama tiga bulan terakhir. Bila ini terus berlangsung, maka alamat buruk bagi perekonomian Jawa Barat di penghujung 2024.

Pemprov Jabar Tengah Gundah, Deflasi Mengancam di Akhir 2024
Sekda Jabar Herman Suryatman

INILAHKORAN, Bandung - Pemerintah Provinsi Jawa Barat tengah gundah, ancaman deflasi terjadi di akhir 2024.

Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Herman SUryatman menuturkan, deflasi sudah terjadi selama tiga bulan terakhir. Bila ini terus berlangsung, maka alamat buruk bagi perekonomian Jawa Barat di penghujung 2024.

Lantaran akibat deflasi, daya beli masyarakat menurun. Dampaknya perputaran ekonomi mandeg dan otomatis produksi juga amblas.

"Harga turun, produksinya turun. Pasti berdampak. Jadi ini, naik ulah (jangan). Jadi harus stabil," kata Sekda Herman di Kota Bandung baru-baru ini.

Menghadapi situasi ini, Sekda Herman mengaku Pemprov Jabar tengah menyiasati empat strategi, antaranya menjamin ketersediaan pasokan kebutuhan masyarakat, memastikan stabilitas harga, membangun komunikasi dengan seluruh stakeholders dan terakhir mobilitas atau aksesibilitas harus dipastikan terjamin.

"Kami jaga itu. Tapi untuk tiga bulan terakhir, kami harus waspada karena terjadi deflasi. Itu saya kira yang harus kami jaga sampai Desember. Pengendalian inflasi, ketahanan pangan dan menghadapi akhir tahun (libur Natal dan Tahun Baru," ucapnya.

Serta tentunya kata dia, juga mengenai persoalan keamanan, seiring menghadapi Pilkada serentak 2024 dan transportasi serta sampah, terutama Bandung Raya

"Kurang lebih isu aktual menhelang akhir tahun di kisaran itu," tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, Indonesia mengalami deflasi 0,12 persen secara bulanan pada September 2024. Ini adalah deflasi kelima berturut-turut selama 2024 sekaligus menandakan bahwa kondisi perekonomian Indonesia mengalami tekanan yang tidak biasa.

Deflasi berturut-turut pertama kali terjadi pada Mei 2024 lalu, sebesar 0,03 persen month to month. Lalu di Juni menyentuh 0,08 persen dan tak lebih baik pada Juli dengan 0,18 persen. Deflasi kemudian mulai membaik pada Agustus yakni kembali ke level 0,03 persen secara bulanan dan kembali memburuk pada bulan lalu.

Deflasi dalam lima bulan terakhir secara umum disumbang oleh penurunan harga komoditas bergejolak (volatile food). Secara khusus, pada September 2024, komponen harga bergejolak mengalami deflasi sebesar 1,34 persen, dengan andil terhadap inflasi umum sebesar 0,21 persen.

Komoditas utama yang berperan dalam deflasi bulanan yaitu cabai merah sebesar 0,09 persen, cabai rawit sebesar 0,08 persen, telur ayam ras dan daging ayam ras masing-masing sebesar 0,02 persen, serta tomat, daun bawang, kentang, dan wortel masing-masing sebesar 0,01 persen. ***


Editor : Ahmad Sayuti