Deflasi Jawa Barat Bukan Karena Daya Beli Anjlok, Ini Penjelasan Disperindag Jabar
Disperindag Jawa Barat menegaskan fenomena deflasi Juli 2026 bukan disebabkan oleh pelemahan daya beli masyarakat, melainkan melimpahnya pasokan pangan
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menilai fenomena perlambatan konsumsi masyarakat yang tercermin dari deflasi pada Juli 2026 tidak bisa serta-merta diartikan sebagai melemahnya daya beli.
Di balik turunnya harga sejumlah komoditas, terdapat faktor pergeseran pengeluaran rumah tangga serta melimpahnya pasokan pangan yang menekan harga di tingkat pasar.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat, Nining Yuliastiani mengatakan, dinamika inflasi dan konsumsi masyarakat harus dibaca secara komprehensif. Menurutnya, pada Juli terdapat perubahan pola belanja masyarakat karena bertepatan dengan dimulainya tahun ajaran baru.
"Jadi ini ada kecenderungan pergeseran untuk kemudian memindahkan keuangan yang mereka miliki dari mulai untuk dulu pola konsumsi rumah tangganya, nah pada saat ada tahun ajaran baru ini mereka lebih mementingkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan," kata Nining saat dihubungi INILAHKORAN.ID, Minggu (9/8/2026).
Pergeseran pengeluaran tersebut membuat sebagian rumah tangga mengurangi konsumsi pada sektor lain untuk sementara waktu. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan harga dan konsumsi masyarakat selama Juli.
Namun, faktor daya beli bukan satu-satunya penyebab. Disperindag mencatat harga sejumlah komoditas pangan justru mengalami penurunan karena produksi yang melimpah dan pasokan yang berlebih.
Komoditas protein hewani seperti telur ayam ras dan daging ayam ras menjadi contoh paling nyata. Produksi yang tinggi, ditambah berkurangnya serapan saat masa libur sekolah dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), menyebabkan stok menumpuk di pasar.
"Untuk komoditas protein hewani ayam, telur ayam, dan kemudian daging ayam itu kan mengalami penurunan yang cukup signifikan. Ini karena surplusnya kita luar biasa, produksi kita besar," ujarnya.
Meski mulai terjadi kenaikan harga pada awal Agustus, Nining menegaskan kondisinya masih dalam batas normal dan jauh dari Harga Eceran Tertinggi (HET).
"Memang ada kecenderungan kenaikan dari harga komoditas protein hewani, tapi masih di bawah yang normal. Apalagi masih jauh dari HET," katanya.
Situasi serupa terjadi pada komoditas hortikultura. Panen yang berlangsung serentak di sejumlah sentra produksi nasional membuat pasokan cabai dan bawang merah melimpah sehingga harga tetap terkendali.
"Hortikultura juga posisinya ada panen yang merata di semua tempat. Misalnya cabai, terus kemudian bawang merah, itu posisinya di Jatim, Jateng, Jabar itu panen semua, sehingga stok atau pasokan ini relatif stabil," ungkap Nining.
Harga Daging Sapi di Atas HET
Meski mayoritas harga pangan terkendali, Disperindag mengakui masih terdapat tekanan pada komoditas tertentu, terutama daging sapi. Harga daging sapi hingga kini masih berada di atas HET karena tingginya ketergantungan Jawa Barat terhadap pasokan dari luar daerah dan impor.
"Jadi 30 persen kebutuhan daging sapi itu baru bisa kita penuhi di Jawa Barat, tapi sisanya itu kita impor dari luar daerah antarprovinsi atau impor dari negara lain," katanya.
Selain daging sapi, komoditas kedelai juga menghadapi persoalan serupa. Ketergantungan terhadap impor membuat harga sangat rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya distribusi.
"Karena rupiah ini itu posisinya mengalami penurunan, itu mengakibatkan kalau kita semakin impor kita juga harganya makin mahal," ujar Nining.
Tantangan terbesar saat ini kata dia, justru berada pada komoditas yang masih bergantung pada impor, terutama daging sapi dan kedelai, yang rentan terdampak pelemahan rupiah serta kenaikan biaya logistik.
Editor : Ahmad Sayuti


