Bazar Ramadan, Strategi Pemprov Jabar Bangkit dari Deflasi

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat, saat ini sedang terjadi deflasi dimana faktor utamanya seiring adanya diskon tarif listrik oleh PLN. 

Bazar Ramadan, Strategi Pemprov Jabar Bangkit dari Deflasi
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat, saat ini sedang terjadi deflasi dimana faktor utamanya seiring adanya diskon tarif listrik oleh PLN. 

INILAHKORAN, Bandung - Tidak dapat dipungkiri, saat ini Jawa Barat tengah dihantui Deflasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat, saat ini sedang terjadi Deflasi dimana faktor utamanya seiring adanya diskon tarif listrik oleh PLN. 

Menurut BPS Jabar, kelompok pengeluaran yang mengalami Deflasi yaitu Kelompok Perumahan, Air, Listrik dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 7,89 persen, dengan memberikan andil Deflasi sebesar 1,34 persen.

Kemudian Kelompok Informasi, Komunikasi, serta Jasa Keuangan dengan menyumbang Deflasi sebesar 0,11 persen.

Merespon hal ini, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (Diskuk) mencoba menyiasatinya dengan strategi berupa menggelar Bazar Ramadan 2025 pada Jumat 21 Maret 2025 kemarin.

Plh Kepala Diskuk Jabar Yuke Mauliani Septina mengatakan, Bazar Ramadan ini sebagai stimulus, untuk merangsang daya beli masyarakat jelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri 1446 Hijiriah.

Sekaligus kata dia, sebagai upaya mengendalikan inflasi yang dapat timbul akibat gejolak harga. Seiring dengan tingginya permintaan masyarakat akan kebutuhan pokok untuk menghadapi Lebaran.

Mengingat Deflasi maupun inflasi kata dia, harus dijaga stabilitasnya supaya jangan terlalu tinggi maupun rendah.

"Nanti akan kita hitung evaluasi ekonominya, jadi berapa setiap tenant atau UMKM pendapatannya berapa," ujar Yuke.

Gelaran Bazar Ramadan 2025 oleh Diskuk ini di Gedung Sentral Bisnis Koperasi dan UMKM (Senbik), Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung beberapa waktu lalu ini sambung Yuke, sejatinya adalah agenda tahunan.

"Masyarakat dari pagi sudah datang. Saya melihat (menurunnya daya beli) enggak seperti itu. Alhamdulillah masih kondisi baik untuk masyarakat," ucapnya.

Terlebih dalam Bazar Ramadan 2025 ini lanjut dia, keterlibatan UMKM menjadi prioritas untuk dipromosikan kepada masyarakat.

Total 60 UMKM ambil bagian dalam agenda ini. Sekaligus juga dirangkaikan dengan gerakan pangan murah (GPM), untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat menghadapi Lebaran.

Sebab produk yang ditawarkan, selain beragam dan berkualitas, juga sangat murah ketimbang di pasar. Sebab telah disubsidi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Diskuk.

"Ini bentuk kepedulian Diskuk kepada masyarakat sekitar, karena disini harga sembako di bawah harga pasar. Jadi bisa membantu," kata Yuke.

Dia berharap, momen ini dapat dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat Bandung untuk memenuhi kebutuhan, khususnya jelang Lebaran.

Mengingat, sudah menjadi rahasia umum terjadi kenaikan harga kebutuhan pokok setiap menjelang Lebaran akibat tingginya permintaan dari masyarakat.

"Harapannya, selain berbagi juga bisa dimanfaatkan masyarakat. Karena kebutuhan segala macam disini ada dan disubsidi juga," ucapnya.

Dalam Bazar Ramadan Diskuk Jabar 2025 bertajuk Menebar Kebaikan, Menuai Keberkahan ini selain gelar produk UMKM, Gerakan Pangan Murah (GPM), juga dilakukan bakti sosial.

Total ada 60 UMKM yang menjajakan produk mereka, mulai dari fesyen, produk makanan olahan, minuman, hingga kerajinan ekraf. Selain itu juga ada layanan Samsat keliling, pemeriksaan kesehatan gratis serta produk sayur dan buah. 


Editor : JakaPermana