INILAH, Bandung - Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) kini menggagas perubahan pelayanan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dari konvensional ke digital. Transformasi tersebut diakui untuk menjawab kebutuhan pelayanan perbankan yang semakin cepat.
Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto mengatakan, pihaknya memiliki sejumlah strategi untuk mengantisipasi era digital yang kini semakin masif. Terutama dalam bidang daya saing untuk perubahan bisnis ke depan di era digital. Untuk itu, Perbarindo menggagas program transformasi BPR is Now.
"Kami mentransformasikan menjadi BPR yang mampu berjalan sesuai dengan perubahan bisnis yang saat ini berkembang. Kami sedang kolaborasi, bagaimana mengubah pelayanan dari konvensional ke digital," kata Joko usai peresmian Rumah Perbarindo Jabar di Bandung, Minggu (17/2/2019).
Menurutnya, transformasi ke bisnis digital itu diharapkan mampu memenuhi permintaan dan kebutuhan masyarakat. Semua pelayanan dilakukan secara digital, cepat, dan mudah. Masyarakat juga semakin mudah mengakses layanan perbankan BPR.
Joko mengatakan, hadirnya Rumah Perbarindo di Jabar ini diharapkan menjadi rumah perjuangan anggotanya. Rumah tersebut pun berdiri untuk mengantisipasi agar BPR berkontribusi secara ekonomi ke Jabar.
"Bagaimana ini menjadi tempat untuk menginisiasi bisnis atau tingkatkan service level ke masyarakat. Terutama masyarakat kecil. Mereka bisa dilayani perbankan BPR secara lebih baik, mudah, dan sederhana. Sehingga, secara ekonomi semakin efisien dan meningkat," jelasnya.
Lebih jauh dia mengharapkan, market share BPR di Jabar dan tingkat nasional bisa semakin besar. Sehingga, kontribusi terhadap ekonomi nasional makin meningkat. Langkah itu bisa dilakukan dengan melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah dan institusi lokal.
"BPR tidak mungkin bisa berdiri sendiri. Tetapi harus kolaborasi dengan Pemda dan lainnya. Bagaimana BPR masuk ke program perekonomian daerah, masuk ke sumber keuangan daerah. Baik untuk pembiayaan atau simpanan dana," sebut Joko.
Saat ini, peran BPR diakuinya sangat luas di Indonesia. Tercatat, ada sekitar 15 juta rekening yang dilayani. Mayoritas nasabah yang dilayani itu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Terkait jumlah, jaringan BPR se-Indonesia mencapai 6.600 unit.
"Artinya, kita harus bisa buktikan bahwa peran BPR ada. Kita punya fungsi edukasi ke masyarakat kecil. Mereka jadi kenal bank dan bisa melayani masyarakat secara luas," pungkasnya.