Pakar Unpad: Banjir Lahar Dingin Merupakan Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Erupsi Gunung Semeru
Guru Besar Teknol Geologi Unpad Nana Sulaksana mengatakan, banjir lahar dingin akibat Erupsi Gunung Semeru itu dampak cuaca ekstrem.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Nana Sulaksana berteori, banjir lahar dingin yang terjadi itu akibat Erupsi Gunung Semeru itu dampak cuaca ekstrem yang terjadi di wilayah itu.
Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) itu mengatakan, dampak cuaca ekstrem dari Erupsi Gunung Semeru itu diakibatkan adanya dua gaya yang bekerja, yaitu endogen dan eksogen. Gaya endogen terjadi dari aktivitas magma yang mendorong material vulkanik naik ke permukaan, sedangkan gaya eksogen diakibatkan hujan ekstrem.
Menurutnya, material vulkanik yang tertumpuk di kubah secara langsung bersentuhan dengan air. Akumulasi material tersebut kemudian dialirkan dan hanyut ke bawah melalui lembahan dan sungai-sungai. Akibatnya, banjir lahar dingin sebagai dampak cuaca ekstrem itu mampu menyapu kawasan di lembahan Erupsi Gunung Semeru.
Baca Juga: PVMBG Pastikan Status Gunung Semeru Masih Level Waspada, Ancaman Bahaya Awan Panas Masih Mengintai
“Kalau tidak ada hujan, maka seluruh material yang keluar sifatnya belum langsung menjadi lahar. Ini karena musim hujan, kebetulan hujan besar, material yang teronggok di atas terkena air, dan hanyut ke sungai,” kata Nana Sulaksana, Senin 6 Desember 2021.
Dia menjelaskan, letusan atau Erupsi Gunung Semeru itu miliki karakter sendiri. Sebab, setiap kompleks gunung berapi di Indonesia memiliki dapur magmanya tersendiri.
“Antara satu gunung api dengan yang lain sebenarnya berbeda. Karena itu, karakternya juga berbeda karena kandungannya berbeda,” ujarnya.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, BNPB Kirimkan Bantuan untuk Para Korban di Pengungsian
Dilihat dari tipe letusan, berdasarkan hasil penelitian dan historisnya Gunung Semeru secara spesifik memiliki erupsi yang besar. Setelah itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut kemudian akan tertidur kembali.
Karakter ini berbeda dengan gunung-gunung lain semisal Merapi atau Sinabung. Dinamika magma dari gunung tersebut bergerak simultan. Artinya, erupsi dengan intensitas kecil bisa terjadi dalam waktu yang sering.
Karena itu, setiap gunung berapi di Indonesia memiliki stasiun pengamatannya sendiri. Para pengamat gunung berapi akan rutin melakukan pengamatan terhadap aktivitas gunung berdasarkan perubahan temperatur, catatan seismograf, hingga penampakan visual dari peningkatan gunung berapi.
Baca Juga: Ini Penyebab Erupsi Gunung Semeru Kata Ahli ITB
Status gunung berapi kemudian akan berubah berdasarkan data yang diamati dan direkam di stasiun pengamatan. Pergerakan aktivitas gunung berapi juga dilakukan berdasarkan historis erupsi sebelumnya.
“Jadi, karakter erupsi gunung berapi itu tidak bisa disamakan dengan gunung berapi lainnya,” kata Nana.
Guru Besar Bidang Ilmu Geomorfologi tersebut menuturkan, proses mitigasi kebencanaan gunung berapi di Indonesia sudah baik. Indonesia sudah memiliki peta kawasan rawan bencana yang disusun oleh ahli geologi dan vulkanologi. Peta ini menjadi pedoman lembaga terkait melakukan mitigasi bencana khususnya erupsi gunung berapi.
Peta ini telah memetakan wilayah-wilayah rawan bencana, termasuk di dalamnya permukiman yang rawan terdampak serta sungai yang akan menjadi aliran lahar. Selain itu, lokasi pengamatan, jalur evakuasi, hingga lokasi pengungsian sudah dipetakan dengan baik dalam peta tersebut.
Baca Juga: Kronologi Gunung Semeru Erupsi hingga Keluarkan Guguran Awan Panas
“Dari kejadian erupsi Gunung Semeru kemarin, tampak bahwa peta lokasi yang terkena bencana dapat dikatakan 90 persen tepat,” jelasnya.
Ia mengatakan, erupsi gunung berapi sudah bisa diprediksi sebelumnya berdasarkan tanda-tanda alam yang muncul. Hal ini juga telah didukung protokol mitigasi yang baik. Informasi erupsi sudah dapat disampaikan ke masyarakat satu jam sebelum letusan berapi.
“Dalam ukuran satu hari atau satu jam sudah termasuk bagus berdasarkan kacamatan mitigasi bencana. Jadi, erupsi Semeru kemarin bukanlah sesuatu yang terjadi tanpa pemberitahuan,” ujar Nana. (Okky Adiana)
Editor : inilahkoran


