PVMBG Pastikan Status Gunung Semeru Masih Level Waspada, Ancaman Bahaya Awan Panas Masih Mengintai
PVMBG memastikan status Gunung Semeru masih berstatus waspada meskipun aktivitasnya terus meningkat. Ancaman awan panas masih mengintai
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN,Lumajang,- Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan Gunung Semeru masih berstatus level waspada.
PVMBG mengungkapkan, berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, serta potensi ancaman bahayanya, maka tingkat aktivitas Gunung Semeru berstatus waspada.
PVMBG menilai, meskipun aktivitas Gunung Semeru meningkat, namun dinilai dari potensi ancaman bahaya Gunung Semeru masih pada level II atau waspada.
Baca Juga: Update Korban Erupsi Gunung Semeru 5 Desember 2021: 13 Orang Tewas, 41 Orang Alami Luka Bakar
Koordinator Kelompok Mitigasi Gunung Api Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kristianto mengungkapkan, hasil pemantauan visual dan instrumental, maupun potensi ancaman bahayanya Gunung Semeru masih berstatus waspada.
"Pengamatan visual menunjukkan pemunculan guguran dan awan panas guguran diakibatkan oleh ketidakstabilan endapan lidah lava," kata Kristianto seperti dikutip inilahkoran.id dari Kantor Berita Antara, Minggu, 5 Desember 2021.
Menurut Kristianto, aktivitas yang terjadi pada tanggal 1 dan 4 Desember merupakan aktivitas permukaan (erupsi sekunder) dan dari kegempaan tidak menunjukkan adanya kenaikan jumlah dan jenis gempa yang berasosiasi dengan suplai magma/batuan segar ke permukaan.
Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi, BNPB Kirimkan Bantuan untuk Para Korban di Pengungsian
"Jumlah dan jenis gempa yang terekam selama 1 hingga 30 November 2021 didominasi oleh gempa-gempa permukaan berupa gempa letusan dengan rata-rata 50 kejadian per hari," tuturnya.
Gempa guguran pada 1 dan 3 Desember 2021, masing-masing 4 kali kejadian. Gempa-gempa vulkanik (gempa vulkanik dalam, vulkanik dangkal, dan tremor) yang mengindikasikan kenaikan magma ke permukaan terekam dengan jumlah sangat rendah.
Pada 4 Desember 2021 mulai pukul 13.30 WIB terekam getaran banjir, kemudian pada pukul 14.50 WIB teramati awan panas guguran dengan jarak luncur 4 kilometer dari puncak atau 2 kilometer dari ujung aliran lava ke arah tenggara (Besuk Kobokan).
Baca Juga: Ini Penyebab Erupsi Gunung Semeru Kata Ahli ITB
Tetapi lanjut Kristianto, hingga saat ini sebaran dan jarak luncur detail belum dapat dipastikan.
"Potensi ancaman bahaya erupsi Gunung Semeru berupa lontaran batuan pijar di sekitar puncak, sedangkan material lontaran berukuran abu dapat tersebar lebih jauh tergantung arah dan kecepatan angin," katanya.
Ia menjelaskan potensi ancaman bahaya lainnya berupa awan panas guguran dan guguran batuan dari kubah/ujung lidah lava ke sektor tenggara dan selatan d ari puncak.
Baca Juga: Kronologi Gunung Semeru Erupsi hingga Keluarkan Guguran Awan Panas
"Jika terjadi hujan dapat terjadi lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di daerah puncak, sehingga dalam status waspada agar masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 1 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru dan jarak 5 km arah bukaan kawah sektor selatan-tenggara," ujarnya.
Selain itu, lanjut dia, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi awan panas guguran lava, dan lahar dingin di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru, terutama di aliran Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
"Radius dan jarak rekomendasi itu akan dievaluasi terus untuk antisipasi jika terjadi gejala perubahan ancaman bahaya," katanya.***
Editor : inilahkoran


