Pertamina Konsisten Tebar Nilai Kemandirian untuk Gapai Impian

Hanif Naufal (18), salah satu siswa ABK di Sekolah Dreamable tampak antusias melatih keterampilan tangannya dalam pelatihan laundry. Dia mengaku, melalui pendidikan di sekolah ini cita-cita untuk bisa bekerja dan mandiri bisa terwujud.

Pertamina Konsisten Tebar Nilai Kemandirian untuk Gapai Impian
istimewa

INILAH, Bandung - Hanif Naufal (18), salah satu siswa ABK di Sekolah Dreamable tampak antusias melatih keterampilan tangannya dalam pelatihan laundry. Dia mengaku, melalui pendidikan di sekolah ini cita-cita untuk bisa bekerja dan mandiri bisa terwujud.

PT Pertamina Marketing Operation Region (MOR) III berkomitmen mendukung kesejahteraan masyarakat, tak terkecuali anak berkebutuhan khusus (ABK). Untuk itu, sejak 2018 perusahaan konsisten membina Sekolah Dreamable yang berada di Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Belum lama ini, operator BBM pelat merah itu memberikan pelatihan pengembangan
vokasional ABK untuk para pengajar Sekolah Dreamable. Pemberian materi pengajaran
disampaikan Emay Mastiani dan Lilis Suwandari. Keduanya merupakan dosen Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Nusantara (Uninus).

Pelatihan dikhususkan bagi para pendidik sekolah istimewa yang berada di bawah naungan
Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Hidayah. Sejak pertama kali berdiri Sekolah
Dreamable memiliki 52 anak didik dengan rentang usia 7-26 tahun. 

Selain pelatihan untuk para pengajar, saat itu pun diresmikan program Dreamwork. Program
yang bekerja sama dengan Desa Lengkong Kecamatan Bojongsoang itu mewujud menjadi Omah Therapy dan Usaha Laundry. 

Omah Therapy merupakan tempat pelatihan guru agar bisa memberikan terapi kepada ABK.
Sedangkan, Usaha Laundry ditujukan untuk siswa ABK dan orang tuanya agar dapat
berwirausaha di bidang jasa pencucian.

“Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat merupakan salah satu pilar CSR Pertamina.
Pelatihan dan pendampingan untuk kegiatan berbasis masyarakat di wilayah Bandung Raya
rutin dilakukan MOR III melalui Integrated Terminal Bandung Group, sehingga masyarakat
dapat lebih mandiri dan sejahtera,” kata Unit Manager Communication Relations & CSR MOR
III Eko Kristiawan, beberapa waktu lalu.

Dia menuturkan, dukungan yang diberikan kepada Sekolah Dreamable bertujuan untuk
memandirikan anak-anak supaya bisa hidup mandiri dan bersosialisasi dengan masyarakat
saat mereka dewasa. Seperti diketahui, ABK memiliki keunikan yang berbeda dengan anak
pada umumnya, sehingga beberapa orang tua kesulitan mendidik ABK. 

“Melalui kegiatan CSR ini, Pertamina berharap bisa mencapai target program pembangunan
berkelanjutan atau SDG’s dimana salah satunya adalah pilar pembangunan sosial untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam hal ini, anak-anak berkebutuhan khusus
menjadi salah satu perhatian kami sebagai generasi Indonesia di masa depan,” sebutnya.

Sementara itu, Pendiri Sekolah Dreamable Yulianti mengaku sangat terbantu dengan dukungan yang diberikan MOR III Pertamina. Terlebih, pada masa pandemi Covid-19 saat ini para pengajar mendapat tantangan untuk tetap bisa mendidik anak-anak kami dengan maksimal. 

“Selama ini, kami mengubah konsep belajar di sekolah menjadi kunjungan guru ke rumah.
Namun tentu mengajar dengan fasilitas seadanya yang ada di rumah. Pelatihan semacam ini
memberikan semangat baru bagi kami untuk tetap kreatif dan produktif,” jelasnya. 

Yulianti menuturkan, lembaga berbasis masyarakat ini ditujukan untuk menanamkan satu
nilai yakni kemandirian. Sejauh ini, masyarakat awam masih menilai ABK itu dicap tidak
akan bisa mandiri karena keterbatasannya.

“Sebenarnya, anggapan itu salah. Setiap ABK itu bisa mandiri. Mereka bisa mandi dan
berpakaian secara mandiri. Memang, pola asuh dan pengajarannya membutuhkan tingkat
kesabaran yang ekstra,” ucap Yulianti yang memiliki seorang ABK di keluarganya.

Dia yang sebelumnya aktif sebagai pekerja sosial sejak 2009 itu menyebutkan sekolah
tersebut dijalankan atas nama cinta. Dengan kebesaran hatinya, jumlah siswa yang terdaftar terus mengalami peningkatan.

Sikap penolakan dari orang tua yang memiliki ABK itu diakuinya selalu terjadi. Namun,
dengan pendekatan door-to-door dan homeschooling yang dijalani sejumlah orang tua
akhirnya memahami kondisi ABK itu seharusnya bisa berbaur dan bersosialisasi dengan
masyarakat. Biasanya, para ABK itu kerap dikurung di rumah.

“Atas bantuan yang diberikan Pertamina kita mengucapkan terima kasih. Bantuan yang
diberikan itui digunakan untuk mrmbuat seragam, tas, program pembelajaran, dan kegiatan
di luar ruangan seperti berenang dan membawa siswa ke kebun binatang,” tutur perempuan
yang kini melanjutkan pendidikan tinggi di Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Nusantara (Uninus).

Istri dari Dede Hermansyah itu pun memiliki impian lain yang ingin diwujudkan. Dia
mengaku, ke depan dia mengharapkan ada kegiatan produktif yang bisa dijalani setiap ABK
pasca-sekolah.

Perempuan Pejuang Hak Pendidikan ABK

Yulianti tiada henti mengajarkan Afdil (12) mengucapkan kata "ibu" dan "bapak". Diulang-ulang kata tersebut, hingga akhirnya murid berkebutuhan khusus asuhannya, bisa mengucapkan dua kata tersebut dengan lancar.

Sehari-hari, ibu tiga anak itu menghabiskan hampir 10 jam waktunya menjadi relawan
pengajar di Sekolah Dreamable. Tak hanya mengajar, dengan ketulusan hati dia menjemput
muridnya untuk bisa mengikuti pendidikan luar biasa di Sekolah Dreamable, sekolah yang
didirikannya.

Dilihat dari latar belakang pendidikan, sebenarnya dia hanya mengenyam pendidikan formal
hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dikaruniai anak sulung yang juga berkebutuhan
khusus membuatnya semangat untuk mendobrak penilaian orang kebanyakan. 

"Saya harus bisa memandirikan anak saya. Saya ingin membuktikan dan memberikan contoh
kepada semua orang, kunci mendidik anak berkebutuhan khusus adalah ketelatenan, sabar
dan ikhlas," katanya.

Di kemudian hari impian itu terbukti. Anak sulung Yulianti, yang kini telah berusia 17
tahun bisa hidup mandiri. Belajar dari pengalaman mendidik anaknya, akhirnya Yulianti mengumpulkan ABK di sekitar tempat tinggalnya dan menjadi relawan pengajar. 

Selain mengumpulkan anak di rumahnya, sesekali Yulianti juga melakukan home visit bagi
ABK yang kerap 'dikurung' orang tuanya. 

“Alasannya bermacam-macam. Ada orang tua yang malu memiliki anak berkebutuhan khusus,
ada juga yang pesimis anak mereka tidak akan bisa apa-apa sehingga hanya dibiarkan di
rumah saja. Ada pula anak berkebutuhan khusus yang dibiarkan menjadi pengemis,” katanya.

Perjuangan dan ketekunan, berbuah manis. Perlahan satu persatu orang tua mulai terbuka.
Mereka merasakan kemajuan yang didapat dari sekolah non formal yang digagas Yulianti.
Bahkan beberapa orang tua akhirnya ikut terjun menjadi relawan pengajar di Sekolah
Dreamable.

Yulianti pun mulai memperluas jangkauan menjaring anak-anak berkebutuhan khusus hingga
ke wilayah Bojongsoang dan bertemu dengan Cecep Hidayah, pemilik Yayasan Hidayah. Cecep
bersedia menyumbangkan ruangan kelas dan halaman sebagai tempat berkebun, untuk
menunjang fasilitas pendidikan anak-anak berkebutuhan khusus. 

Guna memantapkan metode pengajaran dengan kurikulum pendidikan luar biasa, Yulianti
membekali dirinya dengan mengambil ujian paket C atau setara SMA, untuk melanjutkan
kuliah jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Islam Nusantara (Uninus). Dari
kampus, Yulianti juga mendapatkan bantuan relawan pengajar dari teman-teman kuliahnya.

"Motivasi kami bersama adalah mendidik anak-anak berkebutuhan khusus agar bisa
mendapatkan wadah yang tepat, untuk menggali potensi masing-masing. Anak-anak ini adalah
kunci surga bagi orang tuanya, sehingga kewajiban kita para orang tua untuk memberikan
pendidikan yang layak bagi mereka," ujar perempuan yang bercita-cita mendirikan SLB
Formal ini.

Sebagai pejuang hak anak berkebutuhan khusus, Yulianti tak melupakan kodratnya sebagai
ibu rumah tangga. Dia tetap menjalankan kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan mendidik
anak-anaknya.

"Perempuan boleh maju, tetapi urusan rumah tetap prioritas. Semangat Kartini dalam
memberikan pendidikan bagi orang lain, telah menginspirasi saya untuk terus
memperjuangkan pendidikan yang layak bagi anak berkebutuhan khusus agar bisa
membanggakan orang tuanya," tuturnya.

Sejak digandeng Pertamina pada 2018, melalui program tanggung jawab sosial dan
lingkungan, Sekolah Dreamable yang didirikan Yulianti mulai mengembangkan berbagai
kegiatan pendidikan luar ruang. Seperti ternak ikan lele dan menanam sayuran. 

Pertamina juga telah berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk dapat memfasilitasi
pengembangan potensi anak–anak, dengan melakukan serangkaian assessment untuk memantau pengembangan anak dan bantuan pendidikan lainnya seperti alat belajar dan pelatihan untuk pengembangan relawan pengajar. (dnr)


Editor : Doni Ramdhani