Pidato 'Buta dan Budek' Ma'ruf Amin Sakiti Kaum Difabel

CALON Wakil Presiden Nomor Urut 01, Maruf Amin kembali membuat pernyataan kontroversial. Kali ini pidato Maaruf dengan kata 'buta dan budek' disayangkan sejumlah pihak.

Pidato 'Buta dan Budek' Ma'ruf Amin Sakiti Kaum Difabel
Ma'ruf Amin (Tengah)
INILAH, Jakarta - CALON Wakil Presiden Nomor Urut 01, Maruf Amin kembali membuat pernyataan kontroversial. Kali ini pidato Maaruf dengan kata 'buta dan budek' disayangkan sejumlah pihak.
 
Salah satunya disampaikan DPP PAN dalam laman twitter resminya @Official_PAN. Merekamenyangkan pernyataan Maaruf dan menyatakan simpati kepada kaum difabel.
 
PAN pun meminta agar istilah yang menyinggung fisik tidak digunakan dalam kontestasi politik.
 
"Kepada segenap anak bangsa yg difabel, PAN menyampaikan rasa simpati yg sedalam-dalamnya atas penggunaan istilah 'budek dan buta' yg diucapkan Pak Ma'ruf Amin. Jangan hanya karena kontestasi politik, saudara kita yg difabel disakiti hati dan perasaannya," tulis laman resmi PAN dikutip dari INILAH.COM.
 
Ma'ruf pun beralasan bahwa apa yang dikatakannya terdapat didalam Al-Qur'an. "Artinya orang yang tak mendengar, orang yang tak mau melihat, yang tak mau mengungkapkan kebenaran itu namanya bisu, budek, buta. Jadi itu bahasa kalau ya. Saya tak menuduh orang, atau siapa-siapa. Saya heran, kenapa jadi ada yang tersinggung. Tak menuduh dia kok," kata Maruf.
 
Sementara itu Ketua Barisan Kyai Santri Nahdliyin (BKSN), KH Agus Solachul Aam Wahib Wahab atau Gus Aam, mengaku prihatin dengan gaya politik Maruf Amin yang selalu mempolitisir ayat Alquran. Padahal, kalau itu dilakukan orang lain, bisa jadi, geger, tidak terima, bisa-bisa sampai didemo.
 
Dua kali sudah Kiai Maruf menggunakan ayat sebagai alibi politiknya. Pertama, dia bilang Lakum capresikum (bagimu capresmu), walana capresuna (bagi kami capres kami) dikaitkan dengan ayat lakum dinukum waliadin, bagimu agamamu, bagi kami agama kami. Kedua, menyebut orang budek, buta karena tidak tahu prestasi Jokowi menggunakan Alquran ummum, bukmun, umyun.
 
"Menggunakan shummun bukmun umyun fahum laa yarjiuun untuk membela Jokowi, sangatlah naf. Saya tidak habis pikir, bagaimana kalau hal tersebut dilakukan yang lain? Pasti sudah turun jalan, demo. Kalau mau membela Jokowi, mau menunjukkan sukses Jokowi, pakai data Yi. Jangan mainan Ayat Alquran. Bahaya," tegas Gus Aam
 
 


Editor : inilahkoran