Potensi Cuaca Ekstrem Meningkat, BPBD Cimahi Identifikasi 10 Titik Rawan Bencana
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi telah mengidentifikasi sebanyak 10 titik rawan bencana yang memerlukan kewaspadaan serius dari masyarakat
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cimahi telah mengidentifikasi sebanyak 10 titik rawan bencana yang memerlukan kewaspadaan serius dari masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan seiring dengan meningkatnya potensi cuaca ekstrem yang berisiko memicu bencana hidrometeorologi dan geologi.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Cimahi, Fitriandy Kurniawan mengatakan, titik-titik rawan tersebut tersebar di beberapa kelurahan dengan ancaman yang beragam, mulai dari gempa bumi, banjir dan genangan, hingga tanah longsor.
"Setiap wilayah memiliki potensi bencana yang tidak sama, sehingga masyarakat perlu memahami risiko di lingkungannya masing-masing," kata Fitriandy, Rabu 4 Februari 2026.
Dijelaskan Fithriandy, kawasan berdekatan dengan Sesar Lembang menjadi fokus perhatian, di mana Kelurahan Cipageran termasuk zona yang terdampak langsung oleh aktivitas sesar tersebut.
Tak cuma itu, wilayah Kelurahan Melong serta kawasan limpasan aliran Sungai Cigugur kerap mengalami banjir dan genangan.
"Kondisi topografi dan sistem drainase yang belum optimal menjadi penyebab utama, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi," jelasnya.
Sementara itu, untuk wilayah Cireundeu dan Cigugur Tengah diklasifikasikan sebagai daerah dengan potensi pergerakan tanah cukup tinggi.
"Risiko ini meningkat signifikan pada musim hujan akibat kondisi tanah yang menjadi labil," ucapnya.
Fitriandy mengakui, penanganan kawasan rawan, khususnya relokasi warga di zona longsor, tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan kebijakan lintas sektor serta tahapan administratif dan sosial yang panjang.
"BPBD fokus pada edukasi dan imbauan kepada masyarakat. Untuk relokasi, ada mekanisme dan kewenangan lain yang harus ditempuh," ucapnya.
Selain pemetaan, lanjut Fitriandy, BPBD juga memberikan perhatian khusus pada kelompok masyarakat rentan seperti lanjut usia, janda, dan warga dengan keterbatasan fisik, yang membutuhkan pendampingan ekstra untuk menekan risiko korban jiwa.
"Karena pemahaman risiko dan kesiapsiagaan warga menjadi kunci utama dalam mengurangi dampak bencana, mengingat tidak semua ancaman dapat dicegah namun dapat diminimalkan melalui mitigasi yang tepat," tandasnya. ***
Editor : JakaPermana

