'Princess Treatment', Romantis atau Sekadar Fantasi?
Tren princess treatment viral di media sosial. Antara romantisme, fantasi, dan perdebatan soal peran gender dalam hubungan modern.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Fenomena "princess treatment" tengah ramai di media sosial. Bagi sebagian orang, tren ini dianggap sebagai standar baru dalam hubungan romantis. Namun, tak sedikit pula yang menilainya hanya fantasi ala dongeng yang dibungkus konten media sosial.
Istilah princess treatment merujuk pada berbagai bentuk perhatian dari pasangan, mulai dari membawakan kopi di pagi hari, membelikan bunga, membayari perawatan diri, hingga membukakan pintu mobil.
Di media sosial, perlakuan semacam ini kerap diposisikan sebagai bentuk kasih sayang ideal, melampaui sekadar komunikasi yang baik atau mengingat hari ulang tahun.
Popularitasnya terus meningkat. Tagar #princesstreatment telah digunakan lebih dari 130 ribu kali di Instagram. Salah satu tokoh yang ikut mempopulerkannya adalah influencer asal Utah, Courtney Palmer, yang menyebut dirinya sebagai princess housewife.
Kontennya yang ditonton jutaan kali memicu perdebatan karena menampilkan ekspektasi agar suami melakukan hampir semua hal untuknya.
Menurut pakar etiket Myka Meier, daya tarik tren ini bukan terletak pada kemewahan, melainkan pada perhatian emosional.
"Di tengah masa ketika dunia kencan terasa melelahkan dan sering kali membingungkan, romantisme jadul terasa sangat spesial," ujarnya seperti dikutip dari BBC. Dia menilai banyak orang merindukan hubungan yang penuh rasa hormat, kepedulian, dan ketulusan.
Tren ini juga dipengaruhi populernya drama berlatar kerajaan seperti Bridgerton, The Buccaneers, hingga Downton Abbey. Kisah-kisah tersebut kembali memunculkan romantisme klasik dan etiket berkencan yang dianggap lebih elegan dibanding hubungan modern yang serba cepat.
Meski demikian, princess treatment tidak lepas dari kritik. Sebagian pengamat menilai tren ini justru menghidupkan kembali peran gender tradisional dan dekat dengan konsep trad wife, yakni perempuan yang memilih menjalani peran domestik secara konvensional. Namun, ada pula yang melihatnya hanya sebagai cara baru mengekspresikan kasih sayang.
Profesor sejarah Universitas Boston, Arianne Chernock, menilai perdebatan semacam ini bukan hal baru. Menurutnya, sosok putri kerajaan memang sejak lama menjadi simbol yang dipakai masyarakat untuk membahas peran perempuan, romantisme, dan kekuasaan.
Karena itu, princess treatment mungkin bukan sekadar tren media sosial, melainkan cerminan bagaimana generasi sekarang memaknai hubungan dan ekspektasi terhadap pasangan. ***
Editor : Gin gin T Ginulur

