Puasa Dilarang di Hari Tasyrik, Kapan Boleh Mulai Puasa Lagi? Ini Penjelasannya
Ini hari yang dianjurkan puasa lagi setelah hari tasyrik
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN - Berbeda dengan waktu-waktu lainnya di mana puasa sangat dianjurkan sebagai bentuk ibadah, justru selama Hari Tasyrik umat Islam dilarang berpuasa. Larangan ini menjadi perhatian penting terutama bagi mereka yang ingin menjalankan puasa sunah atau mengganti puasa Ramadan yang tertinggal.
Hari Tasyrik sendiri merujuk pada tiga hari setelah Hari Raya Idul Adha, yakni tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah. Dalam kalender Islam, masa ini merupakan kelanjutan dari perayaan Idul Adha yang jatuh pada 10 Dzulhijjah.
Selama Hari Tasyrik, umat Islam yang sedang menjalankan ibadah haji di Tanah Suci akan melaksanakan rangkaian lempar jumrah di Mina. Sementara itu, bagi umat muslim yang tidak berhaji, dianjurkan untuk melaksanakan penyembelihan hewan kurban jika belum dilakukan pada hari raya.
Karena waktu penyembelihan diperbolehkan hingga 13 Dzulhijjah, tak jarang masjid atau panitia kurban memilih menyembelih hewan kurban pada salah satu hari Tasyrik. Ini adalah bagian dari kemudahan yang diberikan dalam pelaksanaan ibadah kurban.
Namun, selama hari-hari tersebut, puasa dilarang. Tujuannya agar umat Islam dapat merayakan dan menikmati nikmat daging kurban yang telah Allah limpahkan. Maka dari itu, puasa—baik yang bersifat sunah maupun qadha Ramadan—baru boleh dilakukan kembali mulai tanggal 14 Dzulhijjah.
Menariknya, berakhirnya Hari Tasyrik juga menjadi pertanda bahwa bulan Muharram semakin dekat. Muharram merupakan salah satu dari empat bulan mulia dalam Islam, selain Rajab, Dzulqa’dah, dan Dzulhijjah. Di bulan ini, umat Islam menyambut datangnya tahun baru Hijriah dan dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk puasa sunah seperti puasa Tasu’a dan Asyura.
Editor : Firda Rachmawati
