PVMBG Bongkar Penyebab Longsor di Pasirlangu Cisarua, Bukan Cuma 1 Faktor
PVNBG mengungkap penyebab terjadinya longsor di Pasirlangu Kecamtan Cisarua yang tidak hanya disebabkan satu faktor saja
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi memastikan, peristiwa longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat beberapa waktu lalu, tidak dipicu oleh satu penyebab tunggal, melainkan merupakan akumulasi sejumlah faktor yang saling berkaitan.
Pelaksana Harian (Plh) Kepala PVMBG Badan Geologi, Edi Slameto, menyebutkan sedikitnya ada empat faktor utama yang memicu terjadinya longsor besar pada 24 Januari 2026 lalu. Faktor tersebut meliputi kondisi batuan yang mudah lapuk, kemiringan lereng yang curam, intensitas curah hujan yang tinggi, serta tata guna lahan yang bersifat perencanaan.
“Itu yang menyebabkan terjadinya longsor. Jadi tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan longsor di Cisarua, tetapi Multifaktor,” kata Edi di Kota Bandung, Jumat 30 Januari 2026.
Menurutnya, jika salah satu dari faktor tersebut tidak terpenuhi, maka potensi terjadinya longsor besar seperti yang terjadi di Pasirlangu relatif kecil. Bahkan, jika longsor tetap terjadi, skalanya diperkirakan tidak sebesar kejadian sebelumnya.
“Apabila empat faktor ini tidak terpenuhi salah satunya, belum tentu terjadi atau kalau pun longsor ya sedikit saja,” tuturnya.
Kawasan Pegunungan Vulkanik Tua
Lebih lanjut, Edi memaparkan kondisi morfologi di sekitar lokasi longsor berada pada kawasan pegunungan vulkanik tua Gunung Burangrang. Pada bagian atas atau mahkota lereng, kemiringan mencapai 35 hingga 55 derajat yang masuk kategori curam hingga sangat curam.
Sementara itu, bagian tengah hingga bawah lereng memiliki kemiringan antara 8 sampai 16 derajat atau tergolong agak curam. Di sejumlah titik, juga ditemukan bekas longsoran lama yang dapat dikenali dari bentukan morfologi permukaan.
Namun demikian, Edi menegaskan bahwa identifikasi longsoran lama tersebut memerlukan keahlian khusus di bidang geologi.
“Itu butuh pengamatan dan kompetensi khusus, oleh para ahli geologi. Kalau masyarakat umum, melihat batuan itu tidak ada bedanya,” katanya.
Dari sisi geologi, Edi menjelaskan bahwa wilayah terdampak longsor berdasarkan Peta Geologi Regional Lembar Bandung tersusun atas satuan lava andesit–basalt, breksi vulkanik, serta material piroklastik yang telah mengalami pelapukan lanjut.
Pelapukan tersebut tampak jelas pada lereng yang terbuka akibat longsoran, sehingga menyebabkan material tanah menjadi rapuh, mudah terurai, dan rentan terlepas.
“Celakanya material vulkanik itu mudah lapuk, karena terdiri dari fragmen dengan batuan kecil, sedang, dan besar. Itu sudah kompak, karena sifatnya mudah lapuk. Karena mudah lapuk, saat berinteraksi dengan air dalam jumlah yang besar, maka akan mudah jenuh,” ungkapnya.
Kondisi Hidrologi
Selain faktor morfologi dan geologi, kondisi hidrologi juga turut memperparah potensi longsor. Di bagian atas lereng, terdapat jalur sungai berbentuk V yang berhulu langsung ke puncak kawasan.
Wilayah tersebut memiliki catchment area atau daerah tangkapan air dari beberapa sungai orde satu, yang menunjukkan tingkat erosi sangat kuat. Pada bagian tengah lereng, lembah sungai semakin menyempit dan curam.
“Lereng bagian pada area terjadi penyempitan aliran sungai hingga 1 sampai 2 meter, karena proses erosional dan sedimentasi,” imbuhnya.
PVMBG pun mengingatkan pentingnya pengelolaan tata guna lahan yang lebih terencana dan berbasis mitigasi bencana, terutama di wilayah dengan karakteristik geologi dan morfologi rawan longsor seperti Cisarua dan sekitarnya. (Yuliantono)
Editor : Ahmad Sayuti
