PVMBG Sebut Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau Pesat, Belum Berpotensi Picu Tsunami
PVMBG menyebut pertumbuhan Gunung Anak Krakatau berlangsung pesat, tetapi tubuh gunung masih relatif kecil dan belum berpotensi runtuh hingga memicu tsunami.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM membenarkan pertumbuhan fisik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda berlangsung pesat. Namun, kondisi tersebut dinilai masih aman dan belum mengarah pada potensi keruntuhan tubuh gunung yang dapat memicu Tsunami.
Kepala PVMBG Rita Susilawati mengatakan pertumbuhan Gunung Anak Krakatau merupakan bagian dari dinamika pembentukan gunung api muda yang masih berlangsung secara alami.
Menurut Rita, aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau juga telah kembali ke pola Erupsi Strombolian yang normal dengan durasi singkat. Meski potensi Erupsi masih ada, masyarakat diminta tidak panik dan tetap mengikuti informasi resmi.
“Potensi Erupsi masih ada, tetapi jangan terlalu dikhawatirkan karena ini memang bagian dari dinamika pertumbuhan Anak Krakatau yang merupakan gunung api muda yang sedang membentuk tubuhnya,” kata Rita.
Berdasarkan pemantauan Badan Geologi, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Aktivitas vulkaniknya terus dipantau secara berkala, termasuk perkembangan kegempaan dan perubahan morfologi tubuh gunung.
Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau Sangat Cepat
Rita menjelaskan, laju pembentukan fisik Gunung Anak Krakatau yang tergolong cepat dipengaruhi kombinasi sejumlah faktor geologi.
Faktor tersebut antara lain kondisi tektonik regional, arsitektur sistem magma yang telah terbuka, karakteristik magma dengan viskositas rendah atau relatif encer, serta frekuensi Erupsi yang tinggi.
Perubahan arah zona subduksi lempeng tektonik dari wilayah Sumatera menuju Selat Sunda disebut turut membuka jalur bagi magma untuk bergerak menuju permukaan.
Magma yang bersuhu tinggi dan relatif cair kemudian dengan cepat terakumulasi dan membentuk morfologi tubuh Gunung Anak Krakatau.
Badan Geologi sebelumnya juga menjelaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah Erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil. Kondisi tersebut membuatnya belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu Tsunami.
Tubuh Gunung Masih Sekitar 150 Meter
Di tengah proses pencarian tim jurnalis yang masih hilang di kawasan Selat Sunda, Rita mengimbau masyarakat dan pengamat untuk tidak panik terhadap isu mengenai potensi keruntuhan tubuh Gunung Anak Krakatau atau flank collapse.
“Pertumbuhan Gunung Anak Krakatau ini belum mengkhawatirkan bisa menjadi ancaman keruntuhan, karena tubuhnya sekarang ketinggiannya masih sekitar 150-an meter dan slope-nya (kemiringan lereng) juga masih landai. Jadi sekali lagi, saat ini kalau terjadi runtuhan itu tidak akan menyebabkan Tsunami,” ujar Rita.
Keterangan tersebut sejalan dengan evaluasi Badan Geologi yang menyebut pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau pascaerupsi 2018 masih relatif kecil dan belum berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu Tsunami.
Meski demikian, potensi bahaya akibat aktivitas Erupsi tetap ada. Dalam evaluasi 10 September 2026, Badan Geologi menyebut ancaman Erupsi dapat berupa lontaran batu pijar dan hujan abu lebat, serta aliran lava apabila terjadi Erupsi menerus. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Pemantauan Dilakukan 24 Jam
PVMBG memastikan pemantauan terhadap Gunung Anak Krakatau terus dilakukan secara ketat dan berkelanjutan untuk mengantisipasi setiap perubahan aktivitas vulkanik.
Pemantauan mencakup kondisi visual, kegempaan, serta perubahan morfologi gunung api yang berada di kawasan perairan antara Lampung dan Banten tersebut.
Masyarakat di sekitar Selat Sunda juga diimbau tetap tenang dan mengandalkan informasi dari PVMBG, Badan Geologi, serta pemerintah daerah apabila terjadi perubahan aktivitas Gunung Anak Krakatau.***
Editor : JakaPermana

