Realisasi Investasi 2024 Tembus Rp251,1 Triliun, Bey Machmudin Apresiasi DPMPTSP Jabar
Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengapresiasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar yang mampu merealisasikan investasi senilai Rp251,1 triliun pada 2024 lalu.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Pj Gubernur Jabar Bey Machmudin mengapresiasi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jabar yang mampu merealisasikan investasi senilai Rp251,1 triliun pada 2024 lalu.
Dimana angka ini meningkat 19,2 persen dari realisasi investasi pada 2023 silam. Hasilnya, investasi dari penanaman modal asing (PMA) dan penanaman modal dalam negeri (PMDN), mampu menyerap 383.707 tenaga kerja baru, untuk 158.708 proyek.
"Tentunya ini kabar baik, sekaligus tantangan bagi kami Pemerintah Provinsi. Bu Nining (Kepala DPMPTSP Jabar) sudah bekerja dengan baik," ujar Bey Machmudin dalam sambutannya di acara Bewara Jawa Barat (BEJA) Volume 15, bertajuk Realisasi Investasi Jabar 2024 dan Prospek Ekonomi dalam Mendukung Investasi Jabar di Tahun 2025, yang digelar di Aula Timur Gedung Sate, Kota Bandung, Selasa 11 Februari 2025.
Catatan apik ini lanjut Bey, harus bisa didukung semua pihak, utamanya organisasi perangkat daerah (OPD) di Jabar.
"Tapi harus juga dukungan dari kami sendiri. Dari dinas-dinas, jangan sampai puas hanya peringkat tertingginya di investasi. Tapi semuanya harus bekerja keras," ucapnya.
Contohnya kata Bey, seperti Dinas Pendidikan yang harus mampu menyesuaikan program pendidikan dengan kebutuhan industri.
"Jadi misalnya SDM sudah tertinggi dari provinsi lain. Harusnya sudah tidak alasan investasi itu juga dinikmati oleh masyarakat Jawa Barat," imbuhnya.
Demikian pula OPD lain, seperti Dinas Perkebunan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, juga harus mampu mendorong supaya investasi yang diraih mampu dirasakan seluruh masyarakat.
"Jadi semuanya, Dinas Pendidikan misalnya, Dinas Perkebunan, tadi Bu Nining cerita investasi di bidang pertanian. Keripik kentang misalnya, harusnya dari Jabar. Kita punya semua disini," kata dia.
Kepala DPMPTSP Jabar Nining Yuliastiani mengakui, tingginya realisasi investasi di Jawa Barat belum selaras dengan serapan tenaga kerja.
Sebab, tidak dapat dipungkiri angka pengangguran di Jabar terbilang tinggi. Ini disebabkan kata dia, karena tidak semua investasi mampu menyerap tenaga kerja.
"Sebagaimana yang sudah saya sampaikan, investasi yang tinggi tentu dibarengi dengan kebutuhan tenaga kerja. Namun, tenaga kerja yang diperlukan harus memiliki kualifikasi sesuai dengan kebutuhan industri," terangnya.
Sejauh ini sambung dia, banyak industri yang masuk ke Jabar merupakan industri berbasis teknologi tinggi (high-tech) dan padat modal.
"Oleh karena itu, kita harus mempersiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan tersebut," imbuhnya.
Tidak hanya itu, ada faktor lain yang menyita perhatian industri, yakni karakter tenaga kerja. Karakter ini mencakup disiplin, etos kerja, serta kesiapan mental untuk bekerja di industri.
"Dunia industri memiliki tuntutan yang berbeda dibandingkan dengan sektor lainnya. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan tenaga kerja yang tidak hanya memiliki keterampilan teknis, tetapi juga memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan industri," paparnya.
Maka dari itu diharapkannya, agar tingginya investasi yang masuk di Jabar dapat diimbangi dengan SDM yang kompeten.
"Kita harus menyesuaikan kurikulum pendidikan, terutama di SMK dan lembaga pelatihan kerja, agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. Dengan adanya link and match antara pendidikan dan industri, maka tenaga kerja kita akan lebih mudah terserap," kata dia.
Nining menambahkan, peluang kerja yang dihasilkan dari investasi sangat menjanjikan. Rerata kata dia, setiap Rp1 triliun investasi yang masuk, mampu menyerap sekutar 1.500 tenaga kerja.
"Ini adalah angka yang cukup besar. Jika kita bisa memaksimalkan peluang ini, saya yakin tingkat pengangguran di Jawa Barat akan semakin berkurang," tandasnya.
Editor : Doni Ramdhani
