Road to Inacraft, Kuatkan Karya Lokal Berbasis Transaksi Digital

Inacraft baru akan berlangsung Oktober 2025. Tapi, aromanya sudah mulai terasa di Kota Bandung. Menguatkan karya lokal berbasis transaksi digital.

Road to Inacraft, Kuatkan Karya Lokal Berbasis Transaksi Digital

INILAHKORAN, Bandung - Inacraft baru akan berlangsung Oktober 2025. Tapi, aromanya sudah mulai terasa di Kota Bandung. Menguatkan karya lokal berbasis transaksi digital.

Tiga hari Triyana meninggalkan “markasnya” di Pondok Gede, Bekasi. Pengrajin decoupage itu menjalani aktivitas menyenangkan di Atrium Cihampelas Walk, Kota Bandung.

Di sana, hasil karya kreatifnya berjejer di salah satu stand Road to Inacraft 2025 Volume 4. Beragam bentuknya. Dari hiasan dinding hingga produk tas. “Hiasan dinding ini cukup banyak penggemarnya. Terutama karena saat ini banyak cafe-cafe buat nongkrong,” katanya.

Triyana serius menjalani usahanya itu. Dia lakoni bersama suaminya. Dia tak punya bengkel khusus untuk produksi. Dia lakukan di rumahnya di Pondok Gede.

Pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi arena baginya untuk memamerkan kerajinannya. Karena itu, pameran-pameran seperti Inacraft tak pernah dia lewatkan.

“Sudah empat kali kami mengikuti pameran di Inacraft,” kata Triyana di Bandung, Kamis (14/8).

Baginya, mengikuti pameran seperti Inacraft adalah kesempatan untuk memperkenalkan produknya. Apalagi, pameran kerajinan tangan terbesar di Indonesia itu, digelar dengan pengunjung yang banyak.

“Kalau Road to Inacraft di Bandung ini, baru kali ini kami ikut serta,” ujar pemilik Threeyana Decoupage itu.

Road to Inacraft 2025 Volume 4 digelar selama tiga hari di Kota Kembang. Dibuka pada Kamis, ajang pemanasan menjelang Inacraft 2025 Volume 4 akan digelar di tiga kota.

“Setelah di Bandung ini, kami akan menyelenggarakan juga di Kota Solo dan Surabaya,” kata Ketua Umum BPP Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), Muchsin Ridjan.

Menurutnya, ketiga kota ini dipilih karena memiliki pengrajin dan pelaku UMKM yang cukup besar di Tanah Air. Selain itu, ketiganya juga dikenal sebagai kota kreatif dengan ciri yang khas.

Muslimin Anwar, Deputy Chief Representative Bank Indonesia Jawa Barat, menyebut Jawa Barat memang jadi wilayah dengan pelaku UMKM, termasuk pengrajin kriya yang tinggi di Indonesia.

Di Indonesia, sebutnya, sektor UMKM menyerap sekitar 97% total tenaga kerja. Itu berarti sebagian besar pekerja di Tanah Nusantara itu bekerja di sektor UMKM.

Di Jawa Barat, angka itu bahkan menjadi lebih tinggi. Data Biro Pusat Statistik menyebutkan 98,84% pekerja Tanah Pasundan hidup mengandalkan aktivitas UMKM ini.

Hanya saja, prosentase kontribusi UMKM terhadap ekonomi di Indonesia baru di kisaran 14,5%. Masih jauh di bawah Thailand dengan 28,9%, apalagi Singapura dengan 36,3%.

Karena itu, dia berharap Road to Inacraft, termasuk Inacraft 2025, bisa kian membangkitkan peran ekonomi pameran kerajinan itu ke depannya. Apalagi, dalam strategi ekonomi yang kini kian menguatkan peran digitalisasi dengan memanfaatkan perbankan.

Itu pulalah yang disambut Bank Mandiri dengan memberikan dukungan terhadap Road to Inacfrat 2025. Bank pelat merah itu terus mendorong akselerasi pertumbuhan UMKM, terutama para pengrajin kriya, agar mampu beradaptasi dengan perubahan pola transaksi masyarakat yang kini semakin digital.

Bank Mandiri sendiri menyiapkan beragam solusi keuangan terintegrasi seperti Livin’ By Mandiri, Kartu Debit, Kartu Kredit Mandiri, perangkat EDC, QRIS, hingga fitur Livin’ Merchant, untuk mempermudah pelaku usaha menerima pembayaran dari berbagai kanal, sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Langkah ini selaras dengan misi Bank Mandiri sebagai Main Transaction Banking yang konsisten menghadirkan layanan transaksi yang mudah, cepat, aman, dan dapat diandalkan.

Rangkaian Road to Inacraft akan hadir di tiga kota utama, dimulai dari Bandung pada 14-16 Agustus 2025, kemudian berlanjut ke Solo pada 20-22 Agustus 2025, dan ditutup di Surabaya pada 29-31 Agustus 2025. Setiap kota menghadirkan pengalaman berbeda dengan nuansa lokal yang kental.

Di Bandung, misalnya, pengunjung dapat menemukan berbagai produk kerajinan bergaya etnik hingga modern yang mencerminkan kreativitas khas Jawa Barat. Tidak hanya belanja, masyarakat juga bisa mengikuti program transaksi menarik, workshop kearifan lokal, serta sesi pembinaan bisnis dari tim Bank Mandiri yang membahas strategi pemasaran, pengelolaan keuangan, hingga tips mengembangkan usaha di era digital.

“Momentum Hari Kemerdekaan menjadi pengingat pentingnya kemandirian ekonomi bangsa. Melalui Road to Inacraft, kami berupaya agar UMKM lokal dapat naik kelas melalui digitalisasi transaksi dan perluasan akses pasar,” ujar Regional CEO Bank Mandiri Regional VI/Jawa 1, Nila Mayta Dwi Rihandjani.

Kehadiran Road to Inacraft ini juga menjadi ajang strategis bagi Bank Mandiri untuk memperkuat sinergi dengan komunitas UMKM di berbagai daerah. Melalui program ini, bank tidak hanya mendukung pemasaran produk, tetapi juga melakukan akuisisi tenant potensial, memperluas basis merchant, dan membangun ekosistem digital yang berkelanjutan.

Upaya ini sejalan dengan misi perusahaan untuk menjadi mitra finansial utama bagi pelaku usaha di seluruh Indonesia. “Bank Mandiri meyakini bahwa dukungan terhadap sektor ekonomi kreatif bukan sekadar program jangka pendek, tetapi bagian dari komitmen jangka panjang dalam memajukan perekonomian nasional,” tambahnya.

Menurutnya, dengan terus mengintegrasikan teknologi, layanan keuangan, dan pendampingan usaha, Bank Mandiri berharap dapat menciptakan dampak positif yang berkelanjutan bagi UMKM, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang merata.

Pertumbuhan ekonomi itu, kini juga bisa dirasakan para pengrajin kriya di Jawa Barat. Tak hanya pada Road to Inacraft 2025, bahkan pada penyelenggaraan Inacraft di Jakarta nantinya.

Pemilik Levara by Dzi-c, industri yang menyediakan produk-produk berbahan kulit, merasakan itu. Setiap kali mengikuti Inacraft, dia mengaku bisa mendapatkan omzet penjualan yang tak mengecewakan.

Levara by Dzi-c sudah berkali-kali mengikuti Inacraft. “Pada penyelenggaraan terakhir, setiap hari kami bisa mengantongi omzet hingga Rp50 juta,” katanya.

Karena itu, produk-produk Levara yang berbasiskan kulit domba dan sapi pun mulai dilirik desainer-desainer papan atas di Indonesia. (ing)


Editor : Zulfirman