Kisah Lidya dan Kilau Batu Nusantara

INACRAFT 2026 jadi panggung bagi UMKM binaan Pertamina. Lidya, pemilik Besolek, mencuri perhatian dengan perhiasan batu alamnya.

Kisah Lidya dan Kilau Batu Nusantara
Keramaian Jakarta Convention Center (JCC) pada ajang INACRAFT 2026 terasa semakin hidup saat pengunjung menatap sebuah booth yang memancarkan kilau alami, awal Februari lalu. (istimewa)

INILAHKORAN.ID - INACRAFT 2026 jadi panggung bagi UMKM binaan Pertamina. Lidya, pemilik Besolek, mencuri perhatian dengan perhiasan batu alamnya.

Keramaian Jakarta Convention Center (JCC) pada ajang INACRAFT 2026 terasa semakin hidup saat pengunjung menatap sebuah booth yang memancarkan kilau alami, awal Februari lalu. 

Gelang dan bros batu alam khas Bengkulu berjajar rapi, dipadukan dengan tembaga yang berkilau. Di balik keindahan itu tampak sosok Lidya, pemilik Besolek. Matanya berbinar menatap pengunjung yang satu per satu mencoba kreasinya.

Ini adalah kali pertama Lidya menapaki panggung INACRAFT. Sebuah debut yang sekaligus menegangkan dan mengharukan. 

Lebih dari 80 persen produk yang dibawanya ludes terjual, puncak keberhasilan yang baru pertama kali dia rasakan dalam sejarah perjalanan Besolek.

“Tidak menyangka sambutan pengunjung begitu hangat. Rasanya campur aduk antara syukur dan bangga,” ujarnya sambil tersenyum.

Setiap gelang yang terjual, bros yang berpindah tangan, baginya bukan sekadar angka transaksi. Itu adalah pengakuan atas jam-jam di bengkel kecilnya di Bengkulu.

Dia memoles batu alam, menekuk tembaga, dan menambahkan sentuhan personal yang membuat setiap produk unik. Sabtu dan Minggu, ketika keramaian mencapai puncak, Lidya merasa semua kerja kerasnya seolah diberi panggung.

Bagi Lidya, dukungan Pertamina sebagai pembina UMKM bukan sekadar fasilitas booth di pameran. Lebih dari itu, dia merasa didorong untuk percaya diri, belajar lebih banyak, dan menatap pasar yang lebih luas.

“Terima kasih kepada Pertamina atas kepercayaan dan pendampingan. Ini langkah penting bagi kami untuk terus berkembang dan memperluas pasar,” katanya.

Kesuksesan Besolek hanyalah salah satu dari kisah inspiratif UMKM binaan Pertamina di INACRAFT 2026. Secara keseluruhan, UMKM binaan Pertamina berhasil membukukan transaksi Rp10,4 miliar, terdiri atas penjualan ritel senilai Rp6 miliar dan potensi transaksi lanjutan sebesar Rp4,4 miliar.

Vice President Corporate Communication Pertamina Muhamad Baron menegaskan, capaian ini mencerminkan komitmen perusahaan dalam mendorong UMKM naik kelas dan berdaya saing.

“Pertamina menghadirkan UMKM binaan ke panggung nasional dan internasional. Capaian transaksi dan komitmen lanjutan ini membuktikan produk UMKM Indonesia memiliki kualitas dan potensi pasar besar,” jelasnya.

Pendampingan Pertamina tidak berhenti pada penjualan. Baron menambahkan, fokusnya juga pada penguatan kapasitas pelaku usaha agar mereka memperoleh jejaring, wawasan, dan kepercayaan diri untuk tumbuh secara berkelanjutan.

Para pelaku UMKM binaan pun menyampaikan apresiasi atas kesempatan, kepercayaan, dan ruang pembelajaran yang diberikan.

Bagi mereka, pengalaman, ilmu, dan jejaring yang diperoleh di pameran adalah investasi penting untuk masa depan. “Bagi kami, ilmu dan pengalaman adalah investasi terpenting,” tutup Lidya.

Di balik kilau batu dan tembaga, tersimpan cerita seorang perempuan yang berani bermimpi, bekerja keras, dan menemukan pengakuan atas karyanya.

INACRAFT 2026 bukan sekadar pameran, tapi panggung pertama dari perjalanan panjang untuk memperkenalkan kerajinan Indonesia ke dunia. 

Sebuah kisah yang mengingatkan, setiap produk UMKM membawa tidak hanya nilai ekonomi, tapi juga jiwa dan cerita penciptanya.

Langkah Pertamina ini sejalan dengan komitmen perusahaan mendukung target Net Zero Emission 2060 serta program-program yang berdampak langsung pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), sambil menegakkan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis.


Editor : Doni Ramdhani