Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu Tembus Pasar Arab Saudi

Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu asal Lembang, Bandung Barat, menembus pasar Arab Saudi. Ekspor perdana mencapai 4 ton senilai Rp800 juta.

Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu Tembus Pasar Arab Saudi
ilustrasi/net

INILAHKORAN.ID-Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu asal Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, berhasil menembus pasar internasional setelah diekspor ke Arab Saudi.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu hasil fasilitasi Pemerintah Kabupaten Bandung Barat dalam mendorong pengembangan dan peningkatan daya saing produk kopi lokal.

Wakil Bupati Bandung Barat Asep Ismail mengatakan pengembangan kopi dilakukan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku UMKM, petani, Bank Indonesia, Bea Cukai, serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk lokal Bandung Barat.

"Alhamdulillah berkat usaha tersebut, sekarang salah satunya berhasil, yaitu dari Kopi Poctan Arjuna atau dengan produk Tonas Coffee ke Arab Saudi," kata Asep di Bandung Barat, Senin.

Ia berharap keberhasilan ekspor tersebut menjadi langkah awal bagi kopi Bandung Barat untuk terus memperluas pasar ke berbagai negara.

Selain Arab Saudi, Jepang juga diharapkan menjadi salah satu tujuan Ekspor Kopi Bandung Barat berikutnya.

"Mudah-mudahan Pak Ananda, Pak Dikdik, dan Kang Adil bisa terus meningkatkan produknya. Katanya, mudah-mudahan tahun depan bisa ekspor ke Jepang," ujarnya.

Ekspor Perdana 4 Ton

Manajer Tonas Kopi sekaligus petani milenial Dikdik Ramdaniansyah mengatakan keberhasilan Kopi Arabika Gunung Tangkuban Parahu masuk pasar Arab Saudi diawali dengan pengiriman sejumlah sampel kepada calon pembeli di Riyadh.

Pihaknya mengirimkan lima sampel kopi dengan metode pengolahan berbeda untuk diuji oleh pembeli.

"Awalnya kita kirim sampel dulu berupa pengolahan kopi fermentasi lima sampel. Hasilnya yang diterima Kopi Fermentasi Nanas," kata Dikdik.

Dari proses tersebut, pembeli di Arab Saudi tertarik dengan kopi hasil fermentasi menggunakan buah nanas.

Ekspor perdana kemudian dilakukan sebanyak 4 ton biji kopi hijau atau green bean hasil fermentasi nanas dengan nilai transaksi mencapai sekitar Rp800 juta.

Permintaan awal dari pembeli sebenarnya jauh lebih besar, yakni mencapai 25 ton. Namun, Tonas Kopi baru mampu memenuhi pengiriman tahap pertama sebanyak 4 ton.

"Awalnya, mereka melakukan pemesanan sebanyak 25 ton. Namun, karena situasi dan kondisi yang kurang memungkinkan, kami baru mampu menyanggupi pengiriman sebanyak 4 ton," ujarnya.

Terkendala Bahan Baku

Dikdik menyebut tingginya permintaan dari pasar Arab Saudi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi Petani Kopi di Kecamatan Lembang.

Saat ini, Tonas Kopi telah menyerap sekitar 50 ton kopi dari petani Desa Cibodas. Namun, jumlah tersebut dinilai belum mencukupi jika permintaan ekspor terus meningkat.

"Kendala utama yang kami hadapi dalam proses produksi adalah ketersediaan bahan baku, khususnya ceri kopi," ujar Dikdik.

Karena itu, Tonas Kopi menargetkan kapasitas produksi dapat meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat.

Untuk memenuhi target tersebut, kebutuhan bahan baku kopi diproyeksikan meningkat menjadi lebih dari 100 ton.

Peningkatan produksi dinilai penting agar peluang pasar ekspor yang telah terbuka dapat dipertahankan sekaligus memberikan dampak lebih besar terhadap Petani Kopi di Lembang.

Butuh Tiga Tahun untuk Siap Ekspor

B2B Specialist Tonas Kopi Adil Wijayakusumah mengatakan kemampuan melakukan ekspor secara mandiri tidak diperoleh secara instan.

Menurutnya, Tonas Kopi membutuhkan waktu sekitar tiga tahun untuk mempersiapkan berbagai persyaratan dan membangun kesiapan produk hingga mampu masuk ke pasar internasional.

"Kami berproses sekitar tiga tahun untuk memenuhi syarat ekspor. Tentu tidak mudah, namun ini menjadi titik awal kopi petani di Lembang, khususnya, menembus pasar internasional," katanya.

Keberhasilan tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bagi petani dan pelaku usaha kopi lainnya di Bandung Barat untuk meningkatkan kualitas, kapasitas produksi, serta memperluas pasar.

Dengan terbukanya pasar Arab Saudi dan peluang ekspor ke Jepang, kopi asal Lembang berpotensi semakin dikenal sebagai salah satu produk unggulan Jawa Barat di pasar global.***


Editor : JakaPermana