Robert Alberts Kritik PSSI dan PT LIB karena Belum Ada Jadwal Liga 1 2020
Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts kembali harus melontarkan kekecewaannya terhadap PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Pelatih Persib Bandung, Robert Rene Alberts kembali harus melontarkan kekecewaannya terhadap PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB).
Pasalnya hingga saat ini, jadwal kompetisi Liga 1 untuk musim 2020 belum menemui kejelasan. Padahal Liga 1 2019 akan segera berakhir setelah hanya menyisakan dua pertandingan.
"Normalnya di setiap negara di dunia, ketika Liga sudah selesai maka klub sudah tahu kapan Liga musim depan akan mulai. Tapi ini sudah memasuki pekan terakhir di kompetisi tapi belum ada kabar musim baru akan dimulai," ungkap Robert.
Kepastian jadwal ini kata Robert sangat berpengaruh pada tim. Sebab hampir seluruh tim peserta harus melakukan persiapan yang matang.
"Saya sebagai pelatih ingin merancang rencana dengan pemain soal kapan kami mulai melakukan pramusim, tetapi tidak ada yang tahu," katanya.
Pelatih asal Belanda ini sangat berharap ada perubahan di tubuh PSSI atau PT LIB soal Liga. Jangan sampai ketidakpastian menjadi kebiasaan yang sulit dihilangkan.
"Jadi harus ada perencanaan dan bagaimana mengubah budaya itu. Ketika Liga usai, kami belum tahu kapan Liga musim depan akan dimulai," tuturnya.
Robert juga sempat mendengar kabar bahwa turnamen bertajuk Piala Presiden akan kembali digulirkan tahun depan. Jadwalnya digelar jelang Liga 1 2020 dimulai.
"Tidak ada kasus seperti ini di dunia yang menggelar kompetisi di masa pramusim. Jika Piala Presiden digelar dua pekan setelah liga musim ini usai, kapan pemain akan istirahat. Pemain seolah-olah seperti yoyo, mereka pasti kelelahan, wasit juga kelelahan," kesal Robert.
Kondisi ini, lanjutnya yang selalu memberatkan pemain setiap tahunnya. Sebab para pemain dipaksa untuk terus bekerja dan tidak memiliki banyak waktu istirahat dan bercengkrama dengan keluarga.
"Saya memberikan saran bagaimana jika Piala Presiden digelar untuk pemain U-23. Kenapa kami dipaksakan untuk memasukan tujuh pemain U-23 tapi tidak bermain. Lebih baik itu yang diambil untuk mengembangkan pemain muda. Kami tidak bisa memaksakan untuk memainkan pemain U-23 jika mereka belum siap dan Piala Presiden untuk pemain U-23 itu bisa menjadi solusi," jelasnya.
Selain Piala Presiden, pelatih berusia 64 tahun ini menyoroti turnamen Piala Indonesia. Terlebih turnamen itu menghabiskan waktu selama dua tahun.
"Silakan cek aturan FIFA. Tidak diperbolehkan untuk menuntaskan kompetisi di tahun berikutnya. Setiap gelaran di negara tidak boleh melewati kalender FIFA yang berlaku. Tapi ini berakhir di tahun 2019," katanya.
Robert berkeinginan sepak bola Indonesia mengalami kemajuan. Sebab hal itu akan berdampak pada kinerja Timnas Indonesia.
"Jika di negara lain, setiap tim mengisi pramusim dengan laga-laga eksebisi atau mereka mengisi kegiatan dengan tur ke Cina atau Indonesia, untuk membangun ketertarikan. Tapi jika dengan kompetisi, pemain lebih dituntut untuk terus menang dan tidak ada waktu bagi mereka istirahat ketika kompetisi sesungguhnya digelar," pungkasnya.(Muhammad Ginanjar)
Editor : Bsafaat

