Roby Tremonti Bantah Jadi Sosok “Bobby” di Buku Broken Strings

Roby meluapkan kekesalan atas berbagai tudingan yang menurutnya telah diarahkan kepadanya selama bertahun-tahun tanpa bukti yang jelas.

Roby Tremonti Bantah Jadi Sosok “Bobby” di Buku Broken Strings
Roby Tremonti Bantah Jadi Sosok “Bobby” di Buku Broken Strings

INILAHKORAN.ID - Roby Tremonti akhirnya angkat bicara menanggapi dugaan bahwa dirinya merupakan sosok “Bobby” yang diceritakan dalam buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans. 

Dalam pernyataannya, Roby meluapkan kekesalan atas berbagai tudingan yang menurutnya telah diarahkan kepadanya selama bertahun-tahun tanpa bukti yang jelas.

Roby mengaku telah lama memilih diam meski merasa disudutkan oleh berbagai opini publik. Ia menyebut selama 16 tahun dirinya kerap mendapat hinaan hingga tuduhan serius, termasuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

“16 tahun gue diinjek-injek, dihina-hina. Bacot aja ngomong. Relevansinya di mana? Gue tuh dibilang KDRT segala macam, buktinya dong mana,” ujar Roby.

Ia menegaskan, selama ini memilih tidak menanggapi berbagai isu tersebut demi menghindari konflik berkepanjangan. Menurutnya, sikap diam itu justru dimanfaatkan oleh pihak lain untuk membentuk narasi sepihak.

“Selama 16 tahun gue diem aja, gue nggak mau konflik,” ucapnya.

Meski tidak menyebut nama secara langsung, Roby diduga merespons isi buku Broken Strings yang belakangan ramai diperbincangkan publik. Ia menyoroti proses penulisan buku tersebut yang disebut dilakukan saat penulisnya berada di luar Indonesia.

“Nulis buku nyebrang laut, dia lagi nggak di Indonesia. Lucu nggak sih, nulis buku orangnya tuh lagi nggak di Indonesia,” kata Roby dengan nada menyindir.

Tak hanya itu, Roby juga melontarkan dugaan bahwa narasi dalam buku tersebut dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia menilai pilihan kata yang digunakan terkesan terlalu rapi dan tidak mencerminkan pengalaman personal secara alami.

“Dari kata-katanya aja tuh pakai prompt, indah banget, kayak yang pinter aja,” ujarnya.


Editor : Firda Rachmawati