Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pedagang Pasar Cimahi Keluhkan Omzet Anjlok

Melemahnya rupiah terhadap dollar AS hingga menembus RP18 ribu membuat para pedagang sayur di Cimahi mengeluh karena omzet menurun

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Pedagang Pasar Cimahi Keluhkan Omzet Anjlok
Seorang pedagang sayur di Pasar Atas Baru Cimahi tengah menimbang daun bawang, Jumat (5/6/2026). Naiknya nilai tukar rupiah terhadap Dollar AS berimbas anjloknya omzet harian mereka. Agus Satia Negara

INILAHKORAN.ID – Tekanan ekonomi makro kini kian terasa hingga ke pasar-pasar tradisional. Kondisi ini dipicu nilai tukar rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat yang terus tergerus dan menembus angka Rp18.000 per satu dolar. 

Menguatnya mata uang asing ini membawa dampak berantai yang mulai dirasakan pelaku usaha kecil dan menengah, hingga mempengaruhi pola belanja warga di Kota Cimahi. 

Meski belum seluruh harga kebutuhan pokok melonjak tajam, namun gelombang dampak ekonomi ini nyata terlihat dari menurunnya kemampuan masyarakat dalam membeli barang.

pedagang sayur di Pasar Atas Baru Cimahi, Willy mengaku sangat merasakan perbedaan signifikan dalam beberapa pekan terakhir. Ia menyebut, jumlah pembeli yang datang dan jumlah barang yang terjual menurun drastis dibandingkan kondisi beberapa waktu lalu. 

Namun, ia menyadari penurunan daya beli ini tidak semata-mata disebabkan oleh nilai tukar mata uang, namun pelemahan rupiah menjadi salah satu pemicu yang tidak bisa dipungkiri dampaknya.

"Sangat terasa, beli masyarakat turun banget. Kalau dibilang penyebabnya hanya karena dolar menguat, pastinya tidak juga. Tapi dampak itu pasti ada dan menjadi salah satu faktornya," kata Willy, Jumat (5/6/2026).

Dari sisi harga komoditas, sambung Willy, situasi saat ini masih cukup beragam. Ia menyebut, sebagian besar harga sayuran dan kebutuhan pokok lainnya masih bertahan di harga wajar, namun ada satu komoditas yang harganya melonjak hampir dua kali lipat, yaitu bawang merah.

Menurutnya, jika biasanya harga di tingkat pedagang eceran berada di angka Rp30.000 hingga Rp40.000 per kilogram, kini konsumen harus merogoh kocek antara Rp50.000 hingga Rp60.000 per kilogram.

"Barang kami menumpuk dan lama laku. Itu sama saja masalah besar bagi kami. Kasihan kami yang berjuang di lapisan bawah, pemerintah harus peka melihat kondisi riil di pasar seperti ini," ucapnya.

Hal senada juga diungkapkan Hanna Subiarti, pedagang lainnya, ia mengakui transaksi di pasar tradisional kian lesu. Bahkan, dirinya sempat berpikir apakah warga enggan datang karena beralih belanja daring.

Namun, ia juga menduga masyarakat memang menahan pengeluaran lantaran beban ekonomi yang kian berat akibat tingginya nilai tukar dolar. Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) seperti dirinya menjadi pihak yang paling rentan terdampak gejolak ekonomi ini.

"Kami berharap pemerintah segera menemukan solusi agar nilai tukar membaik dan ekonomi rakyat kembali bergairah. Kami butuh pasar yang hidup, bukan sepi pembeli seperti sekarang," tandasnya.


Editor : Ahmad Sayuti