Sebagai Leader BTS RM Ungkap Artinya Pemimpin bagi Dirinya: Semua Stres Hilang
RM BTS ungkap arti sebagai pemimpin saat kini dirinya menjabat sebagai leader grupnya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - RM BTS kembali jadi perhatian usai dirinya mengungkap artinya menjadi sekrang pemimpin.
leader BTS, RM memberikan pandangan mendalam tentang filosofinya mengenai kepemimpinan, pertumbuhan pribadi, dan kehidupan modern dalam sebuah wawancara jujur dengan perancang busana Inggris, Bella Freud.
Percakapan yang baru dirilis itu memperlihatkan RM merenungkan berbagai hal, mulai dari kesuksesan global BTS hingga tekanan media sosial, evolusi gaya kepemimpinannya, dan inspirasi di balik karya solonya.
Ketika ditanya apa arti kepemimpinan baginya, RM berbagi analogi sederhana yang telah beresonansi dengan para penggemar.
“Bayangkan semua orang berbaring nyaman di sofa, tetapi jendela terbuka dan udaranya dingin. Seseorang harus bangun dan menutup jendela, tetapi tidak ada yang mau bergerak. Saya pikir seorang pemimpin adalah orang yang bangun dan menutupnya. Jika seseorang harus melakukannya, saya percaya itu seharusnya saya," jelas RM.
leader BTS itu menjelaskan bahwa kepemimpinan sering kali berarti mengambil tanggung jawab atas tugas-tugas yang lebih disukai orang lain untuk dihindari.
RM juga merenungkan bagaimana pendekatannya telah berkembang sejak BTS debut pada tahun 2013.
Dia mengakui bahwa selama delapan atau sembilan tahun pertama grup tersebut, dia adalah pemimpin yang jauh lebih kuat dan terkadang lebih otoritatif.
Namun, seiring perkembangan BTS dan setiap member membangun identitas dan karier masing-masing, dia menyadari bahwa gaya tersebut tidak lagi efektif. "Saya mengubah cara saya berkomunikasi."
Kini, RM menemukan penghargaan terbesar dalam mendengar rekan-rekannya mengakui usahanya.
“Ketika para member mengatakan kepada saya, 'Kami tahu betapa kerasnya Anda bekerja. Kami sangat berterima kasih memiliki pemimpin seperti Anda,' semua stres hilang. Itulah indahnya menjadi sebuah tim," tuturnya.
Meskipun BTS menjadi salah satu grup musik terbesar di dunia, RM mengatakan bahwa ketenaran global bukanlah tujuan awalnya.
Dia mencatat bahwa mudah untuk terobsesi dengan peringkat tangga lagu, angka, dan pengaruh dalam industri pop, tetapi ia mencoba untuk tetap terhubung dengan kehidupan nyata dan alam.
RM juga mengungkapkan kekhawatiran tentang budaya digital yang serba cepat saat ini. “Video pendek dan Reels menciptakan tekanan konstan untuk selalu melakukan sesuatu. Yang paling menakutkan bagi saya adalah betapa cepatnya segala sesuatu telah terjadi.”
Bahas Album Solo
RM juga membahas album studio solo keduanya, Right Place, Wrong Person, yang dirilis pada tahun 2024.
Dia menjelaskan bahwa sebagian besar hidupnya didorong oleh tekanan untuk selalu tampil baik, sehingga album tersebut menjadi kesempatan untuk melepaskan pola pikir itu.
“Saya ingin menjadi lebih nyaman dan membebaskan diri dari perasaan tegang yang selalu ada,” kata RM.
Konsep visual album ini dibuat bekerja sama dengan fotografer ternama Wing Shya, yang dikenal karena karyanya yang telah lama berjalan bersama pembuat film terkenal Wong Kar Wai.
RM mengatakan judul album tersebut mencerminkan perasaan yang dialami banyak orang saat ini.
“Banyak orang bertanya-tanya, 'Apakah hanya aku yang berpikir seperti ini?' atau 'Apakah aku orang yang salah?'," tanya RM.
"Terkadang Anda merasa berada di tempat yang tepat tetapi Anda adalah orang yang salah, atau Anda adalah orang yang tepat di tempat yang salah,” lanjutnya.
RM menambahkan bahwa meskipun ponsel pintar dan media sosial telah menghubungkan orang lebih dari sebelumnya, kesepian dan depresi terus memengaruhi banyak individu.
Sebagai pembaca seumur hidup, RM berterima kasih kepada orang tuanya karena telah memupuk kecintaannya pada buku dengan membawanya ke perpustakaan umum setiap minggu sejak kecil.
Di antara banyak buku yang telah dibacanya, dia menyebut Demian karya Hermann Hesse sebagai buku yang paling berpengaruh dalam hidupnya.
Menurut RM, novel tersebut membantunya memahami hakikat kecemburuan untuk pertama kalinya.
Dia ingat pernah membandingkan dirinya dengan teman-teman sekelasnya yang tampaknya unggul dalam segala hal, mulai dari akademis dan olahraga hingga popularitas, dan menyadari perasaan iri tersebut melalui tema-tema dalam buku itu.
“Saya sudah membacanya empat atau lima kali. Buku itu memberi saya kesempatan untuk secara alami menyerap kearifan yang ditinggalkan oleh generasi sebelumnya.”
Refleksi RM sekali lagi menyoroti pola pikir introspektif yang telah menjadi ciri khas kepemimpinannya di dalam BTS dan karyanya sebagai artis solo.***
Editor : Irma Nurfajri

