Sekda Jabar Herman Suryatman Minta Peran Serta Masyarakat Pulihkan Sungai Citarum

Sekda Jabar Herman Suryatman meminta peran serta masyarakat bisa membantu memulihkan Sungai Citarum.

Sekda Jabar Herman Suryatman Minta Peran Serta Masyarakat Pulihkan Sungai Citarum
Sekda Jabar Herman Suryatman menilai harus ada peran serta dari masyarakat untuk mengurangi limbah atau sampah. Salah satunya dengan mengurangi sampah organik rumah tangga, sehingga pemulihan Sungai Citarum dapat diakselerasi. (istimewa)

INILAHKORAN, Bandung - Sekda Jabar Herman Suryatman meminta peran serta masyarakat bisa membantu memulihkan Sungai Citarum.

Sebab, Perpres Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum yang diinisiasi Presiden Joko Widodo akan berakhir pada 2025 kelak. Sementara saat ini kualitas air Sungai Citarum masih di angka 50,78 poin, dari target mininal 60 poin.

Lantaran hal itu, Sekda Jabar Herman Suryatman menilai harus ada peran serta dari masyarakat untuk mengurangi limbah atau sampah. Salah satunya dengan mengurangi sampah organik rumah tangga, sehingga pemulihan Sungai Citarum dapat diakselerasi.

"Kita ikhtiarkan, semaksimal mungkin di akhir 2025 bisa menembus angka 60. Kita harus kita lompatkan lebih 10 poin dan itu berat banget. Untuk itu, kita geder. Bukan hanya struktural tapi partisipasi masyarakat, bahu-membahu agar kualitas air Sungai Citarum bisa menembus 60," ujar Sekda Jabar Herman Suryatman kala meninjau saluran air di Pagarsih, Kota Bandung, Minggu 9 Juni 2024.

Lebih lanjut dia menambahkan, Pemprov Jabar bersama stakeholders terkait Program Citarum Harum akan mendorong 13 kabupaten/kota yang dilintasi Sungai Citarum untuk melakukan gerakan, supaya dalam 1,5 tahun jelang habisnya Perpres Citarum Harum, target indeks kualitas air menjadi 60 poin dapat terpenuhi.

"Untuk bahu-membahu memastikan ke depan Citarum ada perubahan signifikan. Sekarang sudah bagus, ke depan harus lebih bagus," ucapnya.

Dia juga berharap pemerintah kota/kabupaten juga dapat menggencarkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, guna mengurangi limbah rumah tangga.

Sebab, dengan berkurangnya sampah organik setidaknya bakal mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPAS hingga 40 persen.

"Kuncinya di rumah tangga. Edukasi agar mengupayakan zero food waste. Kalau itu bisa dilakukan, beban akan berkurang," ucapnya.

Tidak hanya itu, pemerintah wilayah di kabupaten/kota juga diharapkan mampu mengelola sampah organik menjadi sumber ekonomi seperti magot untuk mengurangi beban sampah yang dibuat ke TPAS.

Maka dari itu dia berharap, pemerintah wilayah mulai dari kelurahan hingga RT untuk memastikan sampah organik dapat dikelola.

"Di atas kertas harusnya bisa. Kuncinya harus strong. Lurah harus rewel. Saya yakin, step by step bisa," tandasnya. (yuliantono)


Editor : Doni Ramdhani