Sekjen ASEAN Dorong Dialog dan Diplomasi Hadapi Persaingan Geopolitik
Sekjen ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan pentingnya dialog dan diplomasi sebagai instrumen utama ASEAN menghadapi persaingan geopolitik yang semakin intensif.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID-Sekretaris Jenderal (Sekjen) ASEAN Kao Kim Hourn menegaskan pentingnya dialog dan Diplomasi sebagai pendekatan utama ASEAN dalam menghadapi persaingan Geopolitik yang semakin intensif.
Kao menyampaikan hal tersebut saat memberikan pidato kunci pada ASEAN Think Tanks Summit (ATTS) ke-3 di Sekretariat ASEAN, Jakarta, Senin.
“Di tengah persaingan Geopolitik yang semakin intensif, ASEAN harus terus berinvestasi dalam dialog dan Diplomasi sebagai instrumen pilihan pertama,” kata Kao.
Menurut Kao, ASEAN memiliki landasan kuat untuk mempertahankan pendekatan tersebut melalui Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) yang kini memasuki usia 50 tahun.
Ia mengatakan TAC tetap mencerminkan prinsip-prinsip fundamental dalam membangun hubungan damai antarnegara serta penolakan terhadap penggunaan kekuatan di kawasan Asia Tenggara.
Pendekatan tersebut, lanjut Kao, juga diperluas melalui Pandangan ASEAN mengenai Indo-Pasifik (ASEAN Outlook on the Indo-Pacific/AOIP) dalam keterlibatan ASEAN dengan kawasan yang lebih luas, dengan tetap berlandaskan sentralitas ASEAN.
ASEAN Diminta Jaga Koherensi Arsitektur Regional
Kao mengakui ASEAN telah memiliki berbagai mekanisme untuk mengedepankan dialog dan Diplomasi. Namun, mekanisme tersebut harus terus disesuaikan agar tetap relevan dengan perubahan lanskap regional.
Persaingan Geopolitik yang semakin tajam serta bermunculannya institusi dan inisiatif baru dinilai membuat arsitektur kawasan semakin kompleks.
“Bagi ASEAN, pertanyaannya adalah bagaimana memastikan arsitektur regional yang semakin kompleks ini tidak menjadi begitu terfragmentasi sehingga proses-proses yang dipimpin ASEAN kehilangan koherensi, relevansi, atau kemampuan untuk mempertemukan berbagai pihak,” ujarnya.
Menjelang usia ASEAN yang ke-60 pada 2027, Kao mengimbau negara-negara anggota untuk kembali mengkaji berbagai asumsi, institusi, dan pola kerja sama yang selama ini telah menjadi bagian penting dalam perjalanan ASEAN.
Menurutnya, evaluasi tersebut diperlukan untuk memastikan kerja sama ASEAN tetap sesuai dengan lingkungan strategis yang telah mengalami perubahan signifikan.
Think Tanks Diminta Beri Masukan Kebijakan
Kao berharap ASEAN Think Tanks Summit menjadi bagian dari proses refleksi dan pembaruan tersebut.
Forum itu diharapkan menyediakan ruang intelektual yang mendalam bagi para pemikir dan lembaga kajian untuk mempertanyakan berbagai asumsi yang ada sekaligus mengembangkan rekomendasi yang dapat memberikan masukan bagi proses penyusunan kebijakan ASEAN.
ASEAN Think Tanks Summit sendiri menjadi wadah bagi komunitas lembaga pemikir di kawasan untuk bertukar pandangan, memperkuat kolaborasi, serta berkontribusi dalam penyusunan rekomendasi kebijakan mengenai berbagai isu utama yang dihadapi ASEAN.
Sejalan dengan tema keketuaan ASEAN Filipina tahun ini, “Navigating Our Future, Together”, ATTS tahun ini membahas upaya memperkuat ketahanan, relevansi, dan kerja sama ASEAN di tengah lingkungan global yang semakin penuh tantangan.
ASEAN Kini Beranggotakan 11 Negara
ASEAN didirikan pada 8 Agustus 1967 melalui Deklarasi Bangkok. Organisasi kawasan tersebut kini memiliki 11 negara anggota setelah Timor-Leste resmi menjadi anggota penuh pada 26 Oktober 2025.
Dengan bertambahnya anggota dan semakin kompleksnya dinamika Geopolitik kawasan, penguatan dialog, Diplomasi, serta sentralitas ASEAN menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan relevansi organisasi di tingkat regional maupun global.***
Editor : JakaPermana

