Selain Ekonomi, Bencana ini Ancam Keluarga Sukiman yang Hidup Bersama Kambing 

Kisah pilu kehidupan Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02/09 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang hidup bersama empat ekor kambing menuai keprihatinan dari berbagai pihak.

Selain Ekonomi, Bencana ini Ancam Keluarga Sukiman yang Hidup Bersama Kambing 
Kisah pilu kehidupan Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02/09 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang hidup bersama empat ekor kambing menuai keprihatinan dari berbagai pihak./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Ngamprah - Kisah pilu kehidupan Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02/09 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) yang hidup bersama empat ekor kambing menuai keprihatinan dari berbagai pihak.

Sejumlah tetangga, termasuk Ketua RT 02 pun sempat berupaya untuk membantu keluarga Sukiman agar mendapatkan bantuan dari pemerintah. Namun, tak kunjung mendapatkan respons positif.

"Kondisi keluarga Sukiman ini sudah dilaporkan berulang kali untuk mendapat perhatian dari pemerintah terdekat, namun namanya tak pernah masuk dalam daftar antrean bantuan," kata Ketua RT 02 Pendi (71) kepada wartawan.

"Mau bansos, PKH, belum pernah dapat. Apalagi program Rutilahu," sambungnya.

Pendi mengaku khawatir dengan bencana longsor yang menimpa keluarga Sukiman tatkala hujam deras tiba lantaran letak bangunan bambu yang berada di tebing.

 "Yang bisa saya lakukan hanya mengecek kondisi keluarga Sukiman dalam keadaan sehat," imbuhnya.

Sebab, sambung Pendi, dirinya tidak memiliki kemampuan untuk menyalurkan bantuan kepada keluarga kecil Sukiman.

"Keluarga ini kan sudah setahun. Harapan saya pemerintah bisa terbuka bahwa kondisi ini ada di Campakamekar. Semoga ada hunian yang layak untuk keluarga Sukiman," tandasnya.

Sebelumnya, Sukiman (34) warga Kampung Legoknangka RT 02/09 Desa Campakamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) hanya bisa pasrah dengan nasib keluarganya yang tak seberuntung tetangganya.

Bersama Sopiah (32) dan seorang anaknya, Sukiman hidup bersama empat ekor domba dan puluhan unggas di dalam sebuah bangunan berbahan bambu, beratap asbes dan berlantai tanah. 

Ironisnya, di dalam bangunan itu terdapat kandang domba berukuran 2x5 meter, beberapa kandang unggas, dan sebuah kamar tidur sekaligus dapur berukuran 2x2 meter.

"Tinggal di sini (kandang domba) sudah setahunan sejak tahun kemarin. Tinggalnya bertiga sama suami sama anak," kata Sopiah saat ditemui di kediamannya.

Sopiah mengungkapkan, dirinya bersama sang suami lebih memilih tinggal di lahan milik orangtuanya yang kini menjadi kandang domba dan memilih menjadi keluarga yang mandiri.

Bau yang menyengat dari kotoran domba tak mereka hiraukan meski kerap mengganggu indra penciuman mereka saat berada di tempat tidur.

Bagi mereka yang terpenting ada tempat berteduh dan berlindung dari cuaca luar rumah dan ada tempat istirahat untuk tidur pada malam hari.

"Kalau tidur ya bertiga di sini sama suami sama anak. Masak juga di sini. Kalau masak masih pakai kayu bakar," ucapnya.

Mirisnya lagi, mereka tidur berdesakan di sebuah papan yang ditata dengan ukuran 2x2 meter yang berdampingan dengan bumbu dapur dan pawon tempat mereka mengolah masakan.*** (agus satia negara)


Editor : JakaPermana