Sempat Alami Inflasi Tinggi, Pemkot Cimahi Hadirkan SiBesti sebagai Solusi Pengendalian Harga Kepokmas

Persoalan inflasi tinggi yang sempat terjadi di Kota Cimahi pada pada 2023 lalu menjadi catatan kelam ketidakmampuan Pemkot Cimahi dalam mengendalikan perekonomian di daerahnya.

Sempat Alami Inflasi Tinggi, Pemkot Cimahi Hadirkan SiBesti sebagai Solusi Pengendalian Harga Kepokmas
Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Cimahi, yakni dengan menggalakkan program Beras untuk Masyarakat Kota Cimahi atau SiBesti yang bertujuan untuk memastikan stabilitas harga beras dan ketersediaan bahan pokok bagi warga Kota Cimahi. (agus satia negara)

INILAHKORAN, Cimahi - Persoalan inflasi tinggi yang sempat terjadi di Kota Cimahi pada pada 2023 lalu menjadi catatan kelam ketidakmampuan Pemkot Cimahi dalam mengendalikan perekonomian di daerahnya.

Hal itu pun menjadi catatan sekaligus evaluasi bagi Pemkot Cimahi untuk menjaga stabilitas harga sejumlah harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas).

Salah satu upaya yang dilakukan Pemkot Cimahi, yakni dengan menggalakkan program Beras untuk Masyarakat Kota Cimahi atau SiBesti yang bertujuan untuk memastikan stabilitas harga beras dan ketersediaan bahan pokok bagi warga Kota Cimahi.

"Program SiBesti ini menyasar seluruh masyarakat Cimahi, dengan koordinasi dari kasi ekonomi di masing-masing kelurahan," kata Kepala Bidang Perdagangan pada Dinas Perdagangan Koperasi UKM dan Perindustrian (Disdagkoperin) Kota Cimahi Indra Bagjana, Kamis 30 Januari 2025.

Indra menjelaskan, SiBesti dilaksanakan secara rutin setiap bulannya. Tepatnya, pada Kamis terakhir tanpa menunggu adanya fenomena kenaikan beras.

Pada dasarnya, sambung Indra, program SiBesti ini dilaksanakan untuk seluruh kelurahan yang ada di Cimahi dengan kuota beras yang mencapai 36,5 ton.

"Setiap kelurahan mendapatkan sekitar 2 ton, ada yang kurang atau lebih, tergantung pesanan," jelasnya.

Tak cuma itu, lanjut Indra, program SiBesti ini berbeda dengan operasi pasar murah (OPM) konvensional yang mengharuskan warga antre panjang. Sebab, program ini menerapkan sistem by order yang lebih terstruktur. 

Sehingga, warga yang ingin membeli beras melalui program ini harus mendaftar terlebih dahulu di kelurahan, dengan daftar penerima yang selalu berganti setiap pelaksanaan.

"Kalau dulu OPM itu pembeli harus antre panjang, bisa sampai ribuan orang. Nah, dengan SiBesti pembelian dilakukan secara terjadwal dan diacak oleh kelurahan, sehingga lebih tertib," paparnya.

Selain itu, ungkap Indra, beras yang dijual dalam program SiBesti ini memiliki harga yang lebih murah dibandingkan Harga Eceran Tertinggi (HET). 

"Contohnya, kita jual beras Rp 58.000 per 5 kg atau Rp 11.600 per kg, lebih murah dari HET Rp 12.500 per kilogram yang beredar di pasar," ungkapnya.

Kendati demikian, Indra tak memungkiri adanya kendala dalam pelaksanaan program ini. Menurutnya, meski distribusi beras berjalan lancar, namun keterbatasan armada menjadi tantangannya.

Pasalnya, kendaraan pengangkut yang difasilitasi oleh APBD Kota Cimahi hanya mampu mengangkut sekitar 2 ton per kelurahan.

"Jika ada kelurahan yang membutuhkan lebih dari 2 ton, maka mobil dinas lurah atau mobil siaga dikerahkan untuk membantu distribusi," bebernya.

Pihaknya berharap program SiBesti ini bisa menekan laju inflasi dan memastikan kelangkaan pasokan beras tetap stabil di masyarakat.

Sebab, sambung Indra, Kota Cimahi sempat mengalami inflasi beras. Meskipun hal itu merupakan fenomena nasional, namun pihaknya tak ingin kondisi tersebut terulang kembali.

"Kami tidak ingin persoalan inflasi kembali terjadi di Cimahi. Oleh karena itu, SiBesti hadir sebagai solusi untuk menjaga stabilitas harga dan meringankan beban masyarakat," ujarnya.

"Program ini terus berlanjut sebagai upaya konkret Pemkot Cimahi dalam pengendalian harga bahan pokok serta peningkatan kesejahteraan warga," tandasnya.


Editor : Doni Ramdhani