Sengkarut Backlog Perumahan dan Ironi Pemangkasan Anggaran Rutilahu di Jabar

Hingga tahun ini, backlog perumahan mencapai angka 2,8 juta unit. Artinya, sekitar 14 juta warga Jabar tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah layak huni.

Sengkarut Backlog Perumahan dan Ironi Pemangkasan Anggaran Rutilahu di Jabar
Anggota Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohanady menilai backlog perumahan di Jabar kian memprihatinkan. (istmewa)

INILAHKORAN, Bandung - Anggota Komisi IV DPRD Jabar Daddy Rohanady menilai backlog perumahan di Jabar kian memprihatinkan.

Hingga tahun ini, backlog perumahan mencapai angka 2,8 juta unit. Artinya, sekitar 14 juta warga Jabar tidak mampu memenuhi kebutuhan rumah layak huni.

Situasi ini semakin diperparah dengan tingginya harga tanah dan rumah yang tidak terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

"Banyak keluarga terpaksa tinggal berdesakan, dengan satu rumah dihuni oleh dua hingga tiga keluarga. Ini realitas yang menyedihkan, tetapi kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa harga rumah layak huni memang sulit dijangkau," kata Daddy dalam keterangannya, Minggu 10 November 2024.

Daddy menyoroti langkah Pemprov Jabar yang justru mengurangi anggaran perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) pada 2025. 

Dari 2.600 unit pada tahun sebelumnya, jumlah ini dikurangi menjadi hanya 1.250 unit. Angka ini jauh dari target beberapa tahun sebelumnya yang mampu mencapai hingga 31.000 unit.

"Ironis sekali melihat pengurangan ini, padahal kebutuhan perbaikan Rutilahu di berbagai kabupaten/kota sangat tinggi. Misalnya, Kota Bandung saja mengajukan perbaikan untuk 10.000 unit Rutilahu," ucapnya.

Menurut Daddy, salah satu kendala dalam penanganan masalah ini adalah regulasi yang membatasi perbaikan Rutilahu di lahan dengan luas antara 10 hingga 15 hektar untuk ditangani Pemprov Jawa Barat.

Untuk luas di bawah 10 hektar, penanganan menjadi kewajiban pemerintah kabupaten/kota, sementara di atas 15 hektar menjadi tanggung jawab pemerintah pusat melalui Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

"Ini menyebabkan banyak pengajuan dari daerah dengan kebutuhan mendesak menjadi terbatas karena kendala regulasi. Padahal, kawasan dengan angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) rendah, seperti Kabupaten Cirebon dan Indramayu, sangat membutuhkan dukungan perbaikan hunian," paparnya.

Daddy juga menyoroti pentingnya pendekatan kolaboratif, antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota dalam mengatasi permasalahan perumahan di Jawa Barat.

Dia menegaskan, bahwa Provinsi Jawa Barat harus mendapatkan alokasi setidaknya 20 persen dari kebutuhan nasional, untuk mendukung pembangunan rumah layak huni bagi MBR, yang kini jumlahnya mencapai sekitar 3 juta unit.

"Namun, pembangunan tidak boleh hanya terpusat di kota-kota besar. Wilayah pesisir dan kawasan kumuh juga membutuhkan perhatian agar pembangunan perumahan di Jawa Barat dapat lebih merata," tuturnya.

Daddy mengusulkan, konsep perumahan vertikal sebagai solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di Jawa Barat. Ia mencontohkan bahwa di negara-negara maju, pengembangan perumahan menggunakan sistem bagi hasil dengan pemilik lahan asli. 

"Jika fasilitas umum seperti listrik dan air sudah memadai, konsep hunian vertikal dapat menjadi solusi efektif," jelasnya.

Kondisi backlog perumahan di Jawa Barat ini menggambarkan urgensi kebijakan yang lebih responsif dan inklusif untuk memastikan setiap warga dapat menikmati hunian yang layak.

"Semoga Jabar mendapat bantuan yang cukup besar mengingat hampir 20 persen penduduk Republik Indonesia tinggal di Jabar," tandasnya. 


Editor : Doni Ramdhani