Menkes Soroti Tingginya Angka Kematian Ibu dan Anak di Jabar, Ini Penjelasan DP3AKB
Angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat disorot Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR, Senin (14/9/2026).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Angka kematian ibu dan bayi di Jawa Barat disorot Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR, Senin (14/9/2026).
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jabar Siska Gerfianti mengatakan, persoalan kematian ibu dan bayi tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan penanganan ketika pasien sudah berada di fasilitas kesehatan.
"Pernyataan Menteri Kesehatan Bapak Budi Gunadi Sadikin, dalam Rapat Kerja bersama Komisi IX DPR mengenai masih tingginya angka kematian ibu dan bayi, termasuk di Jawa Barat, perlu kami sikapi secara serius dan konstruktif," ujar Siska dalam keterangannya, Selasa (15/9/2026).
Data Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 mencatat 646 kasus kematian ibu, dengan angka 88,78 per 100.000 kelahiran hidup.
Jumlah tersebut sebenarnya turun dibandingkan 2024 yang mencapai 749 kasus. Namun, penurunan itu belum membuat persoalan AKI dan AKB dapat dianggap selesai.
Menurut Siska, kematian ibu dan bayi memiliki penyebab yang berlapis sehingga intervensinya harus dilakukan sejak sebelum kehamilan hingga masa awal kehidupan bayi.
"Data tersebut menunjukkan bahwa persoalan AKI dan AKB merupakan persoalan yang kompleks dan multidimensional. Pencegahannya tidak dapat hanya bertumpu pada pelayanan kesehatan ketika ibu sudah berada di fasilitas kesehatan, tetapi harus dibangun sejak sebelum kehamilan, selama kehamilan, persalinan, masa nifas hingga periode neonatal," katanya.
Pada ibu, sejumlah penyebab kematian masih berkaitan dengan komplikasi nonobstetrik, hipertensi dalam kehamilan, persalinan dan nifas, serta perdarahan obstetrik.
Sementara pada bayi, persoalan yang kerap berujung fatal meliputi gangguan pernapasan atau kardiovaskular, bayi berat lahir rendah (BBLR), prematuritas, dan infeksi.
Jabar pun melihat faktor risiko tidak berhenti pada persoalan medis. Kondisi sosial keluarga dan perilaku sebelum, hingga selama kehamilan turut menentukan cepat atau lambatnya penanganan ketika terjadi kondisi darurat.
"Faktor kesehatan memang sangat penting, namun terdapat pula faktor yang berada di luar fasilitas pelayanan kesehatan, seperti perencanaan kehamilan, usia dan kondisi kesehatan ibu, jarak kehamilan, pengetahuan keluarga, keterlambatan mengenali tanda bahaya, keterlambatan mengambil keputusan, akses terhadap pelayanan, serta dukungan suami dan keluarga," tuturnya.
Atas kondisi tersebut, DP3AKB Jabar akan memperkuat intervensi berbasis keluarga dan masyarakat. Program keluarga berencana, kesehatan reproduksi, ketahanan keluarga, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan lini lapangan akan dioptimalkan.
Pencegahan akan dimulai dengan mendorong pasangan memiliki kehamilan yang terencana dan sehat. Akses serta kualitas konseling dan pelayanan KB akan diperkuat, agar pasangan mampu menentukan jumlah dan jarak kelahiran sesuai kondisi kesehatan serta kebutuhan keluarga.
Edukasi terhadap kelompok berisiko juga menjadi perhatian. Salah satunya melalui penguatan pemahaman mengenai 4 Terlalu atau 4T, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak.
Editor : Doni Ramdhani

