INILAH, Bandung - Shararea, brand fesyen asal Bandung terus mengembangkan sayap bisnisnya. Pada 2019 mendatang, GM Shararea Aries Kusuma Nugraha optimistis pihaknya mampu menggandeng hingga 100 reseller.
Menurutnya, produk fesyen muslim beberapa tahun mendatang masih berpeluang tumbuh. Dia pun masih melihat adanya pangsa pasar dari produk fesyen ini. Untuk membantu pemasaran, sejauh ini pihaknya menggandeng 35 reseller se-Indonesia.
"Untuk lebih meningkatkan penjualan, tahun depan targetnya kami menambah reseller. Tahun 2019 nantu, diharapkan ada 100 reseller yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air," kata Aries saat milad ke-5 brand Shararea, Senin (19/11/2018).
Mengenai penjualan produk, dia menyebutkan sejauh ini pasar Banjarmasin terbilang paling tinggi. Kontribusinya mencapai 70% dari keseluruhan penjualan se-Nusantara. Setelah itu, kontributor selanjutnya yakni Aceh, Pekanbar, Jambi, Solo, Majalengka, dan Gresik.
Sementara itu, Owner Shararea Heni Hendarsih menuturkan pangsa pasar busana muslim ini akan terus dikembangkan. Saat ini pihaknya meluncurkan second brand yaitu Mimiti. Harga yang ditawarkan brand ini berada di bawah banderol brand Shararea.
"Kalau produk Shararea itu rata-rata di harga Rp440 ribu-1,8 juta, produk Mimiti lebih terjangkau. Rata-rata produk ini dibanderol Rp300-400 ribu," ucapnya.
Heni menyebutkan, dengan lahirnya seconds brand itu kapasitas produksi Shararea akan ditingkatkan signifikan. Produk Mimiti membidik segmen menengah bagi mereka yang atraktif dan aktif dengan desain casual. Beda halnya dengan Sararea yang lebih membidik segmen atas dengan fokus fokus di produk yang sesuai syariah.
Selain itu, beberapa tahun belakangan pihaknya memiliki jajaran manajemen yang bisa mengelola brand lebih profesional. Adanya manajemen profesional itu memberikan peningkatan yang signifikan. Terbukti dari sisi kapasitas produksi yang kini mencapai 16.000 lembar pakaian per bulan. Sebelumnya, angka tersebut hanya 5.000 lembar pakaian per bulan.
"Sejak ada manajemen pada Agustur 2017 lalu, kapasitas produksi bisa meningkat tiga kali lipat. Jumlah karyawan pun sekarang sudah mencapai 85 orang," sebut Heni.