Siapa yang Lebih Unggul, Gojek atau Grab?

Beberapa waktu lalu pelaku bisnis transportasi daring (online), yaitu Grab asal Malaysia dan Gojek merilis hasil survei yang mengklaim bahwa masing-masing adalah pemimpin pasar baik di industri ride hailing maupun di industri layanan pesan-antar makanan.

Siapa yang Lebih Unggul, Gojek atau Grab?
Ilustrasi/ANTARA FOTO

INILAH, Jakarta - Beberapa waktu lalu pelaku bisnis transportasi daring (online), yaitu Grab asal Malaysia dan Gojek merilis hasil survei yang mengklaim bahwa masing-masing adalah pemimpin pasar baik di industri ride hailing maupun di industri layanan pesan-antar makanan.

Menyikapi hal ini, praktisi bisnis Rhenald Kasali menilai kedua perusahaan seperti Grab dan Gojek merupakan pemain besar untuk bisnis industri ride hailing maupun di industri layanan pesan-antar makanan.

"Brand GoFood memang jauh lebih popular dibandingkan Grab. Dalam bisnis layanan antar-pesan makanan, Grab adalah pemain baru, karena sebelumnya dia hanya fokus di layanan transportasi online," tutur akademisi dan praktisi bisnis, Rhenald Kasali.

Namun Rhenald tidak menampik jika suntikan dana dari Softbank bisa membuat Grab menyaingi Gojek baik di bidang layanan transportasi daring maupun layanan pesan-antar makanan.

"Brand Go-Food masih dominan. Tapi GoFood harus lebih menggiatkan bisnisnya, guna mempertahankan posisi [pemimpin pasar]," tukasnya.

Sebelumnya, pihak Grab mengeluarkan hasil riset yang dirilis oleh ABI Research. Dalam hasil riset tersebut, pihak Grab mengklaim jika mereka adalah pemimpin untuk pasar ride hailing di Indonesia.

Tak berselang lama tepatnya sehari setelah itu, pihak Gojek juga melakukan press conference yang mengungkapkan hasil riset Nielsen Singapura tentang preferensi konsumen Indonesia terhadap empat layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi terbesar di Indonesia.

Dalam riset ABI Research menunjukkan, Grab memimpin pasar transportasi online di Indonesia dan Vietnam, dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 64% dan 74%. Gojek sebagai pesaing utama Grab hanya memiliki pangsa pasar sebesar 35,3% di Indonesia dan 10,3% di Vietnam.

Kemudian, sehari berselang, hasil riset yang bertolak belakang dirilis oleh Nielsen Singapura. Isi riset mengunggulkan posisi Gojek, terutama dalam bidang layanan pesan-antar makanan di Indonesia.

Riset yang menyoroti perihal preferensi masyarakat Indonesia terhadap empat layanan pesan-antar makanan berbasis aplikasi terbesar di Indonesia juga mengungkapkan bahwa 84% masyarakat yang menggunakan lebih dari satu aplikasi pesan-antar makanan mengakui jika GoFood menawarkan layanan pesan-antar makanan terbaik di Indonesia, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata industri (39%).

Selain itu, keramahan mitra driver Gojek juga dinilai lebih baik didukung oleh aplikasi yang lebih user-friendly sehingga meningkatkan kenyamanan bertransaksi dengan GoFood.

Namun, Grab kembali mengeluarkan hasil riset di bidang layanan antar-pesan makanan itu dengan meluncurkan rilis yang berbasis hasil riset Kantar yang mengklaim bahwa GrabFood memiliki pangsa pasar hampir 50% atau naik 15% dari tahun lalu, dan diprediksi akan segera menjadi platform layanan antar-pesan makanan terbesar di Indonesia pada akhir kuartal III/2019.

Bahkan di semester I/2019, pendapatan kotor GrabFood di Asia Tenggara berkembang pesar 900%, di mana di Indonesia sendiri terjadi kenaikan GMV GrabFood hingga tiga kali lipat. (Inilahcom)


Editor : Bsafaat