Sikap Kami: Pantengi BMKG
INILAH saat yang tepat bagi masyarakat Jawa Barat untuk memantengi informasi-informasi terkait kondisi cuaca. Informasi resmi dan kualifaid, tentu saja datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH saat yang tepat bagi masyarakat Jawa Barat untuk memantengi informasi-informasi terkait kondisi cuaca. Informasi resmi dan kualifaid, tentu saja datang dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Jadikan informasi itu seperti obat. Kalau perlu, pantengi setidaknya tiga kali sehari. Sebab, dari sanalah informasi terpercaya yang bisa didapatkan di tengah kondisi alam yang kian sulit diterka.
Saat ini, sejumlah bencana-bencana hidrometorologi sudah mulai terjadi di Jawa Barat. Masih kecil-kecil. Longsor di Parongpong, Bandung Barat. Angin puting beliung di Sekeloa, Kota Bandung. Pergerakan angin yang mulai kencang, terutama di kawasan selatan Jawa Barat.
Terlebih, seperti yang disampaikan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, informasi BMKG mulai menyebut siklon angin mulai beralih ke wilayah Jawa Barat. Ingat, siklon telah memporakporandakan tiga provinsi di Sumatra: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Wilayah Jabar sama rentannya terhadap bencana seperti wilayah di Sumatra itu. Tetapi, ancaman korban, bisa saja menjadi lebih masif. Sebab, titik-titik bencana di Jabar bisa saja di wilayah dengan padat penduduk.
Ragam bencana bisa terjadi di Jabar. Mulai dari tanah Longsor, puting beliung, bahkan gempa. Maklum, Jabar termasuk salah satu wilayah dengan sesar aktif yang terhitung banyak. Bulan lalu saja, 108 gempa terjadi di Tanah Pasundan. Bisa juga amukan ombak tinggi sebagai akibat dari pergerakan angin.
Tak kalah pentingnya, selain memantengi BMKG, adalah juga terus melakukan upaya Mitigasi. Hanya dengan cara inilah, kesempatan untuk menghindari korban akibat bencana alam bisa dilakukan.
Sayangnya, tak semua daerah memiliki pandangan serupa tentang Mitigasi. Ada yang serius, seperti di Kota Bandung. Ada pula daerah-daerah lain yang terhalang melakukannya karena berbagai soal, termasuk anggaran.
Mitigasi penting, terutama dilakukan di daerah-daerah dengan potensi bencana yang tinggi. Dengan Mitigasi, warga bisa memahami apa yang harus mereka lakukan jika bencana terjadi.
Selain itu, juga penting bagi pemerintah daerah; provinsi, kabupaten, kota, untuk memitigasi anggaran. Apakah mereka siap dengan dana-dana darurat jika situasi bencana terjadi dan membutuhkan anggaran cepat. Anggaran itu perlu karena tak ada yang tahu kapan bencana akan terjadi, sebesar apa dampaknya.
Dua hal terakhir, Mitigasi dan kesiapan anggaran, adalah tugas penting pemerintah. Tugas warga adalah memantengi informasi BMKG, kalau bisa seseringnya, seperti minum obat tiga kali sehari. (*)
Editor : Gin gin T Ginulur

