Sikap Manajemen Persib Usai Kakang Rudianto Jadi Korban Rasisme di Medsos
Manajemen Persib Bandung akhirnya mengeluarkan sikap usai pemainnya Kakang Rudianto jadi korban rasisme di media sosial.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN.ID - Manajemen Persib Bandung akhirnya mengeluarkan sikap usai pemainnya Kakang Rudianto jadi korban rasisme di media sosial.
Aksi rasisme itu muncul usai Persib Bandung menjalani pertandingan melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Super League 2025-2026 yang telah digelar di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Senin 2 Maret 2026.
Tak lama setelah pertandingan berakhir, beberapa kata bernada diskriminatif membanjiri kolom komentar di instagram pribadi Kakang Rudianto. Hingga gambar dan emoji sosok binatang bermunculan.
Tidak hanya Kakang Rudianto, pemain Persebaya Surabaya Mikael Alfredo Tata pun turut menjadi korban aksi rasisme di akun media sosial pribadinya.
Insiden itu diduga terjadi setelah Kakang Rudianto dan Mikael Alfredo Tata sempat terlibat perseteruan saat pertandingan berlangsung.
Insiden bermula ketika pelatih Persebaya Bernardo Tavares mencoba tidak memberikan bola saat Kakang akan melakukan lemparan ke dalam di menit-menit akhir pertandingan.
Tampak kesal, Kakang refleks mendorong tubuh Tavares. Mikael Alfredo Tata yang melihatnya, tak terima pelatihnya diperlakukan seperti itu hingga akhirnya kedua pemain terjadi adu mulut dan saling dorong.
Usai laga, Tata mencoba menghampiri Kakang untuk meminta maaf. Namun pemain bernomor punggung 5 itu terlihat masih kesal dan memilih untuk mengabaikannya.
Manajemen Persib melalui Deputy CEO PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Adhitia Putra Herawan menyatakan sepak bola selalu menjadi ruang yang mempertemukan banyak perbedaan.
Di dalamnya ada keberagaman latar belakang, budaya, bahasa, dan identitas yang justru membuat olahraga ini hidup dan dicintai oleh jutaan orang maka tidak ada ruang sedikit pun bagi praktik rasisme di dalam sepak bola.
“Kami menaruh perhatian serius terhadap serangan bernuansa rasis yang diarahkan kepada dua pemain muda Indonesia, Mikael Alfredo Tata dan Kakang Rudianto, melalui media sosial setelah pertandingan antara Persebaya dan Persib. Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk saling menghargai, bukan tempat untuk menyebarkan kebencian,” ujar Adhitia, Kamis, 5 Maret 2026.
Selain itu, lanjutnya, kritik terhadap permainan adalah bagian dari dinamika olahraga. Namun serangan yang menyentuh identitas ras atau latar belakang seseorang jelas melampaui batas yang dapat diterima.
“Kami ingin menegaskan bahwa Persib berdiri bersama Kakang Rudianto dan juga memberikan dukungan moral kepada Mikael Alfredo Tata. Kedua pemain tersebut adalah bagian dari generasi muda sepak bola Indonesia yang sedang berkembang dan mereka berhak mendapatkan lingkungan yang sehat, aman, serta penuh respek untuk terus bertumbuh,” katanya.
Pihaknya juga percaya bahwa mayoritas suporter, baik Bobotoh maupun Bonek, memiliki semangat yang sama yakni mencintai sepak bola dengan cara yang bermartabat.
“Karena itu kami mengajak semua pihak untuk tidak terpancing oleh tindakan segelintir oknum yang justru dapat merusak nilai persaudaraan antar pecinta sepak bola,” katanya.
Adhitia memastikan Persib berkomitmen untuk terus mendukung upaya-upaya yang menolak segala bentuk diskriminasi di sepak bola. Ia berharap momentum ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa sepak bola Indonesia hanya bisa tumbuh jika dibangun di atas rasa saling menghormati.
“Kepada Kakang dan Tata, kalian tidak sendirian. Sepak bola yang sehat adalah sepak bola yang melindungi para pemainnya, dan kami akan selalu berdiri di sisi itu,” pungkasnya.
Editor : Doni Ramdhani

