SPPG Kemayoran Tingkatkan Kualitas Layanan MBG

SPPG Kemayoran Tingkatkan Kualitas Layanan MBG
PROGRAM MBG: Kegiatan pelayanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Kemayoran 1, Jakarta Pusat, Kamis (8/10/2026).(ANTARA/HO-DOK PRIBADI)

INILAH, Jakarta - Sekitar 2.700 porsi makanan diproduksi setiap hari dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kemayoran 1, Jakarta Pusat.

Di balik jumlah itu, ada proses panjang untuk memastikan makanan tetap aman sebelum sampai ke tangan penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Lebih dari satu tahun beroperasi sejak Agustus 2025, SPPG Kemayoran 1 terus mengevaluasi fasilitas, sarana dan prasarana, hingga alur produksi. Perbaikan dilakukan agar setiap tahapan berjalan sesuai standar keamanan pangan.

Kepala SPPG Kemayoran 1 Jakarta Pusat Azriel Fariza Aulia mengatakan, evaluasi dilakukan secara berkelanjutan selama program berjalan.

“Selama lebih dari satu tahun pelaksanaan, kami terus melakukan evaluasi dan perbaikan,” kata Azriel, seperti dikutip dari ANTARA, Kamis (8/10).

Sejumlah pembenahan dilakukan, mulai dari renovasi struktur bangunan, perbaikan sistem pengolahan air limbah atau IPAL, peningkatan sanitasi, hingga penataan jalur keluar-masuk barang.

Alur kerja juga ditata dari awal. Bahan makanan yang datang diterima dan disimpan sebelum masuk tahap persiapan, pengolahan, pemorsian hingga distribusi. Setiap tahapan diatur agar tidak saling bersinggungan sehingga risiko kontaminasi silang dapat diminimalkan.

Pembenahan juga menyentuh sisi operasional. Pembagian tugas relawan, jadwal produksi, uji organoleptik, penyimpanan sampel makanan, hingga pencatatan kegiatan diperbaiki agar proses berjalan lebih tertib.

Hasilnya mulai terlihat. Sejak beroperasi pada Agustus 2025, SPPG Kemayoran 1 mampu mempertahankan produksi sekitar 2.700 porsi setiap hari. Area kerja juga menjadi lebih tertata, sementara pergerakan bahan dan personel memiliki alur yang lebih jelas.

Sanitasi dan pengelolaan limbah turut diperbaiki. Namun, menjaga kondisi fasilitas tetap menjadi tantangan karena berbagai peralatan digunakan secara intensif setiap hari.

Peralatan dapur, saluran air, sistem sanitasi, IPAL, ruang penyimpanan hingga instalasi listrik menjadi bagian yang diperiksa secara rutin. Pemeriksaan dilakukan sebelum dan setelah proses produksi.

Setiap kerusakan atau ketidaksesuaian dicatat untuk segera ditangani. Jika ditemukan kerusakan yang berpotensi mengganggu keamanan pangan, peralatan atau area tersebut tidak digunakan sampai dinyatakan aman dan layak.

“Apabila ditemukan kerusakan yang berisiko terhadap keamanan pangan, peralatan atau area tersebut tidak digunakan,” ujar Azriel. (gin)


Editor : Inilahkoran