Tampil Memukau di Debat Perdana, Dandan-Arif Sapu Bersih Pertanyaan dari Tiga Paslon

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung, Dandan Riza Wardana dan Arif Wijaya (Dandan-Arif) tampil memukau di Debat Perdana. Pasangan nomor urut 1 ini bahkan sukses menyapu bersih pertanyaan dari tiga paslon lainnya.

Tampil Memukau di Debat Perdana, Dandan-Arif Sapu Bersih Pertanyaan dari Tiga Paslon
Pasangan Calon Wali Kota Bandung dan Wakil Wali Kota Bandung, Dandan Riza Wardana dan Arif Wijaya saat memaparkan visi dan misi di Debat Perdana Pilwalkot Bandung 2024, Rabu 30 Oktober 2024.

INILAHKORAN, Bandung - Debat Perdana Pilwalkot Bandung 2024 berjalan cukup sengit, aksi saling lempar pertanyaan membuat atmosfer di area debat cukup panas.

Berbagai ide dan gagasan yang dikemas melalui visi misi dan program dijadikan tameng untuk mematahkan argumentasi masing-masing paslon Walikota dan Wakil Walikota Bandung.

Calon Walikota Bandung nomor urut 1 Dandan Riza Wardana misalnya, mampu menjawab sejumlah isu persoalan yang dilemparkan tiga paslon pesaingnya.

Pada sesi ketiga tanya jawab calon walikota nomor urut 4, Arfi Rafnialdi terkait persoalan sampah. "Terkait penanganan sampah. Tingkat partisipasi masyarakat dalam program daur ulang sampah masih rendah. Pertanyaannya, apakah anda punya program khusus untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPA dan meningkatkantingkat daur ulang di Kota Bandung?," tanya Arfi.

Dengan tenang, Dandan menjawab, bagi dirinya penanganan sampah perkotaan tidak bisa dilakukan seperti sekarang karena sudah banyak.

Menurutnya, harus ada sentuhan teknologi untuk menangani sampah seperti sekarang, kalau tidak kondisinya terus keteter seperti yang dilihat dan dirasakan.

"Solusi pengurangan sampah yang bisa kita lakukan dengan bekerjasama dengan kota kabupaten sekitar Kota Bandung," jelas Dandan.

"Karena kita tahu sampah yang ada di Kota Bandung bukan hanya tok dari kita, tetapi ada dari tetangga kita," sambungnya.

Dandan menilai, kenapa tidak semua pihak ikut menangani persoalan sampah yang seharusnya melibatkan kota kabupaten yang lain.

"Kita sama-sama, kita ajak bareng-bareng. Hayu urang ngabangun (mari kita membangun) Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) misalnya, terserah hasil koordinasinya seperti apa," terang Dandan.

"Kedua, lakukan edukasi kepada para pedagang pasar," ucapnya.

Tak cuma pertanyaan dari paslon nomor 4, Dandan pun kembali membeberkan jawaban rinci atas pertanyaan paslon nomor urut 3, Farhan dan Erwin terkait tata ruang.

Calon walikota nomor urut 3, Farhan memberikan pertanyaan, bagaimana Anda akan bisa mengelaborasi rancangan perlindungan dan pengolahan lingkungan hidup daerah, sehingga menjadi kebijakan terstruktur di RTRW sampai ke RDTK?," tanya Farhan.

Setelah mendapat giliran,  Dandan menjawab, "Kita menginginkan tata ruang berkeadilan, tata ruang yang berlingkungan hidup yang baik. Oleh karena itu tata ruang yang baik adalah tata ruang yang berkeadilan.

Lalu, sambung Dandan, bagaimanakah hal pertama yang harus dibuat, yakni harus berani melakukan audit tata ruang, dengan begitu semua pihak bisa melihat tata ruang yang ada dengan sebaik-baiknya dan paling efektif.

"Yang paling penting adalah berkeadilan. Tata ruang itu harus bisa melayani di daerah itu, baik itu di wilayah pendidikan, kesehatan, apakah di situ ada atau tidak," ujarnya.

Kemudian, bagaimana tentang pengelolaan lingkungannya seperti apa dan harus tahu juga bagaimana supaya berkeadilan itu ada pasar misalnya.

"Itu sangat penting karena tata ruang yang baik akan menunjukan siapa walikotanya. Itu yang paling utama, karena pertanyaannya dari utama. Saya bangga bisa menjawab pertanyaan utama karena kita ingin membuat Bandung lebih asik," paparnya.

Jawaban bijak kembali diberikan Dandan tatkala paslon nomor urut 2 melemparkan pertanyaan terkait penanganan dan mitigasi bencana.

Calon walikota nomor urut 2, Haru Suandharu menyampaikan pertanyaannya. Untuk paslon nomor 1, 3 dan 4. "Selain masalah sampah kita juga punya masalah yang lain, yaitu banjir. Nah, kira-kira bagaimana strategi dari paslon 1, 3 dan 4 untuk menangani masalah banjir di Kota Bandung?," tanya Haru.

Dandan pun menjawab, masalah banjir tidak pernah lepas dari apa yang disebut dengan tata ruang. Keseimbangan tata ruang dengan lingkungan hidup, kalau tidak ada keseimbangan maka akan timbulah bencana bencana, termasuk timbulah masalah banjir.

"Jadi kita harus tahu juga banjir itu asa dua tipe, ada banjir menggenang di jalan-jalan dan ada juga banjir yang cukup lama," kata Dandan.

Biasanya, lanjut Dandan, kalau banjir yang menggenang itu adalah banjir yang karena memang jumlah airnya banyak dan tidak disiapkannya selokan-selokan atau gorong-gorong dan sebagainya yang kurang bagus.

"Dan yang paling penting juga adalah keseimbangan. Kalau tidak ada keseimbangan akan sulit kita menangani banjir," ucapnya.

Calon wakil walikota nomor urut 1, Arif Wijaya menambahkan, solusi terkait masalah banjir pihaknya akan menempatkan Tim Gorong-gorong Kebersihan (Gober) di tingkat RW, karena saat ini Gober-gober hanya ada di tingkat kelurahan.

"Di tingkat kelurahan hanya memiliki 15 Gober dan itu tidak akan mengcover. Kita akan tempatkan Gober di tingkat RW hingga mereka fokus di satu RW membersihkan gorong-gorongnya, membersihkan saluran-salurannya dan membuat resapan-resapan air yang mungkin bisa menanggulangi banjir," beber Arif.

Tak ingin kalah, paslon nomor urut 1, Dandan Riza Wardana pun melemparkan pertanyaan dengan tema Reformasi Birokrasi.

"Kira-kira program apa yang akan dilakukan dalam hal mereformasi birokrasi mengenai pengawasan atau pencegahan tindakan korupsi di ASN?,"tanya Dandan.

Seolah tak puas dengan jawaban tiga paslon lain, Dandan pun menjawab, korupsi di ASN itu karena ada niat dan ada kesempatan, bagaimana mengatasi supaya niat tidak melakukan?. Secara pribadi dia harus memperkuat kekuatan agamanya dan berkomitmen.

"Yang kedua, untuk menangani kesempatan tadi, yakni dengan memperkuat SOP. Jadi kadang-kadang orang korupsi itu karena dia tidak tahu aturan-aturan yang terbaru," jawabnya.

Oleh karena itu Dandan berharap, lantaran pihaknya memiliki gagasan untuk melakukan advokasi lantaran bisa terjadi kriminalisasi yang dilakukan yang akan menjadikan ASN itu menjadi korban.

"Karena keteladanan pimpinanlah yang menyuruh secara sistem, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh karena itu, keteladanan penting begitupun advokasi harus dilakukan agar ASN ada perlindungan

"Sehingga tidak lagi terjadi kriminalisasi-kriminalisasi terhadap ASN. Kemudian, ada juga yang bagus terkait menaikan insentif kalau perlu insentif bagi ASN kembalikan lagi seperti semula," paparnya.***


Editor : Ghiok Riswoto