Tanggapi Viralnya Dugaan Keterlambatan Penanganan Pasien hingga Meninggal Dunia, Ngatiyana Bakal Evaluasi Manajemen RSUD Cibabat 

Viralnya video jeritan seorang suami yang menyebut adanya dugaan keterlambatan penanganan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat hingga pasien meninggal dunia menuai perhatian Wali Kota Cimahi, Ngatiyana.

Tanggapi Viralnya Dugaan Keterlambatan Penanganan Pasien hingga Meninggal Dunia, Ngatiyana Bakal Evaluasi Manajemen RSUD Cibabat 
Wali Kota Cimahi, Ngatiyana./Agus Satia Negara

INILAHKORAN, Cimahi - Viralnya video jeritan seorang suami yang menyebut adanya dugaan keterlambatan penanganan pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat hingga pasien meninggal dunia menuai perhatian Wali Kota Cimahi, Ngatiyana.

Diketahui, pasien tersebut bernama Ulfa Yulia Lestari, seorang warga Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB). 

Rencananya, orang nomor satu di Kota Cimahi itu bakal melakukan evaluasi manajemen pelayanan di rumah sakit plat merah tersebut pada pekan depan.

"Kita akan lakukan evaluasi manajemen pelayanan rumah sakit. Saya sudah ketemu dengan Direktur Rumah Sakit, minggu depan akan saya adakan evaluasi," katq Ngatiyana, Selasa 1 Juni 2025.

Tak cuma itu, Ngatiyana menyebut, pihaknya juga telah mengingtruksikan Dinas Kesehatan, RSUD Cibabat dan Inspektorat untuk melakukan pendalaman terhadap kejadian yang viral itu.

"Saya telah menginstruksikan Dinas Kesehatan, rumah sakit dan Inspektorat untuk melakukan klarifikasi dan pendalaman terhadap prosedur layanan medis yang telah diberikan," sebutnya.

"Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa semua penanganan dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku," sambungnya.

Menurutnya, jika dalam proses pendalaman ditemukan adanya pelanggaran maka pihaknya akan memberikan tindakan tegas. 

"Bila ditemukan penanganan yang dilakukan tidak sesuai atau melanggar prosedur maka akan kami proses dan tindak sesuai dengan ketentuan yang berlaku," tegasnya.

Kendati demikian, ungkap Ngatiyana, berdasarkan hasil laporan awal, penanganan yang dilakukan tenaga kesehatan di rumah sakit plat merah itu sesuai mekanisme. 

Pihaknya pun berkomitmen menjaga transparansi dan mutu layanan kesehatan. 

"Kami menghormati hak keluarga untuk mendapatkan penjelasan yang lengkap, dan kami siap memfasilitasi komunikasi yang konstruktif antara pihak keluarga dan manajemen rumah sakit," ungkapnya.

"Komitmen kami tetap sama yaitu pelayanan kesehatan yang optimal dapat diperoleh dan dirasakan oleh seluruh masyarakat tanpa membedakan status," tegasnya.

Ngatiyana juga meminta pihak RSUD Cibabat untuk mengoptimalkan peran Dewan Pengawas. Sebab, mereka yang bakal melaksanakan kegiatan dan mengevaluasi rumah sakit.

"Dewan Pengawas inilah yang kita aktifkan lagi agar melaksanakan kegiatan-kegiatan, termasuk evaluasi terhadap kinerja rumah sakit, termasuk manajemennya," tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, jagat maya tengah dihebohkan dengan sebuah video yang memperlihatkan seorang suami yang bercerita tentang istrinya meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cibabat, Kota Cimahi.

Video viral dengan durasi 1 menit 30 detik itu memperlihatkan seorang pasien yang berbaring di atas ranjang tengah ditangani sejumlah tenaga medis.

Dalam video itu, terdengar suara isak tangis diduga suami pasien yang menyebutkan petugas medis di RSUD Cibabat diduga terlambat melakukan penanganan. 

"Aing tikamari ngomong sus tolong (Saya dari kemarin bicara suster) sedot itu perutnya udah penuh. Ayeuna tingali pamajikan aing kumaha ieu (Sekadang lihat istri saya gimana ini)," kata pria yang diduga suami pasien dalam video itu.

"Abong keneh pamajikan aing make BPJS hare-hare, beda jeng umum (Mentang-mentang istri saya pakai BPJS, dibiadkan beda sama umum). Teu narima lamun pamajikan aing teu benang ditulungan (Gak terima kalau istri saya enggak bisa ditolong)," lanjutnya.***


Editor : JakaPermana