Tangkal Hoaks, Holding Jasa Survei Gelar Webinar Kesehatan Pandemi Covid-19

BUMN Holding Jasa Survei melaksanakan webinar kesehatan dengan tema "Tetap Sehat dan Selamat, Hadapi Gelombang Kedua Covid-19”. Sosialisasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19 pada gelombang kedua di Indonesia. 

Tangkal Hoaks, Holding Jasa Survei Gelar Webinar Kesehatan Pandemi Covid-19
istimewa

INILAH, Bandung - BUMN Holding Jasa Survei melaksanakan webinar kesehatan dengan tema "Tetap Sehat dan Selamat, Hadapi Gelombang Kedua Covid-19”. Sosialisasi ini merupakan salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19 pada gelombang kedua di Indonesia. 

Kegiatan yang yang dilaksanakan secara online ini dihadiri Direktur Utama PT Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) Rudiyanto, Direktur Utama PT Sucofindo  Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Direktur Utama PT Surveyor Indonesia (SI) M Haris Witjaksono, jajaran komisaris, jajaran direksi ketiga BUMN dan para undangan serta keluarga. 

Sebanyak kurang lebih 1.500 peserta antusias mengikuti kegiatan sharing dari dr Donny M Shalahuddin dan dr Kartika Ningrum Muchtar yang dipandu Ketua Health Safety Environment (HSE) Response Team dan Vice President Sucofindo Susetiorini Adiningsih selaku moderator.  

“Dampak dari penyebaran virus corona ini membuat Kementerian BUMN menginstruksikan kepada seluruh BUMN untuk melakukan suatu langkah tindakan pencegahan demi menekan dampak yang ditimbulkan. Webinar ini akan membantu pegawai, tamu undangan, dan keluarganya untuk mendapatkan update terkini mengenai penyebaran virus corona dan cara pencegahannya dari sumber yang terpercaya,” pesan Rudiyanto.

Walaupun pandemi ini telah berlangsung lebih dari setahun, masih banyak masyarakat Indonesia yang mempercayai dan menyebarkan pesan berantai yang mengandung informasi salah atau hoaks.

“Penyebarannya virus corona ini cukup cepat dengan telah memakan banyak korban. Tidak bisa dihindari bahwa penyebarannya dibarengi hoaks yang tersebar di kanal komunikasi yang sangat dekat dengan kita. Jangan sampai penyebaran hoaks ini lebih cepat daripada berita yang seharusnya kita percaya kebenarannya. Informasi yang salah dapat menggiring kita kepada tindakan yang tidak benar. Lindungi diri kita dan keluarga  dengan tidak mempercayai hoaks,” imbau Mas Wigrantoro.

Selain melaksanakan webinar, sebagai upaya pencegahan virus corona itu ketiga BUMN tersebut juga melakukan vaksinasi kepada pegawai dan orang tua yang merupakan kelompok prioritas di Sentra vaksinasi yang tersebar di kota-kota Indonesia.  

“Penyebaran virus corona di gelombang kedua ini terasa berbeda dari gelombang pertama. Lebih banyak korban dan rasanya sangat cepat. Hari ini kita mencoba mengingatkan kembali kepada seluruh insan HJS dan keluarga untuk tetap menerapkan protokol kesehatan walaupun telah melaksanakan vaksinasi. Vaksinasi tanpa penerapan protokol kesehatan atau sebaliknya bisa berakibat fatal. Jangan lupa pakai masker, jaga jarak, cuci tangan, jaga kesehatan dan vaksinasi,” ujar M Haris Witjaksono mengingatkan.

Sementara itu, dr Donny menyebutkan penyebaran virus corona di Indonesia kini memasuki gelombang kedua dengan angka kematian yang meningkat signifikan setiap hari. Hal ini disebabkan beberapa faktor.

“Mutasi virus merupakan respon dari virus corona untuk bertahan hidup, seperti yang dilakukan makhluk hidup lainnya dengan menyesuaikan. Namun, bukan mutasi virus yang menjadi penyebab utama cepatnya penyebaran Virus corona. Mutasi ini menyebabkan virus corona lebih mudah menempel pada reseptor sel di saluran pernapasan dan pada organ tubuh yang menyebabkan lebih mudah terjadi peradangan, terutama saluran pernafasan. Faktor utama penyebaran mutasi-mutasi virus corona ini adalah pergerakan manusia tanpa memperhatikan protokol kesehatan. Jadi kombinasi pergerakan manusia dengan varian baru menyebabkan angka kematian yang sangat signifikan” Jelas dr. Donny.

Saat ini, WHO telah mendeteksi setidaknya 10 varian virus corona yang telah bermutasi. Varian mutasi virus corona kemudian disusun berdasarkan nomenklatur Yunani disesuaikan dengan urutan kejadiannya, guna menghindari stigmatisasi terhadap suatu negara atau letak geografis dalam penyebutannya. Mulai varian alpha, beta, gamma, delta, epsilon, zeta, eta, theta, iota, hingga varian kappa. 

“Seluruh dari varian ini pada umumnya menyebabkan gejala yang hampir sama, sehingga untuk pencegahannya saat ini tetap dilakukandengan langkah yang sama yaitu, testing, tracing, treatment, memakai masker, menjaga jarak, menjaga kebersihan, menjaga imunitas, mengobati komorbid, mengikuti vaksinasi serta memperhatikan durasi dan ventilasi di dalam ruangan saat pertemuan. Hal yang perlu diperhatikan lainnya adalah mematuhi aturan isolasi mandiri dengan memperhatikan gejala yang terjadi pada tubuh, jelasnya. (*)


Editor : Doni Ramdhani