Tantangan Menanti Wali Kota Bandung Terpilih, Pengamat: Dari Sampah hingga Infrastruktur
Guru Besar Perencanaan dan Perancangan Kota SAPPK ITB, Ridwan Sutriadi menyebut, ada sejumlah tantangan bagi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung terpilih nanti.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Bandung - Guru Besar Perencanaan dan Perancangan Kota SAPPK ITB, Ridwan Sutriadi menyebut, ada sejumlah tantangan bagi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung terpilih nanti.
Persoalan kemacetan, drainase, sampah, ketimpangan sosial, pencemaran udara hingga minimnya ruang terbuka hijau, dituturkan ia sudah menunggu untuk diselesaikan pasangan terpilih.
"Permasalahan Kota Bandung masih infrastruktur dasar, berupa layanan masyarakat yang makin lama makin tumbuh padat. Infrastruktur dasar, berhubungan dengan air bersih, persampahan dan kemacetan," kata Ridwan Sutriadi, Senin 9 September 2024.
Kemacetan di Kota Bandung, dikemukakan ia sudah menjadi persoalan menahun yang tidak kunjung terselesaikan. Meningkatnya kendaraan pribadi, ruas jalan yang tidak berubah menjadi penyebab.
Persoalan lainnya, disebut Ridwan adalah bencana banjir. Banjir disebabkan lantaran kurang maksimalnya keberadaan drainase hingga berkurangnya daerah resapan air akibat pembangunan-pembangunan.
"Akibat kondisi geografis dan semakin padatnya hunian penduduk di Bandung Utara. Ini harus segera ditangani, karena itu kawasan lindung. Ketika banyak bangunan resapan airs kurang dan menjadi kiriman air," ucapnya.
Tak hanya itu, Kota Bandung memproduksi sekitar 1.500 hingga 1.600 ton sampah per hari dan semakin sedikitnya ruang terbuka hijau seiring dengan pesatnya pembangunan yang berdampak kepada kualitas udara.
"Bandung belum bisa mencapai 30 persen RTH. Namun bisa saja ada inovasi. Jadi masyarakat turut terlibat seperti mengoptimalkan ruang terbuka menjadi produktif seperti urban farming," ujar dia.
Ridwan menambahkan, Kota Bandung harus mampu terus berinovasi menyelesaikan sederet persoalan ini. Sebab, Kota Bandung memiliki potensi menjadi kota berkelanjutan, inklusif dan tangguh di 2045. ***
Editor : Bsafaat
