Terapkan Konsep Walking Tour, SMPN 8 Cimahi Kenalkan Potensi Wisata Lokal

Kebijakan larangan study tour yang diberlakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat membuat sejumlah sekolah di Kota Cimahi melakukan pendekatan berbeda untuk mengenalkan dunia luar kepada para siswanya.

Terapkan Konsep Walking Tour, SMPN 8 Cimahi Kenalkan Potensi Wisata Lokal
Kebijakan larangan study tour yang diberlakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat membuat sejumlah sekolah di Kota Cimahi melakukan pendekatan berbeda untuk mengenalkan dunia luar kepada para siswanya.

INILAHKORAN, Cimahi - Kebijakan larangan study tour yang diberlakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat membuat sejumlah sekolah di Kota Cimahi melakukan pendekatan berbeda untuk mengenalkan dunia luar kepada para siswanya.

Diketahui, larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Jabar Nomor 45/PK.03.03/KESRA tentang 9 Langkah Pembangunan Pendidikan Jawa Barat Menuju Terwujudnya Gapura Panca Waluya, tertanggal 6 Mei 2025.

SMPN 8 Kota Cimahi salah satunya, melalui pengembangan konsep walking tour, sekolah yang berlokasi Jalan Kihapit Barat No.320, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan menjadikan cara tersebut sebagai sarana edukasi berbasis lokal.

"Ketika study tour dilarang, tentunya kita juga harus mengikuti kebijakan dari pemerintah, terutama dari komunitas kota yang turunannya ke Dinas Pendidikan," kata Humas SMPN 8 Kota Cimahi, Ayi Hidayat, Jumat 1 Agustus 2025.

Ayi menjelaskan, konsep walking tour bukan sekadar alternatif namun sebagai bentuk eksplorasi potensi lokal yang selama ini mungkin terabaikan. 

Menurutnya, dengan banyaknya titik bersejarah di sekitar SMPN 8, pihaknya mulai mengajak siswa menjelajahi lingkungan seperti Kampung Adat Cireundeu yang letaknya tidak jauh dari lokasi sekolah.

"Kita lebih banyak mengarahkan siswa ke sana. Guru-guru mengajak mereka mengenal Kampung Adat Cireundeu. Selain itu, kami juga pernah ke Kerkof, LP Militer di Poncol, RS Dustira, dan beberapa tempat lainnya," sebutnya.

Lebih lanjut Ayi memaparkan, kegiatan walking tour ini tak hanya sebagai pengganti jalan-jalan konvensional, namun juga bagian dari pembelajaran yang kontekstual. 

Salah satunya dikaitkan dengan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5), khususnya pada tema kearifan lokal.

"Materinya tentang budaya, jadi kami meminta sumber data langsung dari Kampung Adat Cireundeu. Ada integrasi pembelajaran di situ," paparnya.

Tak cuma itu, lanjut Ayi, dari sisi biaya kegiatan walking tour ini jauh lebih terjangkau dibandingkan studi tour luar kota. Bahkan untuk lokasi seperti Kampung Adat Cireundeu, siswa bisa cukup berjalan kaki dari sekolah.

"Kalau ke Cireundeu mah tinggal ngabring saja ke sana. Nggak ada ongkos. Walaupun ke Kerkop atau Bukit Merah juga, kalaupun ada biaya, nggak terlalu mahal," ucapnya.

Meski begitu, Ayi pun tak memungkiri para siswa juga kerap mengeluhkan rasa lelah dalam kegiatan walking tour ini mengingat mereka harus berjalan kaki.

Namun, hal itu menjadi tantangan tersendiri dalam mengubah cara pandang siswa tentang belajar di luar kelas.

"Anak-anak kan, ya wajar kalau bilang capek. Tapi selain menggali kearifan lokal, kan ada nilai kesehatannya juga dari jalan kaki itu," imbuhnya.

Ayi menyebut, dukungan dari orang tua siswa pun dinilai cukup besar. Apalagi saat kegiatan ini dikaitkan dengan pembelajaran kurikulum.

"Kalau orang tua sih, selama itu bagian dari kebijakan sekolah dan kurikulum, pasti mendukung. Sampai saat ini nggak ada yang kontra," tandasnya.***


Editor : JakaPermana