Terapkan Sistem Pembelajaran Berbeda, SRMP 8 Kota Cimahi Gunakan Tiga Kurikulum 

Hadir sebagai salah satu solusi pendidikan inklusif yang menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, Sekolah Rakyat Menegah Pertama (SRMP) 8 Kota Cimahi diklaim menawarkan sistem pembelajaran berbeda dari sekolah pada umumnya. 

Terapkan Sistem Pembelajaran Berbeda, SRMP 8 Kota Cimahi Gunakan Tiga Kurikulum 
Hadir sebagai salah satu solusi pendidikan inklusif yang menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, Sekolah Rakyat Menegah Pertama (SRMP) 8 Kota Cimahi diklaim menawarkan sistem pembelajaran berbeda dari sekolah pada umumnya. 

INILAHKORAN, CImahi - Hadir sebagai salah satu solusi pendidikan inklusif yang menyasar anak-anak dari keluarga tidak mampu, Sekolah Rakyat Menegah Pertama (SRMP) 8 Kota Cimahi diklaim menawarkan sistem pembelajaran berbeda dari sekolah pada umumnya. 

Pasalnya, SRMP 8 menerapkan tiga kurikulum yang dirancang khusus untuk membentuk karakter dan membekali siswa dari keluarga miskin, serta miskin ekstrem agar siap bersaing dalam pendidikan formal.

"Untuk sistem pembelajarannya di SRMP 8 Kota Cimahi memang cukup berbeda dengan sekolah pada umumnya karena kami menerapkan tiga kurikulum utama, yakni kurikulum nasional, kurikulum keasramaan, dan kurikulum persiapan," kata Kepala SRMP 8 Cimahi, M. Ikhsan Ramadhan kepada wartawan.

Ikhsan menjelaskan, kurikulum pertama yang pihaknya terapkan di SRMP 8 ini yakni kurikulum nasional layaknya seperti di sekolah formal lainnya.

"Yang kedua, kurikulum keasramaan, yang menjadi pembeda paling signifikan dengan sekolah biasa. Sebab, kurikulum ini menitikberatkan pada pembentukan karakter dan kedisiplinan siswa," jelasnya.

Dalam penerapannya, ungkap Ikhsan, setiap hari kegiatan siswa bakal dimulai pukul 04.00 WIB. Seperti mendirikan salat subuh berjamaah, mengaji, olahraga dan sarapan bersama.

"Setelah itu, siswa mengikuti kegiatan belajar mengajar hingga pukul 15.00 WIB," ungkapnya.

Seusai sekolah, lanjut Ikhsan, kegiatan bakal kembali dilanjutkan di asrama mulai salat ashar berjamaah, zikir hingga menjaga kebersihan diri dan lingkungan.

"Pada malam hari, kegiatan diisi dengan aktivitas keagamaan," ucapnya.

Kurikulum terakhir, kata Ikhsan, yakni kurikulum persiapan yang diterapkan selama dua bulan pertama. Pada fase ini, siswa tidak langsung mempelajari pelajaran inti, namun diberikan pengenalan materi dasar seperti matematika, sains, dan bahasa.

"Untuk kurikulum persiapan ini berbeda dengan sekolah lain. Bukan berupa mata pelajaran biasa, melainkan kegiatan yang dirancang khusus untuk mempersiapkan anak masuk ke kurikulum inti," bebernya.

Ikhsan menilai, proses tersebut sangat penting mengingat siswa yang masuk tidak melalui seleksi akademik. Namun, siapapun yang memiliki semangat dapat diterima untuk belajar.

"Jadi, perlu ada proses matrikulasi untuk menyetarakan pemahaman awal siswa, agar ketika masuk pelajaran inti mereka bisa mengikuti dengan baik," ujarnya.

Dikatakan Ikhsan, matrikulasi tersebut berlangsung selama dua bulan dengan fokus pada kemampuan dasar membaca dan berhitung. 

"Jadi, yang membedakan sistem di sini dengan sekolah biasa adalah adanya proses persiapan yang cukup intensif sebelum pembelajaran dimulai," tegasnya.

Saat ini, sebut Ikhsan, jumlah siswa di SRMP 8 Cimahi mencapai 99 orang, terdiri dari 50 laki-laki dan 49 perempuan. Mereka terbagi dalam empat kelas, masing-masing berisi 24-25 siswa, dan jenjangnya setara dengan SMP.

Sementara untuk proses perekrutan siswa dilakukan langsung oleh Kementerian Sosial RI, dengan menyasar anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem berdasarkan desil 1 dan 2. 

"Seleksi dilakukan melalui survei dan kerja sama lintas sektor, termasuk pendamping Program Keluarga Harapan (PKH)," ujarnya.

"Memang, beberapa hari pertama ada siswa yang ingin pulang, bahkan ada yang sakit. Namun alhamdulillah, setelah berjalan sekitar 19 hari, mereka mulai merasa betah dan beradaptasi dengan baik," tandasnya. *** 


Editor : JakaPermana