Tiny Dumpling, Pisahkan Makanan Halal dan Non-halal
Resto Tiny Dumpling memahami benar perilaku pasar kuliner lokal. Untuk itu, Operational & Marketing Virna mengatakan dalam setiap penyajian menu itu pihaknya sangat memperhatikan kehalalannya.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAH, Bandung - Resto Tiny Dumpling memahami benar perilaku pasar kuliner lokal. Untuk itu, Operational & Marketing Virna mengatakan dalam setiap penyajian menu itu pihaknya sangat memperhatikan kehalalannya.
Menurutnya, dari menu yang disajikan itu berkisar 50:50 antara makanan halal dan non-halal. Maklum, si pemiliki resto ini memiliki konsep menu Cina peranakan namun tetap mengedepankan lidah lokal.
"Untuk menu, kita pisahkan benar mana yang halal dan tidak. Peralatan yang dipakai pun dipisahkan untuk menjaga kehalalalan setiap menu," kata Virna saat ditemui di Jalan Terusan Sutami Kav 2, Sarijadi, Bandung, beberapa waktu lalu.
Dia menyebutkan, secara bisnis pembukaan Chinessee resto ini relatif menjanjikan. Pasalnya, tak hanya orang keturunan saja namun setiap menu kini digemari warga lokal. Meski demikian, pihaknya tetap menjaga cita rasa asli dengan mendatangkan chef khusus dari Cina peranakan. Chef khusus itu memberikan pelatihan bagi para tukang masak.
"Bahan baku makanan, seperti sayuran dan daging juga kita mengandalkan pasokan lokal. Hanya rempah-rempah khusus yang didatangkan dari negeri asal," ucapnya.
Virna meyakini, Tiny Dumpling bisa menjadi alternatif pilihan bagi penikmat menu masakan Asia Timur. Biasanya, selama ini mereka kerap mengunjungi rumah makan yang hanya terletak di Jalan Cibadak dan Jalan Sudirman Kota Bandung.
Terkait segmentasi pasar, dia mengaku tak membatasi hanya untuk warga Cina peranakan. Namun, bule-bule, warga India, dan lokal pun kini banyak yang mengunjungi resto yang bernuansa rumahan itu.
Dia menyebutkan, menu dumpling yang diunggulkan itu salah satu jenis dimsum yang dibuat dari adonan tepung terigu yang digiling tipis dengan aneka isian dan bentuk. Biasanya, dumpling diolah dengan cara dikukus, direbus, dipanggang, maupun digoreng.
Resto yang dimiliki orang Hongkong ini terbilang anyar. Dibuka sejak Oktober 2018, resto ini masih mencari pelanggan setia. Mengedepankan menu Cina peranakan, resto dengan konsep kafe ini diakuinya cocok untuk dijadikan tempat nongkrong dan bekerja.
Editor : Doni Ramdhani

