Tren Pembelian Hewan Kurban 2025 Turun, Kambing Jadi Primadona Tahun Ini

Tren pembelian hewan kurban tahun ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. CEO Qurban Asyik, Ahmad Fauzan Nasrullah, menyebut daya beli masyarakat menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut.

Tren Pembelian Hewan Kurban 2025 Turun, Kambing Jadi Primadona Tahun Ini
Tren Pembelian Hewan Kurban 2025 Turun, Kambing Jadi Primadona Tahun Ini

INILAHKORAN, Bandung – Tren Pembelian Hewan Kurban tahun ini mengalami penurunan yang cukup signifikan. CEO Qurban Asyik, Ahmad Fauzan Nasrullah, menyebut daya beli masyarakat menjadi faktor utama di balik penurunan tersebut.

"Yang biasanya kurban sapi, sekarang banyak yang beralih ke domba," ungkap Fauzan seperti dikutip dari RRI.co.id. Menurutnya, meski sapi bali dan sebagian sapi limosin masih menjadi primadona, minat terhadap hewan kurban berukuran besar seperti sapi mulai menurun.

Harga sapi yang paling diminati berada di kisaran Rp20 juta hingga Rp30 juta. Namun, karena keterbatasan daya beli, masyarakat kini lebih banyak beralih ke Kambing sebagai alternatif yang lebih terjangkau.

Fauzan menjelaskan, kambing jenis jawa dan etawa menjadi pilihan favorit karena harganya yang ramah di kantong, berkisar antara Rp2 juta hingga Rp4 juta.

"Kambing jawa dan etawa jadi pilihan karena harganya kisaran 2-4 juta saja," ujarnya.

Meski penjualan kambing meningkat, total pembelian hewan kurban secara keseluruhan tetap mengalami penurunan. Fauzan memperkirakan penurunan mencapai 25 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Untuk mengatasi penurunan tersebut, Qurban Asyik mengoptimalkan strategi pemasaran digital.

“Kita optimalkan pemasaran digital dan iklan berbayar untuk menjangkau pelanggan baru,” jelasnya. Lewat aplikasi digital, konsumen bisa memilih hewan kurban tanpa harus datang langsung ke kandang.

Selain fokus pada penjualan daring, Qurban Asyik juga tetap mempertahankan penjualan secara langsung di lapak fisik. Strategi paralel ini diterapkan untuk menjangkau berbagai segmen konsumen yang memiliki preferensi berbeda.

Fauzan juga mengakui bahwa pasokan hewan kurban tahun ini tergolong terbatas. Keterbatasan tersebut disebabkan oleh kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang kembali merebak di Jawa Timur, sehingga memaksa para peternak untuk mencari pasokan dari luar daerah.

“Banyak peternak ambil stok dari luar daerah seperti Lampung dan Binjai,” ujar Fauzan. Perpindahan pasokan ini turut mempengaruhi biaya logistik dan berdampak pada kenaikan harga pokok hewan kurban.***


Editor : Yosep Saepul Ramadan