UTama Gelar Konferensi Internasional secara Daring

Universitas Widyatama (UTama) menggelar konferensi internasional secara daring.

UTama Gelar Konferensi Internasional secara Daring
Ilustrasi (okky adiana)

INILAH, Bandung - Universitas Widyatama (UTama) menggelar konferensi internasional secara daring, oleh Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) wilayah IV, Jabar dan Banten, Sabtu (17/10/2020).

Pada kegiatan itu sedikitnya ada sekitar 122 makalah dari peserta International Conference on Businees Policy and Sciences (ICBPS). Papernya merupakan hasil penelitian bisnis, manajemen, akuntansi, teknik dan lainnya. Tulisan itu merupakan kolaborasi antara dosen UTama, perguruan tinggi yang ada di tanah air serta dosen dari mancanegara, dipublikasikan pada jurnal internasional yang terindeks Scopus.

Kepala LLDIKTI wilayah IV, Jabar dan Banten, Uman Suherman memaparkan bahwa para akademisi dan dosen adalah ilmuwan yang sangat berkaitan erat dengan kemajuan dunia industri di tanah air, terlebih di era digital. Termasuk bagaimana kampus bisa menjalin kedekatan dengan dunia industri itu sendiri.

"Menurut saya segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia industri, seperti cara berpikir serta pola pikir, dihasilkan oleh para akademisi, melalui penelitian-penelitian yang ada," ujar Uman.

Dia mengatakan dengan kajian-kajian itu memungkinkan untuk membuat sebuah regulasi bagi ekonom-ekonom yang ada di tanah air. Makanya dunia bisnis tidak akan bisa berjalan tanpa ilmu. Sebaliknya tidak bisa mengkaji ilmu tanpa ada praktik. Oleh sebab itu mendekatkan dunia akademik dengan industri menjadi sebuah keharusan.

“Regulasi pertama para dosen melakukan tri darma perguruan tinggi. Yang kedua kebijakan kampus dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh dosen harus bisa dimanifestasikan dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat,” kata Uman.

Ia menambahkan bagaimana pun tingkat relevansi yang ada di kampus bisa mengantisipasi permasalahan yang terjadi di masyarakat. Hal Itu bisa dilakukan manakala dosen melakukan penelaahan yang lebih dalam.

“Seperti sekarang serba digital. Tadi saya paparkan bahwa dulu pedagang itu hanya nagog (nunggu pembeli), terus door to door, kemudian delivery order. Maka sekarang toko bisa saja tutup tapi bisnis berjalan dengan dunia digital melalui bisnis online. Pertanyaan yang muncul siapa yang mengembangkannya? Bukan orang bisnis melainkan para akademisi yang dimanfaatkan pada dunia industri,” ungkapnya.

Kata Uman, tinggal bagaimana nanti harus ada kebijakan dari kampus pada saat penelitian yang mengacu kepada kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Tidak terkecuali kebijakan-kebijakan yang ada di pemerintahan, khususnya yang menyangkut ekonomi dan bagaimana penelitian itu dilakukan.

Rektor Universitas Widyatama Obsatar Sinaga menambahkan, di mancanegara perkembangan dunia industri sudah melewati era 4.0 dan menerapkan society 5.0. Oleh sebab itu, UTama terus melakukan upaya kolaborasi, antara dunia industri dengan sains, termasuk menggelar konferensi internasional tahunan ICBPS secara rutin. Hal itu merupakan upaya untuk mengolaborasikan dunia industri dengan para saintis.

"Pada ajang itu dibahas mengenai perkembangan industri saat ini dengan menghadirkan para praktisi, sekaligus membuat penelitian-penelitian yang arahnya kepada kolaborasi. Ada permintaan kegiatan ini dilakukan enam bulan sekali. Makanya saya minta kepada panitia bisa enggak dilakukan enam bulan sekali,” kata Obi panggilan akrabnya.

Mengingat kegiatan tersebut sangat membantu bagi dosen, terlebih untuk kenaikan pangkat mereka dengan persyaratan jurnal internasional terindeks Scopus.

Di samping itu, kata Obi, konferensi tersebut membantu mahasiswa program doktoral dan magister yang sedang menempuh ujian akhir dan harus dipublikasikan di jurnal internasional. “Dalam konferensi ini tempat mereka untuk mempresentasikan (paper). Dalam konferensi 100 persen diterbitkan di jurnal internasional dan terindeks Scopus,” imbuh Obi.

Pihaknya pun membuka pintu selebar-lebarnya bagi perguruan tinggi  yang ingin melakukan kerja sama dan kolaborasi, sekaligus membantu dalam hal publikasinya.

Sebagai catatan, perguruan tinggi yang turut serta adalah Oxford University (Inggris), Harvard University (Amerika Serikat), IUMW, UiTM dan UPN (Malaysia), University De La Salle Lipa (Philipina), Korea University (Korea Selatan), University of Tokyo (Jepang), ITB, UPI, Mercu Buana, Sangga Buana, Trunojoyo Madura, Unpad, Unpas, UGM, Telkom, dan Brawijaya Malang (Indonesia). (okky adiana)


Editor : suroprapanca