Walhi Jabar Ungkap Ancaman Lain Tidak Maksimalnya Pengelolaan IPAL di TPA Sarimukti KBB
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Jawa Barat menilai keberadaan TPA Sarimukti yang berlokasi di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) banyak menimbulkan dampak negatif.
Berita Terkini, Eksklusif di Channel WhatsApp Inilahkoran.id
INILAHKORAN, Ngamprah - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia atau Walhi Jawa Barat menilai keberadaan TPA Sarimukti yang berlokasi di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) banyak menimbulkan dampak negatif.
Terlebih, jika tata kelolanya tidak dijalankan secara optimal, sehingga Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat harus serius dalam menangani setiap masalah yang ditimbulkan. Salah satunya seperti pengelolaan Instalasi Pengolahan air limbah atau Ipal yang tidak maksimal.
"Air lindi harus diolah dengan IPAL yang representatif. Dikelola dengan baik agar air lindinya tidak mencemari badan sungai ataupun lingkungan penduduk yang pada akhirnya mencemari kehidupan air terutama sungai Citarum yang jelas di hulunya sudah tercemar ditambah dengan suplai air lindi dari TPA Sarimukti," kata Manajer Divisi Pendidikan WALHI Jabar M. Jefry Rohman belum lama ini.
Padahal, kata Jefry, ada banyak kehidupan yang menggantungkan nasib di anak sungai tersebut. Salah satunya petani yang menggarap ladang di sekitar TPA Sarimukti.
Oleh karena itu, pihaknya mendorong Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jabar untuk terus memperbaiki IPAL yang ada.
"Kalau misalnya IPAL ini berfungsi dengan baik dan efektif minimal bisa mengurangi rembesan air lindi ke sungai. Sehingga ketika masuk ke badan sungai utama termasuk ke Citarum ini timbunan logam berat dan lainnya bisa diminimalisir," katanya.
"IPAL atau mengolah air limbah di TPA ini ya bisa dibilang belum efektif karena seharusnya air yang dihasilkan tidak berbau dan berwarna keruh," sambungnya.
Tak cuma itu, pihaknya juga khawatir dengan pembukaan zona baru di TPA Sarimukti bakal menambah beban kerja IPAL yang ada. Akibatnya, pencemaran air lindi ke aliran sungai semakin tinggi.
"Jika itu terjadi maka bukan hanya sungai-sungai kecil yang menimbulkan bahaya, tapi juga ke Citarum dan Waduk Cirata," ujarnya.
Berdasarkan survei hingga uji lab pada tahun 2023 hingga awal 2024, tim masyarakat peduli TPK Sarimukti menemukan air lindi sudah mencemari sungai Citarum berujung ke Waduk Cirata.
Bahkan sejak tahun 2019 sudah lebih dari satu juta kubik limbah B3 masuk ke Cirata. Air Lindi mengalir ke sungai Cilimus, Cimeta dan masuk ke Cirata.
Akibat pencemaran tersebut, terjadi proses mutasi genetika pada ekosistem yang berada di daerah aliran Sungai Citarum. Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan.
"Pemerintah belum berupaya seratus persen untuk bagaimana IPAL ini berfungsi dengan baik sehingga tidak mencemari lingkungan.Secara kasat mata walaupun tidak disurvei dan di uji lab memang dari air lindi itu cukup nampak," katanya.
"Pertama pemerintah belum serius untuk menangani dampak dari TPA Sarimukti. Berdampak juga pada kurang optimalnya IPAL yang ada," ujarnya.
Sebelumnya, segudang permasalahan sebagai akibat dari tidak maksimalnya Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Sarimukti, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat telah dirasakan masyarakat di Desa Sarimukti.
Tak cuma itu, air lindi dari TPA Sarimukti tersebut mencemari sungai-sungai besar mulai dari sungai Cimeta, sungai Citarum hingga Waduk Cirata. Termasuk membuat air sungai Cipanawuan, Ciganas dan Cipicung berwarna coklat pekat, berbusa dan mengeluarkan bau menyengat.
Hal itu disebabkan pipa pengeluaran air atau outlet instalasi pengolahan air limbah (IPAL) TPA Sarimukti masih memproduksi air lindi yang diduga merembas ke badan sungai.
Salah satunya seperti yang dirasakan Abah Sobirin, 67 tahun. Warga Kampung Cinagrog, Desa Sarimukti, Kecamatan Cipatat yang kerap menggarap ladang di sekitar TPA Sarimukti ini hampir setiap hari pulang pergi melewati sungai Ciganas dengan menahan bau.
"Bau cuma sudah terbiasa, karena hampir setiap hari kami melewati jalan pinggir sungai Ciganas dan airnya sejak lama memang warna cokelat pekat seperti ini. Mungkin disebabkan oleh limbah Sarimukti," kata Abah Sobirin belum lama ini.*** (agus satia negara)
Editor : Ahmad Sayuti
